Pagi itu, kabut masih menggantung ketika Arga, Nara, dan Bima berdiri di tepi Hutan Larangan. Konon, hutan itu tak pernah benar-benar menolak orang—ia hanya menguji siapa yang berani melangkah dan siapa yang menyerah.
“Kita hanya mencari batu bercahaya, lalu pulang,” kata Arga, mencoba terdengar yakin.
Batu itu bukan sekadar legenda. Kakek Nara pernah melihatnya saat muda—sebuah cahaya biru lembut yang muncul di dasar lembah, dipercaya bisa menunjukkan jalan pulang bagi orang yang tersesat.
Mereka masuk. Hutan menyambut dengan sunyi yang rapat. Daun-daun basah berkilau, dan akar-akar besar melintang seperti jebakan. Tak lama, suara sungai terdengar—tanda mereka berada di jalur yang benar.
Namun tiba-tiba, kabut menebal.
“Arga?” panggil Bima.
Tak ada jawaban.
Nara menggenggam kompas. Jarumnya berputar tak tentu arah. “Ini aneh…”
Saat itu, di antara pepohonan, cahaya biru berdenyut pelan. Mereka mengikutinya menuruni lembah, hingga tiba di sebuah batu besar yang memancarkan sinar hangat. Di sekitarnya, ukiran tua membentuk peta sederhana—jalur keluar dari hutan.
“Ini dia,” bisik Arga, muncul dari balik semak. “Aku tersesat sebentar, tapi cahaya ini membawaku kembali.”
Mereka menyalin peta, lalu cahaya perlahan meredup, seolah tugasnya selesai. Dengan peta itu, mereka menembus hutan—menyebrangi sungai, memanjat lereng licin, dan saling membantu saat lelah.
Menjelang senja, mereka keluar dari hutan. Matahari jatuh ke barat, dan desa terlihat di kejauhan.
Bima tertawa lega. “Ternyata bukan batunya yang ajaib.”
Nara mengangguk. “Tapi keberanian kita untuk terus melangkah.”
Arga menatap hutan sekali lagi. Jejak mereka akan hilang, tapi pelajaran hari itu akan tinggal:
petualangan sejati bukan tentang apa yang ditemukan, melainkan tentang siapa kita saat kembali.