Pak Budi adalah guru paling serius di sekolah. Wajahnya datar, suaranya datar, bahkan senyumnya… hampir tidak pernah terlihat. Tapi suatu hari, Pak Budi datang ke kelas dengan wajah sangat percaya diri sambil memegang pulpen hitam.
“Anak-anak,” katanya tegas, “ini pulpen baru saya. Pulpen ini… tidak pernah salah menilai.”
Siswa langsung saling pandang.
“Pulpen sakti, Pak?” tanya Dimas polos.
Pak Budi mengangguk mantap. “Benar. Nilai kalian akan murni dan jujur.”
Ujian dimulai. Pak Budi mengoreksi dengan penuh wibawa. Namun tiba-tiba ia mengernyit.
“Lho?” gumamnya.
Pulpen itu menuliskan nilai sendiri.
Nilai Dimas: 100
Nilai Rani: 100
Nilai seluruh kelas: 100
Kelas hening. Pak Budi berkeringat.
“Ini… ini pasti pulpen rusak,” katanya gugup.
Saat Pak Budi mencoba menulis ulang, pulpen itu malah menulis:
“PAK, MEREKA BELAJARNYA BENAR-BENAR.”
Seluruh kelas menahan tawa.
Kepala sekolah masuk dan bertanya, “Kenapa semua nilainya 100?”
Pak Budi menelan ludah. “Pulpen saya jujur, Pak…”
Kepala sekolah mengangguk. “Kalau begitu, saya pinjam pulpennya buat nilai rapor guru.”
Pak Budi langsung menyembunyikan pulpen itu ke saku.
“Eee… pulpennya sedang cuti, Pak.”
Satu kelas pun meledak tertawa. 😂