Arjuna tiba di gerbang rumah tua itu di tengah musim hujan yang muram. "Wisma Kencana" terpampang samar pada plakat tembaga yang berlumut. Rumah besar itu menjulang tiga lantai, arsitekturnya mengingatkannya pada dongeng-dongeng gotik yang ia baca saat kecil. Arjuna hanya menyewa kamar di lantai tiga, kamar terakhir di ujung koridor yang konon sudah lama kosong.
Kamar itu sederhana: ranjang besi tua, meja kayu jati, dan satu jendela besar menghadap kebun yang rimbun.
Kelemahannya: di kamar itu selalu terasa dingin, dan Arjuna—seorang mahasiswa desain yang ambisius—merasa tidak pernah benar-benar sendirian.
Sejak hari pertama, sensasi itu seperti bayangan di sudut mata, atau sentuhan dingin di tengkuk. Ia selalu merasa ada yang mengikutinya di koridor panjang. Lebih aneh lagi adalah barang-barang kecil yang mulai ia temukan.
Suatu pagi, di atas tumpukan bukunya, tergeletak sebuah pensil arang yang sudah diasah sempurna, jenis pensil yang jarang ia gunakan. Malam berikutnya, ia menemukan penghapus berbentuk bintang di samping cangkir kopinya. Dan yang paling aneh, sebuah klip kertas antik berwarna perunggu yang menyatukan sketsa-sketsa desainnya yang berantakan.
"Mungkin aku yang pelupa," gumamnya, meskipun ia tahu ia bukan tipe orang seperti itu.
Setelah dua minggu, rasa penasarannya mengalahkan rasa takutnya. Ia memutuskan untuk menemui pemilik rumah, Nyonya Sekar, seorang wanita tua yang tinggal sendirian di lantai dasar.
Nyonya Sekar adalah wanita yang tenang dan bermata teduh. Ia menyambut Arjuna di ruang tamunya yang redup, diapit oleh lukisan-lukisan pemandangan yang indah namun terasa kuno.
"Nyonya," kata Arjuna hati-hati, "ada yang aneh di kamar saya. Saya merasa... ada orang lain, dan saya menemukan barang-barang yang bukan milik saya."
Nyonya Sekar tersenyum tipis, matanya dipenuhi kesedihan yang sudah lama disimpan. Ia meminta Arjuna duduk dan menyuguhkan teh mint yang harum.
"Kau menyewa Kamar Tiga, Nak. Kamar itu dulunya milik Bima," katanya lembut.
Bima adalah cucu Nyonya Sekar. Arjuna tahu Bima adalah seniman, karena di dinding tangga, ada beberapa karya cat air yang luar biasa: sketsa kota yang penuh detail, potret wajah-wajah hidup.
"Bima adalah seniman paling berbakat yang pernah saya kenal," lanjut Nyonya Sekar, suaranya bergetar. "Ia bisa melukis jiwa, bukan hanya raga. Dia selalu menghabiskan waktu di Kamar Tiga, itu adalah studionya."
Arjuna menunjuk pada lukisan pemandangan di dinding. "Karya-karya ini indah."
"Hanya sebagian kecil," Nyonya Sekar menggeleng. "Dia berhenti. Tiba-tiba.
Dia jatuh sakit—penyakit saraf yang membuat tangannya gemetar. Setelah beberapa kali usahanya gagal, ia menghancurkan semua karya terbaiknya, mengunci Kamar Tiga, dan pergi ke luar negeri untuk mencari pengobatan yang, sayangnya, tidak pernah berhasil sepenuhnya."
"Dia menghancurkan karyanya?" tanya Arjuna, terkejut.
"Ya. Hanya yang belum selesai yang ia simpan. Dia berjanji padaku, 'Aku akan kembali dan menyelesaikannya saat tanganku sembuh.' Tapi ia tak pernah kembali ke sini. Ia meninggal setahun yang lalu, Nak. Di luar negeri."
Mata Arjuna kini tertuju pada klip kertas perunggu dan pensil arang yang ia temukan. Mungkin itu bukan hantu yang mengikutinya, melainkan energi kreatif yang tertinggal. Sebuah jiwa yang belum selesai, yang mencari cara untuk terus berkarya.
"Barang-barang yang kau temukan," Nyonya Sekar berbisik, seolah membaca pikirannya, "itu adalah perkakas kecil Bima. Dia memiliki kebiasaan meninggalkan alat-alat favoritnya di tempat ia terakhir menggunakannya."
Sejak saat itu, kamar kosong itu terasa berbeda bagi Arjuna. Ia tidak lagi merasa takut, melainkan terharu. Ia merasa didorong, seolah tangan tak kasatmata sedang mengoreksi garis-garis sketsanya.
Suatu malam, Arjuna sedang mengerjakan desain arsitektur yang macet. Ia frustrasi dan bersandar di kursi. Tiba-tiba, ia merasakan dorongan lembut untuk melihat ke bawah kasur. Ia ragu, tetapi dorongan itu kuat.
Di bawah ranjang besi tua itu, ia menemukan sebuah kotak kayu datar. Di dalamnya, tersimpan sebuah kanvas yang belum selesai.
Itu adalah karya Bima yang tersembunyi—lukisan pemandangan kota di malam hari, penuh dengan bayangan dan cahaya, tetapi bagian tengahnya masih berupa sketsa garis yang kosong. Lukisan itu benar-benar menakjubkan, bahkan dalam keadaan setengah jadi.
Arjuna teringat janji Bima kepada neneknya: menyelesaikan karya itu.
Dengan hati-hati, Arjuna mengeluarkan cat airnya sendiri. Dia bukan pelukis, dia seorang desainer, tetapi ada kekuatan aneh yang menuntun tangannya.
Ia menghabiskan tiga hari berikutnya di kamar itu, menyatu dengan esensi Bima.
Arjuna menyelesaikan bagian tengah yang kosong dengan gaya yang berani namun tetap menghormati garis asli Bima. Ia menambahkan cahaya neon kontemporer yang berbenturan secara indah dengan arsitektur klasik Bima.
Ketika karya itu selesai, Arjuna membawanya turun ke Nyonya Sekar.
Nyonya Sekar terdiam lama, menatap lukisan itu. Air mata menggenang di sudut matanya, tetapi itu adalah air mata kebahagiaan.
"Ini... ini indahnya," bisiknya. "Aku tahu ia akan menyukainya. Dia ingin karyanya terus hidup. Kau telah memberinya akhir yang ia cari, Nak."
Saat Arjuna kembali ke Kamar Tiga, kamarnya terasa ringan. Dingin yang mengganggu itu hilang. Di atas mejanya, tidak ada pensil arang atau klip kertas aneh. Hanya secarik kertas dengan tulisan tangan Bima yang samar-samar:
Terima kasih. Sekarang aku bisa istirahat.
Arjuna tersenyum. Ia telah membantu seorang seniman mewujudkan impian terakhirnya. Dan sebagai imbalannya, ia kini memiliki studio yang tenang di lantai tiga, di mana ia tidak lagi sendirian, melainkan ditemani oleh bisikan inspirasi dari seorang jenius yang akhirnya menemukan kedamaian.