Dari semua bangku yang ada di cafe yang kecil ini, Dia memilih untuk duduk di bangku yang ada di depanku.
Awalnya aku mengira dia salah lihat orang tapi dia taruh bukunya di meja dan memesan kopi yang sama seperti kopi yang aku minum saat ini.
”boleh duduk di sini?, tempat lainnya penuh", padahal aku tahu cafe ini sedang sepi dan hanya beberapa meja saja yang penuh.
Namanya Salma, Rambutnya dicepol asal-asalan. Wajahnya terlihat muram dan tidak bersemangat. tapi dari detik pertama aku melihatnya, aku merasa dia akan membekas diingatan ku untuk waktu yang lama.
Sejak saat itu kami jadi sering bertemu di cafe itu, bukan karena sudah janjian untuk bertemu. Seakan pertemuan kami ini bagai ditarik sebuah magnet. Obrolan panjang pun terjadi, berawal tentang buku, soal mantan, dan soal luka hati.
"Aneh ya" katanya "gue ngerasa lebih jujur ke lo daripada ke siapapun bahkan yang pernah pacaran sama gue"
Aku hanya bisa diam karena merasakan hal yang sama.
Tapi kami nggak pernah saling tembak, ngga pernah pegangan tangan. Kami hanya seperti berada di ruang abu-abu.
Lalu datang suatu hari, Salma datang dengan pakaian yang lebih rapi, tapi raut wajahnya terlihat sedih bahkan seperti habis menangis.
"Gue diterima kerja diluar kota" katanya
"wah" hanya itu saja jawaban yang bisa keluar dari mulutku.
Dia menunduk dengan senyum tipis. "tiga tahun kontraknya, mungkin bisa lebih lama"
Entah kenapa aku berharap waktu bisa berhenti walau hanya sebentar.
"Lo tahu, kan, kalau gue sayang lo?" katanya pelan.
"Lo tahu, kan, kalau gue juga?" jawabku, sama pelannya.
Tapi kami hanya bisa diam. Karena kenyataannya rasa sayang nggak selalu bisa membuat dua orang di tempat yang sama.
Sore itu dia pamit, tidak ada kata perpisahan hanya satu tatapan kecil sebelum dia melangkah keluar dari pintu meninggalkan ku dengan dua gelas kopi yang sudah dingin.
Sejak itu, aku nggak pernah melihat Salma lagi. Tapi setiap kali aku ke cafe itu, aku tetap duduk di bangku yang sama.