---
Ending Final Cerpen
Judul: Suara Yg menemani Diam (final)
Tempat yang Tidak Pergi
Hello, Reader—
kalau kamu sampai di sini,
berarti kamu sudah ikut duduk bersama mereka.
Happy reading 🤍
---
Malam datang tanpa banyak suara.
Lampu jalan menyala satu per satu, memantulkan cahaya kuning di aspal yang masih hangat oleh sisa siang. Mereka bertiga berjalan berdampingan, tidak saling menyentuh, tapi cukup dekat untuk tahu—tidak ada yang tertinggal.
Rosetta berjalan paling tenang.
Aretha paling waspada.
Naira paling hidup.
“Aneh ya,” kata Naira sambil menendang kerikil kecil, “biasanya aku capek kalau diem. Tapi hari ini… enak.”
Aretha meliriknya. “Itu namanya merasa aman.”
Rosetta berhenti melangkah. Menatap dua orang di hadapannya.
“Aku tidak pandai janji,” katanya. “Aku masih akan diam. Aku masih bisa pergi kalau terlalu berat.”
Naira mengangguk. “Aku masih akan berisik.”
Aretha menyeringai. “Aku masih akan sarkas.”
Rosetta menghela napas kecil. “Tapi aku akan kembali.”
Kalimat itu sederhana. Tapi cukup.
Naira tersenyum lebar. Tidak memeluk. Tidak berteriak. Hanya berdiri di sana, matanya sedikit basah. “Itu aja udah lebih dari cukup.”
Aretha mengangguk pelan. “Tinggal itu pilihan. Dan kamu milih.”
Mereka duduk di bangku halte yang sepi. Tidak ada bus datang. Tidak ada tujuan yang harus dicapai. Hanya jeda.
Rosetta menatap langit. Tidak ada bintang malam itu, tapi ia tidak merasa kehilangan.
Untuk pertama kalinya, ia mengerti—
pulang bukan tentang tempat,
tapi tentang siapa yang menunggu meski kita diam.
Aretha menyandarkan punggung, tangan di saku. “Kalau dunia nanti nyebelin lagi…”
Naira menyambung, “Kita ributin bareng.”
Rosetta tersenyum kecil. Nyaris tak terlihat. Tapi nyata.
Malam terus berjalan.
Dan untuk pertama kalinya,
tidak ada yang takut ditinggal.
---
Beberapa orang tidak datang untuk menyembuhkan.
Mereka datang untuk tinggal.
Dan itu sudah cukup.
TAMAT 🤍
---
✍️ Catatan Penulis (Akhir)
Cerita ini tidak berakhir dengan perubahan besar. Karena tidak semua orang perlu berubah untuk layak dicintai. Kadang, yang kita butuhkan hanya ruang untuk tetap menjadi diri sendiri—dan seseorang yang tidak pergi saat kita diam, tajam, atau terlalu ramai.
❓ Pertanyaan Terakhir untuk Pembaca:
1. Siapa “tempat yang tidak pergi” dalam hidupmu?
2. Versi dirimu yang mana yang paling sering kamu sembunyikan?
3. Kalau kamu boleh memilih, apakah kamu ingin diperbaiki… atau ditemani?
---
Terimakasih reader sudah membaca bab ini
Sampai nanti di karya ku selanjutnya 🎀 ✨