Pindah ke rumah baru seharusnya menjadi awal yang segar, namun bagi Elara, rumah bergaya kolonial tua di pinggiran kota ini terasa berat, seolah udara pun membawa beban masa lalu. Malam pertama ia habiskan di antara tumpukan kardus, dan rasa penasaran membawanya ke loteng, sebuah ruang sempit berbau debu dan lapuk.
Di sudut tergelap, ia menemukan sebuah peti kayu ek kecil yang diukir rumit. Debu tebal menyelimuti permukaannya. Setelah membersihkannya, Elara membuka peti itu, dan di dalamnya, ia menemukan tumpukan foto-foto lama yang buram.
Itu adalah koleksi foto bayi.
Puluhan wajah bayi yang berbeda, dari berbagai usia—ada yang sedang tertawa, ada yang sedang tidur pulas, ada pula yang hanya menatap kosong ke kamera. Semuanya tanpa keterangan. Elara merasa ngeri, namun rasa ingin tahunya lebih besar. Ia membawa peti itu turun dan menaruhnya di meja samping tempat tidur.
Malam itu, setelah membolak-balik foto-foto tersebut, Elara mendengar suara aneh.
Awalnya hanya gumaman pelan, seperti suara angin yang melewati cerobong. Tetapi suara itu semakin jelas, menjadi isakan pelan, dan kemudian—tangisan bayi.
Tangisan itu berasal dari kamar tidur di ujung lorong, sebuah kamar kosong yang belum tersentuh. Jantung Elara berdebar kencang. Ia meyakinkan dirinya bahwa itu hanya akustik rumah tua, atau mungkin kucing liar. Namun, tangisan itu terlalu jelas, terlalu mirip dengan suara kesedihan murni.
Elara menutup matanya rapat-rapat, mencoba tidur. Begitu ia memejamkan mata, tangisan itu berhenti, digantikan oleh keheningan yang menyesakkan.
Keesokan harinya, ia mencoba melupakan kejadian itu. Namun, malam berikutnya, hal yang sama terulang. Setelah ia melihat foto-foto di peti, tangisan bayi itu datang lagi, lebih dekat, lebih mendesak.
Pada hari ketiga, Elara mulai panik. Ia bertekad untuk membuang kotak itu, tetapi sebelum melakukannya, ia membuka kembali peti kayu itu untuk terakhir kalinya.
Saat ia mengeluarkan tumpukan foto, tangannya membeku.
Foto bayi itu bertambah satu.
Di bagian atas tumpukan, ada foto baru yang sebelumnya tidak ada. Bayi yang menangis, dengan mata bulat yang terlihat kesepian. Kulitnya tampak pucat, dan ada bayangan gelap di sudut matanya. Elara merasakan hawa dingin merambat di punggungnya.
Ia menghitung total foto. Ya, jumlahnya bertambah.
Setiap malam, teror itu berulang: ia melihat foto, ia mendengar tangisan, dan setiap pagi, ada satu foto bayi lagi yang ditambahkan ke dalam koleksi yang mengerikan itu.
Sampai pada malam yang ketujuh, Elara tidak tahan lagi. Dengan tubuh gemetar, ia membuka peti itu, siap untuk membuangnya ke perapian.
Saat ia membalik foto terakhir, napasnya tercekat, dan ia menjatuhkan seluruh tumpukan itu ke lantai.
Foto yang terakhir adalah wajahnya sendiri.
Bukan hanya wajah bayi acak, melainkan fotonya saat masih kecil, mengenakan pakaian bayi yang dikenali Elara dari foto keluarga lamanya. Di balik mata bayi kecilnya, ada ekspresi ketakutan yang mendalam.
Elara lari ke meja belajarnya, menarik laci, dan menemukan tumpukan dokumen pembelian rumah. Ia mencari sejarah pemilik lama, mencari petunjuk, apa pun.
Setelah beberapa jam menggali, ia menemukan sebuah artikel surat kabar lama yang terselip di antara akta-akta. Judulnya membuat darahnya membeku: "Misteri Hilangnya Bayi Berlanjut di Pinggiran Kota — Rumah Kolonial Lama Diduga Pusat Kasus Penculikan."
Artikel itu menceritakan tentang seorang bidan tua yang tinggal di rumah ini puluhan tahun lalu. Bidan itu rupanya seorang psikopat yang menculik bayi-bayi baru lahir, memotret mereka, dan kemudian... menyimpan mereka. Ketika ia akhirnya tertangkap, ia tidak pernah mengungkapkan di mana ia menyembunyikan korbannya, hanya mengatakan bahwa "mereka akan mendapatkan rumah baru."
Elara kembali ke peti kayu itu, matanya melebar karena teror. Koleksi foto itu bukan hanya kenangan; mereka adalah jiwa-jiwa yang terperangkap. Mereka yang tidak pernah menemukan kedamaian, dan yang kini, melalui tangisan mereka yang menghantui, mencari cara untuk... pindah.
Saat Elara menatap foto dirinya, ia mendengar bisikan, bukan tangisan, kali ini datang dari udara di sekitarnya.
"Kau kembali... Kau yang terakhir... Kami mendapatkan tempat baru..."
Tiba-tiba, ia merasakan dorongan kuat di punggungnya, seolah-olah tangan tak terlihat mendorongnya ke depan. Ia tersandung, jatuh, dan kepalanya terbentur sudut peti kayu itu.
Pandangannya kabur.
Saat kesadaran Elara mulai memudar, hal terakhir yang dilihatnya bukanlah langit-langit kamarnya, melainkan peti kayu ek itu. Dan di samping peti, ia melihat bayangan kabur—sesosok wanita tua dengan mata dingin, tersenyum.
"Selamat datang kembali, Sayang," bisik suara itu. "Sekarang, kita bisa pindah bersama."
Keesokan paginya, ketika tukang pos lewat, ia melihat jendela kamar Elara terbuka sedikit. Ia berpikir, ah, penghuni baru.
Di dalam peti kayu ek kecil di samping tempat tidur, di atas tumpukan foto bayi yang semakin bertambah, tergeletak satu foto baru: wajah Elara, yang kini tampak damai, seolah-olah akhirnya dia menemukan tempat istirahatnya.
Dan rumah bergaya kolonial tua itu, kembali sunyi, menunggu penyewa baru yang tidak curiga untuk memulai Koleksi Foto Bayi dari awal lagi.