"Cuit... cuit... cuit...."
Seekor burung kecil hinggap di jendela Yohan, cowok kelas tiga SMA yang sedang menanti hari kelulusan. Tampaknya burung itu terluka, sayapnya berdarah. Sepertinya ia terkena tembakan pemburu.
Yohan memungut burung itu dan mulai mengobatinya. Perlahan diusapnya bulu-bulu putih dengan bercak-bercak merah burung yang tampak kesakitan itu dengan cairan obat.
"Burung kecil... kamu tinggal di sini dulu, ya. Aku akan merawatmu sampai kamu sembuh." Yohan meletakkannya di atas meja. Dan dia mencari sangkar di gudang. Untung masih ada sangkar bekas burung yang telah hilang.
Senja mulai menggelayuti mega. Berarakan jingga mengusut biru muda yang mengundang temaram rembulan. Yohan meraih buku-buku pelajarannya dan mulai mengulang pelajaran siang hari tadi.
___
Sudah lima hari burung kecil itu dalam perawatan Yohan. Keadaannya mulai membaik. Yohan pun berniat untuk melepaskannya kembali. Membawa sangkar berisi burung itu ke tepi jendela.
"Burung kecil... sepertinya kamu sudah sembuh. Waktunya kamu untuk terbang kembali ke keluargamu. Mudah-mudahan kamu bisa bertemu mereka lagi."
Dibukanya sangkar burung itu. Namun burung itu tak mau pergi.
"Kenapa kamu tak mau terbang? Bukankah lukamu telah sembuh? Terbanglah. Mungkin keluargamu sedang mencarimu. Pasti mereka bingung dan sedih karena kamu belum pulang juga. Pulanglah."
"Cuit... cuit... cuit...."
Burung itu hanya bercicit. Mungkin dia tak mau pergi karena dia pun telah kehilangan seluruh anggota keluarganya.
___
Tiga bulan berlalu. Burung kecil itu telah tumbuh lebih besar. Yohan telah merawat dan menyayanginya. Setiap pulang sekolah, diajaknya burung itu menikmati langit sore di halaman rumah. Dilepaskannya dari sangkarnya. Dia terbang mengitari rumah, dan kembali masuk ke dalam sangkar. Tak sekali pun ia berusaha terbang jauh.
Yohan senang karena punya teman bercengkrama. Ibunya pun senang melihat Yohan bahagia. Sudah lama ibunya tak melihat Yohan segembira itu. Ibunya pun menghampiri Yohan.
"Yohan, Sayang..." panggil ibunya.
"Ya, Bu," sahut Yohan.
"Lama ibu tak melihat kamu seceria ini. Apakah karena burung kecil ini?"
"Iya, Bu. Sejak kedatangan burung ini, entah mengapa, aku merasa bebanku selama ini seolah menghilang. Aku tak lagi menangis karena kepergian Ayah. Aku merasa bahwa aku harus merelakannya. Mungkin itu jalan terbaik yang bisa Ayah tempuh." Yohan meraih tangan ibunya.
"Meski pun sakit rasanya hati ini dengan keputusan Ayah dan Ibu. Tapi burung ini menyadarkanku. Bahwa kepergian Ayah pasti ada alasannya. Mungkin saja Ayah menemukan sesuatu yang membuatnya lebih bahagia di sana," lanjut Yohan.
"Sudahlah, Nak. Ibu tahu perasaanmu. Memang sudah seharusnya kita merelakannya. Pasti dia telah bahagia dengan jalan hidup yang dia pilih. Kita tidak bisa mencegahnya. Ini kehendak dari Yang Kuasa. Kita tak tahu apa yang lebih membahagiakan untuknya. Mungkin karena itu dia meninggalkan kita." Ibu Yohan menyeka butiran bening yang tanpa permisi melintasi pipinya.
"Sebenarnya aku selalu berharap Ayah kembali kepada kita, Bu. Aku sangat merindukannya." Yohan memeluk ibunya.
"Ibu juga merindukannya, Nak." Ibunya membalas pelukan Yohan dengan menepuk-nepuk punggungnya pelan.
Tanpa mereka sadari, ada telinga kecil yang mendengarkan dari balik sangkar.
___
Malam mulai menyelimuti bumi. Yohan meraih sangkar burung di jendela. Dikeluarkannya burung itu.
"Burung kecil, kau ku panggil apa, ya agar kita lebih dekat? Bagaimana kalau... Weiß? Putih dalam Bahasa Jerman. Karena bulumu, kan putih." Yohan bergumam sambil mengusap lembut bulu putih Weiß, nama pemberian Yohan.
Tiba-tiba saja burung itu memendarkan cahaya. Yohan terperanjat. Mulutnya menganga, matanya terbelalak. Dan burung itu pun berganti rupa menjadi sosok gadis cantik di hadapannya.
"Ka... Kamu, Kamu siapa?!" pekik Yohan terbata-bata.
***
"Jangan takut, aku Weiß," jawab gadis jelmaan burung itu.
"W... Weiß? Weiß burung kecilku?"
"Iya. Aku Weiß. Burung yang sudah kamu tolong."
"Bagaimana bisa jadi gadis secantik kamu?" Yohan mulai bisa mengatur nafasnya.
