Judul ch:Suara yg menemani Diam (3)
---
Lanjutan Cerpen darii
Suara yg menemani Diam (2)
Sudut Pandang: Naira
Hello, Reader—
kali ini ceritanya datang dari suara paling keras,
yang ternyata menyimpan ketakutan paling sunyi.
Happy reading 🤍
---
Aku sering dikira tidak pernah serius.
Katanya aku terlalu ramai, terlalu cerewet, terlalu hidup—seolah aku tidak punya ruang untuk sedih. Orang-orang tidak tahu, justru karena itulah aku bicara. Kalau aku berhenti, pikiranku akan berisik. Kalau aku diam, dadaku terasa kosong.
Rosetta berjalan di depanku. Aretha di sampingku. Mereka tidak bicara banyak hari ini.
Aneh.
Biasanya aku yang mengisi semua celah.
Aku melirik Rosetta. Wajahnya tenang seperti permukaan danau, tapi aku tahu—danau yang tenang biasanya paling dalam. Aku ingin bertanya. Aku selalu ingin bertanya. Tapi untuk pertama kalinya, aku takut suaraku akan merusak sesuatu.
“Ros,” panggilku akhirnya, pelan.
Dia menoleh. “Hm?”
“Kalau aku berisik… kamu terganggu nggak?”
Pertanyaan bodoh. Aku tahu. Tapi aku tetap butuh jawabannya.
Rosetta berpikir sebentar. Lama. Lalu berkata, “Kadang.”
Aku tersenyum. Biasa. Terlatih. “Hehe, iya sih. Aku emang—”
“Tapi,” lanjutnya, “kalau kamu diam… aku malah khawatir.”
Kalimat itu membuat langkahku terhenti.
Aku menunduk. Jari-jariku menggenggam tali tas. Tenggorokanku terasa aneh.
Aretha memperlambat langkah, tidak menyela.
“Kamu tahu,” kataku akhirnya, suaraku lebih kecil dari biasanya, “aku dulu sering ditinggal.”
Mereka berhenti berjalan.
Aku menatap trotoar. Garis-garisnya kabur.
“Kalau aku nggak ribut, nggak ada yang nyari. Kalau aku nggak ketawa, orang-orang lupa aku ada. Jadi aku belajar satu hal—selama aku bersuara, aku masih di sini.”
Sunyi.
Sunyi yang tidak menakutkan.
Rosetta mendekat satu langkah. “Kamu tidak perlu berisik supaya dianggap ada.”
Aku tertawa kecil. Rapuh. “Aku tahu itu sekarang. Tapi aku kecil dulu… nggak tahu.”
Aretha berdeham pelan. “Anak kecil nggak seharusnya tahu cara bertahan sendirian.”
Aku mengangguk. Air mata jatuh, satu. Tidak dramatis. Tidak tersedu. Tapi nyata.
“Maaf kalau aku capekkan,” kataku. “Aku cuma takut kehilangan.”
Rosetta memelukku.
Tanpa kata. Tanpa peringatan.
Aku terkejut. Lalu menangis.
Bukan tangis keras. Tapi tangis yang sudah lama ditahan.
Aretha berdiri di samping kami, kikuk. Lalu menepuk bahuku pelan. Satu kali. Canggung. Tapi tulus.
“Kita bertiga aneh,” gumamnya.
Aku tertawa di sela tangis. “Iya.”
Rosetta mengangguk. “Tapi kita tinggal.”
Dan untuk pertama kalinya, inner child-ku—
anak kecil yang selalu takut ditinggal—
percaya pada kalimat itu.
---
Ada suara yang keras karena takut sunyi.
Dan ada sunyi yang akhirnya terasa aman—
karena tidak sendiri.
TBC, Reader 🌙
---
✍️ Catatan Penulis (POV Naira)
Naira mengajarkan bahwa keceriaan sering kali bukan tanda bahagia, melainkan cara bertahan. Inner child yang terluka tidak butuh disuruh diam—ia butuh diyakinkan bahwa ia tidak akan ditinggalkan.
❓ Pertanyaan untuk Pembaca:
1. Apakah kamu pernah merasa harus “ramai” supaya tidak ditinggalkan?
2. Bagian mana dari inner child-mu yang masih kamu lindungi?
3. Siapa yang membuatmu merasa aman untuk diam?
---
Sampai ketemu di chapter
Suara yg menemani Diam (4)