Di ujung kota kecil Arumjati, ada sebuah lorong sempit yang jarang dilewati orang. Lorong itu selalu sunyi, bahkan pada siang hari. Di sana berdiri sebuah rumah tua dengan satu benda yang paling mencolok: jam dinding besar yang selalu berdetak, meski rumah itu sudah lama ditinggalkan.
Raka, siswa SMA yang gemar memecahkan teka-teki, sering melewati lorong itu sepulang sekolah. Suatu sore, ia menyadari sesuatu yang aneh. Jam di rumah tua itu selalu menunjukkan pukul 18.40, tidak pernah berubah.
Rasa penasarannya memuncak ketika seorang pedagang tua berkata,
“Jam itu berhenti sejak pemilik rumah menghilang… pada pukul 18.40.”
Malamnya, Raka kembali ke lorong itu. Saat ia mendekat, pintu rumah tua tiba-tiba terbuka perlahan. Debu beterbangan, dan suara detak… detak… terdengar semakin keras.
Di dalam, Raka menemukan foto-foto lama. Salah satunya memperlihatkan seorang pria berdiri di depan jam dinding—wajahnya sangat mirip dengan Raka. Di belakang foto tertulis satu kalimat:
“Jika jam ini berdetak lagi, kebenaran akan terungkap.”
Tiba-tiba, jam itu bergerak. Jarumnya berputar pelan, melewati angka 18.40. Seketika, sebuah laci terbuka, memperlihatkan buku harian.
Dari buku itu, Raka mengetahui bahwa pria tersebut adalah kakeknya, seorang penjaga waktu kota yang menghilang demi menyembunyikan rahasia besar: sebuah kesalahan masa lalu yang hampir menghancurkan Arumjati.
Saat Raka keluar dari rumah itu, jam berhenti berdetak. Rumah tua itu terlihat biasa saja—seolah tak pernah ada misteri di dalamnya.
Keesokan harinya, lorong belakang tetap sunyi. Namun jam dinding itu kini menunjukkan waktu yang benar.
Dan Raka sadar, beberapa misteri tidak ingin dikenang… hanya ingin diselesaikan.