"Sebenarnya aku adalah peri yang lari dari kejaran pemburu. Karena aku sedang dalam wujud burung, para pemburu itu berhasil menembakku hingga aku terluka. Jadi aku terus terbang dan terjatuh di jendelamu."
"Lalu, kenapa kamu tidak pulang setelah sembuh?"
"Karena aku harus membalas budimu."
"Lalu bagaimana caramu membalasnya? Apakah kamu akan mengabulkan tiga permintaanku?"
"Hahaha! Bukan. Aku bukan jin lampu ajaib. Aku hanya peri burung. Jadi aku hanya bisa membantumu mencari jalan untuk mewujudkan impianmu. Dan aku tinggal untuk mempelajari impianmu."
"Mewujudkan impianku? Mustahil impianku akan terwujud."
"Aku tahu apa yang kamu impikan selama ini. Dan aku akan membantumu." Weiß menjentikkan jarinya.
"Apa yang kamu ketahui?" Yohan mengernyitkan dahi.
"Kamu ingin ayahmu kembali, kan? Aku bisa menyampaikan pesanmu padanya agar dia kembali. Aku akan mencarinya sekarang juga," jawab Weiß bersemangat. Ia berubah menjadi burung dan hendak terbang, namun Yohan mencegahnya.
"Jangan lakukan itu." Weiß berubah menjadi seorang gadis lagi.
"Mengapa?" tanyanya.
"Aku sudah tidak mengharapkannya kembali lagi. Aku telah merelakannya setelah menyadari keputusannya meninggalkan kami. Aku tidak mau dia kembali karena kamu yang memintanya datang. Aku hanya ingin dia kembali karena dia merindukan kami. Bukan karena pesanmu yang memintanya datang," jawab Yohan.
"Bukan begitu maksudku. Aku hanya ingin-"
"Sudahlah. Kamu sudah banyak membantuku. Kehadiranmu saja sudah membantuku mendapatkan kembali perasaan bahagia yang telah lama tidak ku rasakan. Aku ingin berterima kasih kepada mu. Anggap saja tugasmu sudah selesai. Kamu tidak perlu merasa berhutang budi padaku lagi. Kamu sudah membantuku menemukan kembali kebahagiaanku. Sekarang kamu bisa kembali pada keluargamu."
"Tapi aku merasa sudah berada di antara keluargaku, Yohan," Weiß berujar sambil memalingkan wajahnya.
"Apa maksudmu?"
"Aku... Aku mencintaimu, Yohan. Sejak kamu menolongku, aku telah jatuh hati padamu. Aku ingin hidup bersamamu." Weiß berusaha menyembunyikan rona merah di wajahnya.
"Tapi... Kita tidak bisa," sahut Yohan.
"Apakah kamu tidak bisa mencintaiku?" Mata Weiß berkaca-kaca.
"Bukan maksudku menyakiti perasaanmu. Tapi bukankah kita berbeda. Kamu peri dan aku manusia. Mungkinkah kita bisa bersama seandainya aku juga mencintaimu?" Yohan mengusap bulir bening di pipi Weiß.
"Apakah karena sayap ini? Aku akan mematahkannya untukmu. Agar aku bisa bersamamu dalam duniamu. Agar aku menjadi manusia."
Tanpa menunggu persetujuan Yohan, "KREKK!" Weiß mematahkan sayapnya.
"Jangan!!" pekik Yohan. Namun sudah terlambat. Weiß telah kehilangan sayap dan kemampuannya sebagai peri. Dia telah menjadi manusia biasa demi mengharapkan cinta Yohan.
"Sekarang kita sama," bisik Weiß.
Mereka saling menatap dalam keheningan. Getaran halus melanda relung jiwa Yohan. Bibirnya terkatup untuk beberapa saat. Mustahil Yohan tidak tertarik dengan visual Weiß yang sempurna. Hingga tanpa sadar meluncur kata-kata dari mulutnya, "Aku juga mencintaimu."
Weiß merekahkan senyumnya, merona merah wajah putihnya.
"Tapi..." kata Yohan lagi.
"Apa lagi?" tanya Weiß.
"Sepertinya aku harus mencari sangkar yang lebih besar. Sangkar kecil itu pasti sudah tidak muat untuk tubuhmu yang besar ini," jawab Yohan berkelakar.
"Sekarang tidurlah di ranjangku. Aku akan keluar. Besok baru kita cari sangkar yang lebih besar."
"Hahaha... Aku sudah bukan burung lagi. Untuk apa mencari sangkar?"
"Ah, ya, aku lupa." Yohan menggaruk kepalanya.
"Terima kasih atas kebaikanmu," kata Weiß.
"Sama-sama," timpal Yohan.
Weiß mendaratkan kecupan di pipi Yohan. Yohan tersipu dan buru-buru keluar dari kamar. Di tengah pintu Yohan berhenti dan menoleh karena Weiß berteriak, "Aku suka namaku, Yohan!"
"Iya." Yohan tersenyum dan melangkah ke ruang tamu.
Mereka pun terlelap dalam buaian mimpi masing-masing. Bulan memeluk bintang dalam pekat malam. Sang Surya enggan menampakkan cahayanya segera. Heningnya kelembutan cinta dalam buaian mega.
***
[Wanita rela mematahkan sayapnya untuk ikut pria yang dicintainya. Namun, ia terkurung dalam sangkar emas. Pikirkanlah dahulu sebelum kau mematahkan sayap kebebasanmu.]