Pagi itu, namaku masih tertempel di pojok kanan meja kelas XI-IPS 3. Bumi, itulah aku. Seorang remaja yang lebih suka menghabiskan waktu dengan mencoret-coret pinggiran buku paket sosiologi daripada memperhatikan penjelasan tentang struktur sosial. Aku bukan murid teladan, tapi aku tahu cara menikmati hidup di balik gedung sekolah yang catnya mulai mengelupas ini.
"Bumi! Pinjam tugas dong, sebelum Bu Ratna datang dan mengubahku jadi patung batu!"
Itu Aris. Sahabatku sejak SMP yang tingkat kepanikannya selalu berbanding lurus dengan kedekatan jam pelajaran. Tanpa menjawab, aku menggeser buku tugasku. Dia menyambarnya seperti elang mendapatkan mangsa, sembari melempar cengiran lebar yang membuatku hanya bisa menggelengkan kepala.
"Kamu tuh ya, Ris. Sekali-kali belajar kek," gumamku sambil menyandarkan punggung.
"Belajar itu nanti, Bum. Sekarang waktunya bertahan hidup!" jawabnya asal, tangannya bergerak cepat menyalin kalimat demi kalimat.
[RIUH RENDAH TENGAH SEMESTER]
Minggu-minggu berlalu. Kehidupan sekolah kami bukan hanya soal tugas, tapi tentang bagaimana kami menyelipkan tawa di sela-sela tekanan ujian tengah semester.
Suatu siang di kantin yang pengap namun dirindukan, aku duduk bersama Maya, teman sekelas kami yang suaranya paling melengking kalau sedang protes. Di sana, di bawah kipas angin yang berputar malas, rencana "proyek besar" kami dimulai.
"Bum, aku dengar kamu jago main piano tapi cuma dipendam di rumah?" tanya Maya sambil mengaduk es tehnya. Matanya menyipit penuh selidik.
"Cuma hobi, May. Kenapa?"
"Festival Seni sekolah dua bulan lagi. Aku mau kita bikin grup akustik. Aku vokal, Aris gitar—walaupun dia lebih sering salah kunci—dan kamu piano. Kita butuh sesuatu yang beda," Maya menjelaskan dengan semangat yang menular.
Aku melihat ke arah Aris yang sedang sibuk memburu bakso terakhirnya. Lalu kembali ke Maya. Ada rasa hangat yang perlahan merayap di dadaku—rasa ingin menunjukkan sesuatu yang lebih dari sekadar "Bumi yang pendiam".
"Oke," jawabku singkat namun mantap. "Tapi aku yang pegang aransemennya ya."
[SENJA DI RUANG MUSIK]
Memasuki bulan kedua latihan, sekolah jadi terasa seperti rumah kedua. Sore itu, hanya ada kami bertiga di ruang musik. Cahaya matahari senja masuk lewat ventilasi, memberikan kesan oranye yang magis pada tuts piano di depanku.
Latihan hari itu terasa berbeda. Kami tidak lagi banyak bercanda. Saat jemariku mulai menekan nada pertama, suara gitar Aris menyambut dengan lembut, dan vokal Maya masuk seperti aliran air yang tenang. Di saat itulah, aku merasa waktu seolah berhenti. Bukan tentang menang atau kalah di festival nanti, tapi tentang detak jantung yang selaras dalam melodi yang sama.
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka sedikit. Laras, ketua OSIS yang biasanya terlihat sangat sibuk dengan tumpukan kertas, berdiri di sana. Ia hanya diam, mendengarkan hingga lagu kami selesai.
"Bagus," katanya singkat saat mata kami bertemu. Ia tersenyum—senyum tipis yang mendadak membuat konsentrasiku buyar dan tanganku salah menekan nada.
Aris tertawa terbahak-bahak melihat mukaku yang memerah. "Cie, Bumi! Langsung fals gitu nadanya!"
[GEMURUH DI PENGHUJUNG TAHUN]
Malam festival seni akhirnya tiba. Panggung besar berdiri di tengah lapangan basket. Aroma popcorn dan parfum remaja memenuhi udara. Saat namaku dipanggil untuk naik ke atas panggung, kakiku sempat terasa lemas.
Namun, saat aku duduk di depan piano dan melihat Aris serta Maya di sampingku, rasa takut itu luruh. Kami memulai lagu. Lirik yang kutulis tentang "Masa Putih Abu-abu" mengalun indah. Aku sempat melirik ke arah penonton, melihat Laras yang bertepuk tangan di barisan depan, dan menyadari bahwa inilah puncak dari masa remajaku.
Cinta yang malu-malu, persahabatan yang konyol, dan musik yang menyatukan segalanya. Saat lagu berakhir, di bawah hujan kertas confetti yang jatuh perlahan, aku tahu bahwa momen ini akan menjadi cerita yang akan kuceritakan kembali sepuluh tahun lagi dengan senyum yang sama.
Sekolah ini bukan hanya tempat mencari nilai, tapi tempat di mana aku menemukan diriku sendiri.