Gunung itu masih berstatus aktif, tapi jalur pendakiannya dibuka kembali sejak tiga bulan lalu. Papan peringatan berdiri di pos terakhir:
“Dilarang mendekati kawah setelah pukul 16.00.”
Kami berlima mengabaikannya.
Sore itu kabut turun lebih cepat dari biasanya. Langkah kami makin berat saat aroma belerang menusuk hidung. Setiap napas terasa panas, seolah gunung sedang bernapas bersama kami.
“Dengar nggak?” bisik Raka.
Aku berhenti. Dari arah kawah terdengar suara langkah—pelan, teratur—padahal seharusnya tak ada siapa pun. Jalur itu sudah kami lewati sejak tadi, dan kami yakin tak ada pendaki lain.
Saat matahari tenggelam, asap tipis naik dari kawah, membentuk siluet seperti sosok manusia. Diam. Menghadap ke arah kami.
“Mas… ayo turun,” ucap Dina gemetar.
Namun kaki Raka justru melangkah maju. Wajahnya kosong, seperti mendengar panggilan yang tak kami dengar. Aku menarik ranselnya sekuat tenaga.
Tiba-tiba tanah bergetar kecil. Bukan gempa—lebih seperti denyut. Dum… dum…
Suara itu berasal dari bawah kaki kami.
Dari balik kabut, terdengar bisikan lirih:
“Ganti… satu…”
Kami berlari tanpa menoleh. Jalur yang tadi jelas mendadak bercabang-banyak. Penunjuk arah hilang. Kompas berputar tak karuan. Setiap kali kami berhenti, aroma belerang makin pekat, dan suara langkah itu kembali—kini lebih dekat.
Di pos terakhir, kami terjatuh ke lantai kayu. Lampu menyala. Sunyi.
Penjaga pos menatap kami satu per satu, lalu berhenti di Raka.
“Kalian berempat saja?” tanyanya pelan.
Aku menoleh. Raka berdiri di sampingku… tapi wajahnya pucat, dingin, dan matanya menatap ke kawah, bukan ke kami.
Penjaga pos menggeleng.
“Yang barusan lewat tadi sore… sudah turun. Sendirian.”
Di luar, asap kawah mengepul lebih tebal. Dan dari arah gunung, terdengar satu langkah terakhir—berhenti tepat di depan pintu pos.