Pada masa ketika sawah masih berbicara kepada angin dan hewan mengerti bahasa janji, hiduplah Ular Sawijining di pematang dan Tikus Cilik di lumbung padi desa.
Ular besar dan kuat, namun kelaparan sering datang. Tikus kecil dan lincah, namun hidupnya selalu dibayangi ketakutan.
Suatu malam, saat bulan pucat menggantung rendah, Ular menangkap Tikus di dekat lumbung. Lilitan dingin melingkari tubuh kecil itu.
“Habislah aku,” gemetar Tikus.
Namun Ular tak langsung menggigit.
“Aku lelah mengejarmu. Mari kita buat perjanjian.”
Tikus terkejut.
“Perjanjian apa antara pemangsa dan mangsa?”
Ular menurunkan lilitannya sedikit.
“Kau bawakan aku makanan dari lumbung—telur, sisa daging, apa saja. Sebagai gantinya, aku takkan memangsa tikus desa.”
Dengan suara bergetar, Tikus menyetujui.
Darahnya menetes di tanah sebagai tanda janji. Angin malam menyaksikan.
Sejak itu, tikus-tikus hidup tenang. Tak ada lagi jeritan di malam hari. Ular pun tak kelaparan. Namun lama-kelamaan, Tikus Cilik merasa berat. Ia mencuri bukan hanya sisa, tapi juga yang masih layak. Lumbung mulai kosong. Manusia marah dan memasang jebakan.
Tikus mendatangi Ular.
“Perjanjian ini akan membunuhku. Hentikanlah.”
Ular mengangkat kepalanya.
“Janji adalah janji.”
Suatu malam, Tikus membawa makanan terakhir. Namun sebelum menyerahkannya, ia menggigit tubuh Ular, meracuni dengan bisa dari biji beracun yang dikunyahnya.
Ular mengerang.
“Kau mengkhianati perjanjian!”
Tikus menangis.
“Aku hanya ingin hidup.”
Ular mati menjelang fajar. Sejak hari itu, ular kembali memangsa tikus tanpa perjanjian. Tikus pun hidup dalam ketakutan selamanya.
Orang-orang tua desa berkata:
Perjanjian yang lahir dari ketakutan takkan berumur panjang.
Dan janji antara yang kuat dan yang lemah selalu menuntut korban.
Tamat.