Bersama gema ombak. Rahasianya terungkap di antara yang tersembunyi dan abadi.
Birumu adalah bait dari jiwaku.
Aku telah mencoba melarikan diri dari waktu, namun aroma dan rasa asin yang menyentuh bibirku. Menarik ku kembali pada bibir pantai. Kucoba berenang dan mendalami makna. Aku tersesat di antara ombak kerinduan yang mengikat, menenggelamkan suaraku lebih dalam, seolah duniaku terbentang di sana.
Dalam desahan samar kerinduan, ku ceritakan pada buih yang lembut. Aku tidak ingin tenggelam, dalam gumaman garam. Aku ingin kita berenang dengan tenang, hingga berpijak di pasir pantai keemasan dengan hati yang damai.
Kita duduk di tepi pantai, menceritakan sebuah kisah yang telah meluap dari halaman-halaman sebuah buku. Beberapa cerita tidak berakhir dalam halaman belakang. Mereka melunak menjadi kelopak bunga. Belajar bernapas di antara kalimat.
Kita sampai pada sebuah rangkuman paragraf, dimana cahaya bulan lupa cara menyakiti. Lalu ingatan mengingatkan bagaimana caranya untuk mekar kembali.
Biarkan namaku terukir di ombak. Bisu, tersembunyi, dan diabadikan. Biarlah hal itu terungkap dalam melodi yang tenang.
Yang dibawa oleh kerang-kerang, dalam pasang surutnya laut yang tak terduga.
Dari kerang yang menyimpan melodi kita, aku menemukan jiwamu menyebut namaku. Kita tidak harus tenggelam, kita bisa menjadi jati diri sendiri.
Kata-kata bukan sekedar bunyi atau simbol... Kata-kata adalah keputusan.
Setiap kalimat yang kita pilih mengandung maksud, bobot dan konsekuensi. Kebenaran yang sama dapat menyembuhkan atau menyakiti tergantung bagaimana penyampaiannya. Pesan yang sama dapat membuka hati atau memperkeras tembok hati.
Ini penyerahan hati yang diucapkan dengan lirih, bukan pertanyaan yang absurd. Bukan pula pernyataan yang tidak mempertimbangkan konsekuensi.
Aku peduli padamu.
Itu sudah cukup menjadi batas yang tidak bisa disangkal. Walau hati seringkali berdetak lebih berantakan dari biasanya saat namamu terlintas dalam angan,setiap kali angin berhembus membisikkan rindu... Aku takut melangkah lebih melewati batas dari satu kalimat itu.
Aku berdiri menggenggam hati, seperti laut mencintai malam. Tidak ada pertanyaan, selain gravitasi. Aku mengikuti rasa ini seperti pasang surut mengikuti keberadaan bulan. Namamu bagai cahaya lilin di mulutku
Setiap mengucapkannya, kegelapan pun mereda.
Kekasih hati, yang menunjukkan jiwaku pada hakikat 'Alif' (Tauhid), hari ini aku ingin menuliskan sebuah mimpi tentangmu.
Aku bermimpi… kepalamu di atas pangkuanku. Biarkan dunia berjalan atau hancur. Suasana lembut seperti kabut di sekeliling kita.
Aku membaca puisi…
Rumi? Prévert? Mahmoud Darwis Apollinaire? Para pujangga idolaku. Kamu hanya mendengar suaraku —dan itu menjadi denyut dan irama di jantungmu.
Jari-jari ku menyusuri rambutmu
lembut, perlahan dan hati-hati... menelusuri lekukan yang tidak pernah kamu tahu ada. Sampai sentuhanku memetakannya. Setiap pelukan adalah kompas bagi tubuhmu sendiri.
Aku melihat ke dalam matamu..
Gelap, namun bercahaya, Hilang dan ditemukan dalam tarikan napas yang sama.
Suara kita saling bersambut, menyelimuti... Saat puisi, Rumi dan Prévert kita bacakan... Tentang getaran, percikan, kesan mendalam yang membakar lama setelah suara itu mereda.
Waktu melambat, menebal, napas kita adalah satu-satunya penunjuk waktu. Setiap sentuhan tangan mengajarkan kesabaran, setiap bisikan mengingatkan saya, bahwa keintiman adalah pengorbanan yang tenang, dua jiwa yang saling mengenali tanpa berbicara, tanpa tergesa-gesa.
Ini adalah rasa... Tidak berisik, tidak menuntut, tetapi lembut penuh pertimbangan, tak terbatas. Api dalam ketenangan, keagungan kehadiran, keinginan menemukan bentuknya sendiri, dalam sentuhan, dalam tatapan, dalam suara.
Aku hanya bermimpi… Kemudian, sebenarnya menyadari,
cinta ini… ditemukan dan dihancurkan pada saat yang sama, mengapung dan tenggelam dalam kehangatan, hidup sepenuhnya dalam daya tarik sebuah kata, sebuah hembusan napas.
Alif : Simbol Ketauhidan (cerpen selanjutnya)
S e k i a n