Di ujung Dusun Wonosari, tempat jalan tanah berhenti dan rumpun bambu tumbuh rapat seperti pagar alam, berdirilah sebuah sumur tua yang usianya tidak lagi dapat diperkirakan. Batu-batunya menghitam oleh lumut, bibir sumurnya miring seolah pernah runtuh lalu dibangun kembali dengan tergesa. Airnya tidak pernah kering, namun juga tidak pernah benar-benar jernih.
Warga menyebutnya Sumur Kehendak.
Tidak ada tanda larangan, tidak pula bangunan pemujaan. Namun sejak dulu, anak-anak dilarang bermain di sekitarnya. Orang-orang tua hanya berkata bahwa sumur itu bukan sekadar lubang air, melainkan tempat berdiam sesuatu yang lebih tua dari dusun itu sendiri.
Konon, sumur tersebut dapat mengabulkan keinginan. Tetapi bukan dengan cara yang mudah ditebak. Para sesepuh selalu mengingatkan bahwa sumur itu tidak mendengar permintaan, melainkan membaca isi hati orang yang datang.
Dusun Wonosari adalah dusun kecil. Sebagian besar warganya hidup dari kebun, ladang, dan pasar pagi. Di sanalah tinggal seorang gadis bernama Raras.
Raras adalah anak seorang penjual sayur keliling. Setiap subuh, sebelum cahaya muncul di balik bukit, Raras sudah bangun untuk membantu ibunya memilah sayuran: kangkung, bayam, kacang panjang, labu, dan cabai rawit. Sayuran itu disusun rapi dalam keranjang bambu, lalu dibawa berkeliling dari rumah ke rumah.
Ayah Raras telah lama meninggal. Sejak itu, ibunya menjadi satu-satunya sandaran hidup. Mereka tidak pernah berkecukupan, tetapi juga tidak pernah berhutang. Hidup mereka berjalan perlahan, sederhana, dan penuh kesabaran.
Namun waktu tidak dapat dilawan. Punggung ibunya mulai membungkuk, langkahnya kian pelan, dan suatu hari ia jatuh sakit. Dagangan sering tersisa hingga layu. Penghasilan semakin sedikit, sementara kebutuhan tidak berkurang.
Malam itu, setelah memasak nasi dari sisa beras terakhir, Raras duduk di depan rumah mereka yang sempit. Angin malam membawa bau tanah basah dan suara dedaunan yang saling bergesek. Dari kejauhan, ia memandang ke arah rumpun bambu—tempat Sumur Kehendak berada.
Cerita-cerita lama kembali terlintas di kepalanya. Tentang orang-orang yang datang dengan harapan besar dan pulang dengan hidup yang berubah, baik atau buruk.
Dengan hati yang gelisah namun tekad yang bulat, Raras mengambil segenggam beras, mengenakan selendang lusuh milik ibunya, lalu melangkah menuju sumur.
Di dekat sumur, udara terasa lebih dingin. Tidak terdengar suara binatang malam. Hanya suara air yang beriak pelan, seolah bernapas.
Raras tidak berteriak. Tidak pula memohon dengan kata-kata berlebihan. Ia berjongkok di tepi sumur, meletakkan beras di atas batu, lalu berbisik lirih.
Ia hanya meminta hidup yang cukup. Meminta agar ibunya diberi kesehatan, dan dirinya diberi kekuatan untuk menjalani hidup.
Air sumur bergerak perlahan, membentuk lingkaran kecil. Tidak ada jawaban. Tidak ada tanda.
Raras pulang dengan tangan kosong dan perasaan yang ia simpan sendiri.
Hari-hari berlalu seperti biasa. Namun perlahan, perubahan datang tanpa disadari. Seorang pedagang dari pasar besar datang mencari sayuran segar. Dagangan Raras dan ibunya selalu habis. Ibunya berangsur pulih, tidak sepenuhnya sehat, tetapi cukup kuat untuk duduk dan membantu menata sayur.
Raras dikenal jujur dalam timbangan dan ramah pada pembeli. Pelanggannya bertambah. Hidup mereka tetap sederhana, tetapi tidak lagi kekurangan.
Di pasar, Raras sering bertemu Wira, seorang kuli angkut. Ia bukan orang berada, namun pekerja keras dan berbicara dengan sopan. Perlahan, keduanya saling mengenal. Mereka menikah dengan sederhana, tanpa pesta besar, hanya doa dan kebersamaan.
Kehidupan Raras yang membaik menimbulkan rasa iri di hati Ki Jagat, seorang juragan besar di dusun. Ia memiliki ladang luas, kios di pasar, dan pengaruh kuat. Namun melihat Raras—anak penjual sayur—hidup tenang tanpa bergantung padanya, hatinya dipenuhi dengki.
Suatu malam, Ki Jagat mendatangi Sumur Kehendak dengan membawa emas dan sesaji mewah. Ia berbicara lantang, menyatakan keinginannya untuk memiliki kekuasaan yang lebih besar dan menguasai semua orang.
Sumur itu tetap sunyi.
Beberapa waktu kemudian, usaha Ki Jagat mulai runtuh. Ladangnya gagal panen. Utangnya menumpuk. Orang-orang yang dulu mendekat karena takut dan hormat, satu per satu menjauh. Hidupnya dipenuhi kecurigaan dan kegelisahan.
Saat itulah warga dusun mengerti.
Sumur Kehendak bukan pengabul keinginan semata, melainkan cermin batin manusia. Ia memberi cukup bagi mereka yang tahu batas, dan memperlihatkan kekosongan bagi mereka yang dikuasai keserakahan.
Hingga kini, sumur itu masih berdiri di balik rumpun bambu. Tidak disembah, tidak dirusak. Orang-orang melewatinya dengan diam dan hormat.
Karena mereka percaya, keinginan yang lahir dari hati yang bersih akan membawa berkah,
sementara keinginan yang dipenuhi nafsu hanya akan kembali sebagai petaka.
Tamat.