Namaku tercatat sebagai manusia biasa. Itu penting. Bukan karena aku bangga, tapi karena seluruh masalah dalam hidupku dimulai saat semesta salah mengarsipkanku sebagai "aset strategis temporal tingkat menengah". Padahal aku cuma pegawai kontrak di Departemen Arsip Kronologis, bagian yang tugasnya menyortir laporan perjalanan waktu yang gagal, lalu memberi stempel tidak perlu ditindaklanjuti.
Pekerjaan itu membosankan, tapi aman. Atau setidaknya begitu sebelum aku tanpa sengaja mengisi formulir yang salah.
Hari itu aku lembur. Otak lelah. Kopi dingin. Sistem birokrasi antar-waktu punya aturan sederhana... jangan pernah mencentang kotak yang tidak kamu pahami. Aku melanggarnya. Ada satu kolom bertuliskan "Kesediaan menjadi subjek uji jika dibutuhkan". Aku pikir itu formalitas. Aku centang. Tamat.
Pagi berikutnya, aku bangun di ruang putih tanpa jendela, tanpa jam, tanpa pintu yang jelas. Sebuah suara otomatis menyapaku dengan nada ceria yang berlebihan.
"Selamat. Anda terpilih."
Aku langsung tahu hidupku masuk fase yang tidak bisa dibatalkan.
Suara itu menjelaskan panjang lebar bahwa terjadi kelebihan mesin waktu. Terlalu banyak alat, terlalu sedikit relawan. Biasanya dipakai penjelajah profesional. Tapi anggaran dipotong. Jadi sekarang, siapa pun yang "bersedia" bisa dipakai.
Aku protes. Aku bilang ini salah. Aku bilang aku hanya salah klik. Sistem mencatat semua itu sebagai "reaksi emosional standar".
Mesin waktu itu tidak seperti di film. Tidak ada kilatan cahaya atau putaran dramatis. Bentuknya seperti lemari arsip besar yang kehilangan kepercayaan diri. Ada satu tombol besar bertuliskan mulai. Aku berdiri di depannya sambil berpikir, kalau aku tidak menekan tombol itu, mungkin aku bisa pulang.
Ternyata tidak.
Lantai bergeser. Dunia melipat dirinya sendiri. Rasanya seperti bersin tapi di seluruh tubuh. Lalu aku berdiri di tempat yang sama, masih di ruangan putih. Bedanya, di dinding ada tulisan besar "Percobaan ke-1 gagal secara aman."
Aku masih hidup. Itu kabar baik. Tapi aku terjebak dalam sistem uji coba yang menjadikanku variabel hidup. Mesin waktu ini tidak mengirimku ke masa lalu atau masa depan. Ia mengirimku ke versi administratif semesta yang sedikit berbeda. Dunia yang sama, tapi dengan kesalahan kecil yang mengganggu.
Percobaan kedua, aku kembali ke apartemenku. Semuanya normal sampai aku membuka kulkas. Isinya penuh wortel. Hanya wortel. Tidak pernah aku beli sebanyak itu. Bahkan aku tidak suka wortel. Di meja ada surat tagihan dari pemerintah dengan judul: Pajak Kepemilikan Wortel Berlebih.
Aku sadar setiap lompatan mengubah satu hal remeh, tapi dampaknya menjalar seperti gosip.
Percobaan ketiga, bahasa berubah sedikit. Semua orang masih bicara bahasa yang kupahami, tapi beberapa kata diganti tanpa alasan. Kata "terima kasih" menjadi "sudah diduga". Setiap orang mengucapkannya dengan wajah serius. Aku mencoba menyesuaikan diri. Tiga jam kemudian, aku kelelahan secara mental.
Aku mulai lelah. Mesin waktu tidak peduli. Sistem menganggap kelelahan sebagai data.
Aku mengisi laporan tentang diriku sendiri. Subjek uji menunjukkan tanda frustrasi. Subjek uji mulai berbicara sendiri. Subjek uji mempertanyakan hidupnya. Semua diberi status masih dalam batas wajar.
Percobaan kelima adalah titik balik. Dunia itu hampir sama persis, kecuali satu hal. Semua orang sangat efisien. Tidak ada basa-basi. Tidak ada humor. Tidak ada jeda canggung. Antrean bergerak cepat. Rapat selesai tepat waktu. Aku seharusnya senang.
Aku tidak.
Dunia tanpa ketidakefisienan terasa dingin. Aku merindukan kesalahan kecil. Aku merindukan orang salah ucap. Aku merindukan dunia yang sedikit berantakan.
Aku kembali ke ruang putih dan akhirnya berteriak. Bukan marah. Lebih ke capek total. Suara otomatis terdiam selama beberapa detik. Lalu muncul pesan baru di dinding.
"Permintaan evaluasi diri diterima."
Aku tidak tahu itu pilihan yang ada.
Sistem memintaku menjelaskan kenapa aku tidak cocok sebagai subjek uji. Aku jelaskan jujur. Aku bukan penjelajah. Aku bukan ilmuwan. Aku hanya orang yang ingin hidup normal tanpa memicu perubahan realitas karena salah isi formulir.
Untuk pertama kalinya, sistem tidak langsung merespons.
Lalu muncul kesimpulan "Subjek terlalu sadar akan absurditas sistem. Efek samping tidak diinginkan."
Aku diklasifikasikan ulang. Dari "aset strategis" menjadi "gangguan konseptual ringan".
Mesin waktu dimatikan. Aku dipulangkan ke garis waktu awalku.
Aku bangun di apartemen, di kasur, dengan alarm berbunyi. Semuanya normal. Kulkas kembali berisi makanan seadanya. Tidak ada pajak wortel. Tidak ada suara otomatis.
Di mejaku ada satu memo kecil. Tulisan cetak, tanpa pengirim.
"Jika diminta menjadi relawan lagi, tolong baca dengan teliti."
Aku kembali bekerja di arsip. Aku sekarang membaca setiap formulir tiga kali. Aku tidak lembur. Aku tidak minum kopi berlebihan. Aku hidup sangat hati-hati.
Kadang aku berpikir tentang semua versi dunia itu. Tentang betapa mudahnya realitas berubah hanya karena sistem ingin efisien. Aku tidak jadi pahlawan. Aku tidak menyelamatkan siapa pun. Aku hanya bertahan sampai sistem menyerah.
Dan jujur saja, itu sudah cukup.
Karena jika semesta saja bisa salah arsip, aku tidak merasa terlalu buruk tentang hidupku yang berantakan.