Setiap malam, jam dinding di rumah Rani selalu berhenti tepat pukul 03.00.
Awalnya Rani mengira jam itu rusak. Tapi anehnya, hanya jam itu saja yang berhenti—jam di ponsel dan laptopnya tetap berjalan normal. Setiap kali jarum jam membeku di angka tiga, udara di kamarnya terasa lebih dingin.
Malam itu, Rani terbangun karena suara ketukan pelan.
Tok… tok… tok…
Bukan dari pintu.
Bukan dari jendela.
Melainkan dari lemari di sudut kamar.
Rani menahan napas. Lemari itu sudah lama tak dipakai sejak kakaknya meninggal dua tahun lalu. Mereka tak pernah membukanya lagi.
Ketukan terdengar lagi. Lebih keras.
Tok… tok… tok…
Jam dinding berhenti. Pukul 03.00.
Dengan tangan gemetar, Rani menyalakan senter ponsel dan mendekati lemari. Ketukan berhenti tiba-tiba, digantikan suara napas—bukan napasnya.
Perlahan, pintu lemari terbuka sendiri.
Di dalamnya hanya ada satu benda: seragam sekolah kakaknya, tergantung rapi. Namun… bagian dadanya basah, seolah baru terkena hujan.
Tiba-tiba terdengar bisikan tepat di telinga Rani.
“Aku belum pulang…”
Lampu mati.
Senter ponsel padam.
Dan dari dalam lemari, terdengar langkah kaki keluar.
Keesokan paginya, ibu Rani menemukan kamar itu kosong.
Hanya jam dinding yang kembali berjalan normal.
Dan lemari yang tertutup rapat—
dengan dua seragam sekolah tergantung di dalamnya.