Pada zaman dahulu kala, ketika alas masih luwih amba tinimbang desa, dan telaga dipercaya sebagai panggonan suci, hiduplah seorang pemuda bernama Jaka Tarub. Ia yatim piatu, tinggal seorang diri di gubuk bambu di pinggir hutan. Hidupnya sederhana, rezekinya secukupnya, namun budi pekertinya luhur. Jaka Tarub dikenal sebagai pemuda sing andhap asor, ora seneng pamer, lan tansah ngajeni alam.
Suatu sore, ketika matahari condong ke kulon dan angin membawa aroma tanah basah, Jaka Tarub masuk ke dalam alas untuk mencari kayu bakar. Tanpa sengaja, langkahnya terhenti di sebuah telaga bening. Airnya jernih, tenang, seolah menyimpan rahasia langit.
Tiba-tiba terdengar suara tawa perempuan—halus, bening, dan bukan suara manusia biasa.
Jaka Tarub bersembunyi di balik semak, menahan napas.
Di telaga itu, tujuh bidadari dari kahyangan sedang mandi. Mereka menanggalkan selendang masing-masing dan menggantungkannya di dahan pohon asam tua. Selendang itu berkilau, memantulkan cahaya rembulan yang mulai naik.
Jaka Tarub teringat pitutur para leluhur:
“Bidadari ora bakal bisa bali menyang kahyangan tanpa selendange.”
Hatinya goyah. Dengan tangan gemetar, ia mengambil satu selendang berwarna biru pucat dan menyimpannya. Ketika senja turun, keenam bidadari lain mengenakan selendang dan menghilang ke angkasa. Tinggallah satu bidadari, menangis lirih di tepi telaga.
Namanya Dewi Nawang Wulan.
Jaka Tarub pun keluar dari persembunyian dan berkata dengan suara penuh rasa salah,
“Nyuwun pangapunten, Dewi. Kula boten kagungan niyat awon.”
Nawang Wulan menatapnya—matanya bening namun sarat kesedihan. Takdir pun berjalan. Ia mengikuti Jaka Tarub ke gubuk bambu dan hidup sebagai manusia. Hari demi hari berlalu. Nawang Wulan belajar menanak nasi, menyapu halaman, menanam bunga di pagi hari. Jaka Tarub memperlakukannya dengan tata krama, tanpa paksaan, tanpa kasar.
Pelan-pelan, rasa tresna tumbuh di antara mereka, seperti padi yang menguning menjelang panen. Mereka menikah secara sederhana, disaksikan bumi dan langit. Dari pernikahan itu lahirlah seorang anak perempuan.
Namun wong Jawa percaya: rahasia sing disimpen bakal nemokake dalane kanggo kabuka.
Suatu hari, saat Jaka Tarub pergi ke alas, Nawang Wulan menemukan selendangnya tersembunyi di lumbung. Saat itulah ia sadar, hidupnya di dunia fana hanya titipan.
Ketika Jaka Tarub pulang, Nawang Wulan berkata lirih,
“Mas Jaka, tresnaku nyata. Nanging aku dudu kagunganing donya iki.”
Dengan air mata, ia mengenakan selendang itu. Cahaya turun dari langit. Sebelum kembali ke kahyangan, Nawang Wulan berpesan,
“Rawatlah anak kita kanthi welas asih lan kejujuran. Nalika kowe ndeleng langit senja, elinga, aku tansah ndongakake kowe.”
Nawang Wulan pun menghilang ke angkasa.
Jaka Tarub melanjutkan hidup dengan tabah. Ia membesarkan anaknya dengan pitutur luhur: sabar, nrimo, lan jujur. Konon, hingga kini, telaga itu tetap jernih. Pada malam tertentu, orang-orang desa percaya melihat selendang biru melayang di atas air, sebagai tanda bahwa cinta sejati ora nate sirna, mung pisah alam.
Tamat.