Di sebuah perpustakaan batu tua di pinggir kota Eldermere, tempat jendela-jendela tinggi membiarkan cahaya musim gugur jatuh seperti debu emas, berdirilah rak-rak buku yang telah hidup lebih lama daripada manusia yang membacanya.
Saat lonceng gereja berdentang dua belas kali dan penjaga memadamkan lilin terakhir, buku-buku mulai berbicara.
“Aku ditulis untuk para raja,” kata Chronicles of the Crown, bersampul kulit rusa, suaranya berat dan angkuh.
“Namun kini aku dibuka oleh anak-anak yang tak paham pengorbanan.”
Di rak bawah, The Book of Verses menghela napas lembut.
“Aku berharap seseorang menangis saat membacaku. Tapi mereka hanya mengagumi rimanya.”
Di sudut tergelap, terbaring sebuah buku kecil berbalut kain beludru hitam. Judul emasnya nyaris pudar: The Forgotten Tale. Ia tak pernah bersuara, seolah takut mengganggu para bangsawan rak.
Hingga suatu senja, seorang gadis muda bernama Elena masuk ke perpustakaan. Mantel wolnya basah oleh hujan, matanya menyimpan kesedihan yang belum punya nama. Tangannya berhenti pada buku kecil itu.
Saat ia membukanya, angin berdesir pelan. Lilin di meja berkedip.
“Akhirnya…” bisik The Forgotten Tale, nyaris tak terdengar.
Setiap kata yang dibaca Elena menghidupkan kembali dunia di dalam buku: kastel runtuh, ksatria yang menunggu tanpa pulang, dan perempuan yang menulis surat cinta terakhirnya. Tokoh-tokoh itu bergerak, bernapas, dan mengingat siapa diri mereka.
“Apa yang dia miliki?” tanya Chronicles of the Crown dengan nada iri.
“Kesunyian,” jawab Book of Verses.
“Dan hati yang mau mendengarkan.”
Malam demi malam, Elena kembali. Ia membaca tanpa tergesa, seakan berbincang dengan jiwa yang lama terpenjara. Dan setiap malam, sampul beludru The Forgotten Tale berkilau lebih terang.
Pada malam terakhir musim gugur, Elena menutup buku itu dengan senyum sendu.
“Kau menyelamatkanku,” katanya pelan.
Jika buku bisa menjawab dengan suara manusia, The Forgotten Tale akan berkata:
“Tidak, anakku. Kau yang menyelamatkanku.”
Ketika Elena pergi, buku itu kembali diam. Namun kini ia tak lagi sepi. Ia tahu, di dunia manusia yang singkat dan rapuh, selalu ada seseorang yang ditakdirkan untuk mendengarkan.
Dan di perpustakaan Eldermere, buku-buku terus menunggu—
karena andai buku bisa berbicara,
mereka hanya ingin satu hal:
dibaca dengan jiwa.
Tamat.