Di tengah hiruk-pikuk kota New York, hiduplah seorang pilot muda bernama Christian, yang saat itu berusia 25 tahun. Kekasihnya, Amy Lahana, baru berusia 19 tahun dan masih menempuh pendidikan kuliah. Mereka tinggal bersama di sebuah apartemen sederhana di pusat kota. Amy adalah gadis yang lembut, pemalu, dan sering merasa tidak percaya diri. Bahkan ketika Christian melamarnya menjadi kekasih, Amy ragu dan merasa tidak pantas. Namun, dengan penuh keyakinan, Christian meyakinkannya bahwa ia layak dicintai.
Sudah dua tahun mereka menjalani kehidupan bersama dengan bahagia. Suatu hari, Amy memberitahu Christian bahwa ia sedang mengandung tiga bulan. Alih-alih gembira, Christian justru tidak percaya dan menuduh Amy berselingkuh. Padahal, Amy hanya pernah berhubungan intim dengan Christian seorang. Merasa belum siap menjadi ayah, Christian meninggalkan Amy sendirian di apartemen. Amy pun menangis tersedu-sedu dalam kesepian.
Tiga hari kemudian, Christian kembali. Saat itu, Amy langsung berkata, "Chris, aku akan pergi. Maafkan aku karena telah merepotkanmu. Terima kasih atas dua tahun ini. Aku akan menjaga anak kita sendiri." Mendengar itu, Christian panik. "Tidak, Amy, jangan pergi. Maafkan aku karena menuduhmu. Aku terima anak kita, sayang. Jangan tinggalkan aku," ucapnya sambil memohon. Amy bertanya memastikan, "Benarkah?" Christian mengangguk dan memeluknya erat. Kemudian, ia mengajak Amy ke suatu tempat.
Ternyata, tempat tersebut adalah sebuah klinik aborsi. Amy marah besar karena merasa dibohongi. Christian juga marah; ia masih ingin bersama Amy, tetapi menolak kehadiran bayi itu. Amy langsung berlari meninggalkan Christian. Dalam pengejaran di tempat sepi, Christian berhasil menangkapnya, tetapi Amy terus berontak. Dalam kekalapan, Christian menusuk perut Amy cukup dalam dengan pisau lipat yang dibawanya. Amy terkapar sambil merintih kesakitan, "Chris... kau... ah, sakit..." Christian langsung menyesal, "Amy, maafkan aku..." Ia ingin membawa Amy ke rumah sakit, tetapi Amy muntah darah hebat dan mengembuskan napas terakhir di pelukannya, wajahnya memucat.
Panik, Christian memasukkan jasad Amy ke dalam mobil, membawanya ke tempat sepi, dan menguburnya. Ia membersihkan semua jejak sebelum kembali ke apartemen. Di sana, ia menangis dan sangat menyesal atas perbuatannya.
Penyesalan itu menghantuinya hingga bertahun-tahun kemudian. Kini, Christian sudah berusia 40 tahun. Ia tidak pernah menikah karena masih mencintai Amy dan terbebani rasa bersalah atas kematiannya. Ajaibnya, setelah kejadian itu, tidak ada seorang pun yang mencari Amy—bahkan keluarganya. Tidak ada laporan orang hilang, dan pembunuhan itu tidak pernah terungkap. Christian tetap bebas, tetapi hatinya tidak pernah tenang.
Suatu hari, saat berkunjung ke perpustakaan di pusat kota, Christian melihat seorang wanita yang wajahnya sangat mirip dengan Amy. Dengan memberanikan diri, ia mendekat dan bertanya, "Amy?" Wanita itu menjawab, "Ya, saya." Christian kembali bertanya, "Namamu Amy?" "Ya, benar. Aku Amy. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya wanita itu. Dalam hati, Christian bergumam, "Tidak mungkin... bahkan namanya sama. Wajahnya persis, hanya lebih muda."
"Ada perlu dengan saya?" tanya wanita itu lagi. Christian mengajaknya bicara sebentar, dan mereka pun pergi ke sebuah kafe terdekat. Di sana, Christian bercerita bahwa wanita itu sangat mirip dengan kekasihnya dulu, bahkan menunjukkan foto Amy lama. Wanita itu terkejut karena kemiripannya luar biasa. Yang lebih mengejutkan, nama lengkapnya adalah Amy Lahana—sama persis—dengan usia 30 tahun dan tanggal lahir yang identik. Padahal, jika Amy yang dulu masih hidup, usianya seharusnya 34 tahun.
Amy baru itu masih tidak percaya dan menganggapnya hanya kebetulan. Ia pun pamit pulang, tetapi sempat memberi nomor teleponnya. Christian kemudian mengajaknya bertemu lagi dan menceritakan kejujuran pahit: bahwa ia pernah membunuh Amy lama karena menolak aborsi, meski tanpa sengaja—hanya karena kalap. Amy baru itu ketakutan, khawatir nasib yang sama menimpanya. Namun, Christian meyakinkannya bahwa ia tidak akan mengulangi kesalahan itu dan ingin menebus dosanya dengan melindungi Amy jika diberi kesempatan kedua.
Amy tetap menyangkal bahwa dirinya berbeda. Mereka berpisah lagi. Diam-diam, Christian telah mengambil sidik jari Amy baru dari gelas yang dipakainya dan membandingkannya di laboratorium dengan barang-barang milik Amy lama. Hasilnya mengejutkan: DNA keduanya sama persis 100%.
Amy baru semakin tidak percaya dan memutuskan hubungan. Namun, saat keluar dari laboratorium, ia tertabrak mobil dan koma selama beberapa hari. Christian sangat terpukul; ia tidak ingin kehilangan Amy lagi. Ia menemaninya di rumah sakit hingga Amy sadar. Dalam koma, Amy seperti bermimpi mengalami kembali masa lalu: kebersamaan dengan Christian hingga saat ditusuk dan meninggal. Begitu sadar, ia langsung marah, "Kenapa kau lakukan itu padaku?"
Christian memohon maaf berulang kali dan berjanji akan melindunginya jika diberi kesempatan. Akhirnya, Amy memaafkan dan menerima Christian kembali. Mereka berdua bingung mengapa hal ini bisa terjadi. Amy yang sekarang memiliki kehidupan dan masa lalu sendiri yang berbeda, namun ingatan tentang kehidupan bersama Christian juga terasa sangat nyata.
Akhirnya, mereka memilih mengabaikan misteri itu dan melanjutkan hidup bersama. Christian kini benar-benar serius. Ia menikahi Amy dan berjanji tidak akan pernah lagi kehilangannya. Ia akan selalu menjaga dan melindunginya dengan segenap hati.