Aroma pembersih lantai dan sisa keringat dari klub olahraga selalu menyelimuti koridor SMA Minami-Sora di sore hari. Di pojok kiri paling belakang kelas 2-B, aku merasa aman. Di sini, di balik benteng tumpukan buku referensi dan sketsa karakter light novel yang sedang kupelajari, aku adalah "Riku si Tak Terlihat."
Setidaknya, begitulah rencananya sampai kursi di sebelahku ditarik dengan kasar.
"Riku-kun, kau sedang menggambar apa?"
Aku tersentak. Hanae Shiraishi, gadis yang seolah-olah memiliki matahari sendiri di atas kepalanya, duduk di sana. Rok pendeknya tersampir rapi, dan aroma parfum floralnya seketika meruntuhkan pertahanan udaraku yang biasanya hanya berbau debu kertas.
"Hanya... sketsa anatomi," gumamku sambil menutup buku sketsa dengan cepat.
Hanae tertawa kecil, suara yang biasanya hanya kudengar dari kejauhan saat dia dikelilingi teman-temannya yang modis. "Jangan bohong. Aku tahu itu karakter Magical Girl Luluca, kan? Episode kemarin sangat sedih, ya?"
Aku membeku. Gadis populer sepertinya, yang hobi mengunggah foto kafe estetik di media sosial, tahu tentang anime niche yang tayang jam dua pagi?
"Kau menontonnya?" tanyaku, memberanikan diri menatap matanya.
Hanae menyandarkan dagu di atas tangannya, menatapku dengan binar yang tidak pernah kulihat di layar ponsel mana pun. "Setiap minggu. Tapi tidak ada satu pun temanku yang tahu. Kalau mereka tahu aku suka mengoleksi figurin, citra 'gadis sempurna' ini pasti hancur."
Dia kemudian menunjuk satu titik di pojok mejaku yang sudah terkelupas. Dengan spidol permanen, dia menggambar simbol kecil di sana—sebuah bintang, persis seperti tanda lahir karakter utama di anime favorit kami.
"Ini rahasia kita, ya?" bisiknya. Wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter. Aku bisa melihat pantulan diriku yang tampak kikuk di matanya yang cokelat jernih.
Selama satu jam berikutnya, dunia di luar jendela yang mulai jingga terasa menghilang. Kami tidak lagi bicara soal kasta sekolah. Kami bicara soal plot twist, desain karakter, dan alasan mengapa dia harus bersembunyi di balik topeng kepopuleran.
Saat bel sekolah berdentang panjang menandakan gerbang akan ditutup, Hanae berdiri dan menyampirkan tasnya. Dia berjalan menuju pintu, namun tiba-tiba berhenti dan berbalik.
"Riku-kun," panggilnya.
"Ya?"
Dia tersenyum misterius, jenis senyuman yang membuat jantungku berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya. "Besok, jangan duduk di sini sendirian. Aku punya sesuatu di lokerku yang hanya bisa kutunjukkan pada 'rekanku'."
Hanae mengedipkan sebelah mata lalu menghilang di balik pintu. Aku terpaku, menyentuh simbol bintang di mejaku yang tintanya masih basah. Apa yang sebenarnya ada di loker itu? Dan sejak kapan aku menjadi "rekannya"?