Minggu pagi di kereta Whoosh.
"Mau tukeran tempat duduk? Biasanya cewe lebih suka foto pemandangan," ucap pria yang duduk di sebelahku.
Aku mengangguk setuju. "Boleh, kalau kaka nggak keberatan," ucapku.
Bukan karena ingin melihat pemandangan. Jakarta-Bandung udah jadi rute harian bagiku. Saat pikiran random, aku menghitung berapa banyak tiang sutet yang terlewati, berapa banyak papan reklame yang berlari mundur saat kereta melaju.
Tapi hari itu, aku ingin melanjutkan tidurku, selama satu minggu opname di rumah sakit, seringkali kantuk terampas oleh rasa nyeri yang mengiris ulu hati. Visit para nakes di sisi ranjangku, menanyakan ini dan itu, nggak kalah mengganggu.
Dari sudut mataku, aku tahu pria itu beberapa kali melirikku mencari celah untuk bicara sebagai teman perjalanan. Aku memejamkan mataku sambil memasang headset, menutup celah kesempatan sekecil apapun.
Sumpah! Aku benar-benar butuh istirahat.
Tiba-tiba, tingkahnya mulai usil. Kakinya yang panjang terbuka lebar hingga sisi kaki kami saling bersentuhan. Jujur, aku terganggu. Aku menoleh sedikit ke arahnya, memberi senyum kecut, lalu...
"Kak, bisa geseran dikit duduknya? Kaki kamu udah ambil wilayahku!" Suaraku tegas, kayak pelatih paskibra.
'Bvset, duduk di kereta aja udah kayak jaga pulau, takut wilayahnya terjajah.' Dalam hati aku menertawakan diri sendiri.
Pria itu cuma nyengir ganteng. Eh, ganteng? Wajahnya sih ... Okelah! Tapi bukannya geser, dia malah memutar sedikit tubuhnya berhadapan denganku. Lutut kami bersentuhan. Tatapan matanya di wajahku seolah sedang memeriksa komedo ku.
Demi apa pun aku risih banget!
"Kamu punya kaca kecil nggak? Boleh aku pinjam?" Tanyanya
Alisku berkerut, wajahku cemberut, kesal dengan tingkahnya. Tapi anehnya, aku nurut! Aku merogoh isi sling bag, lalu mengeluarkan kaca kecil yang dia minta.
"Buat apa sih?!" Tanyaku sinis.
Dia membalik kaca kecil ke arah wajahku. "Buat lihat mbak-mbak Wardah yang pipinya mulus di depan mataku," godanya sambil mengedipkan mata.
Sontak pipiku memerah. Dengan kasar aku merebut cermin kecil dari tangannya. Tapi sayang, tanganku yang lemah kalah cepat dengan tangannya yang panjang. Ia mengangkat tinggi cermin di atas kepalanya. Tatapan matanya jatuh ke punggung tanganku yang masih diplester..
"Itu, tangannya kenapa?" tanyanya heran seraya menurunkan tangannya untuk menyerahkan cermin kecil milikku.
"Abis suntik rabies. Jangan deket-deket, aku kena rabies!" jawabku ketus.
"Mana ada suntik rabies disitu," sangkalnya.
"Sok tahu!" balasku
"Ya Taulah ... Aku kan—"
Dia diam.
Aku melengos, menatap pemandangan di luar jendela. Rasa kantukku menguap begitu saja setelah meladeni tingkah mengganggu pria di sebelahku.
Hanya beberapa menit dia berhasil diam dan tenang. Namun, tiba-tiba saja dia membuka suara lagi.
"Namaku Alvaro, panggil aja aku Al."
Aku tidak menoleh ke arahnya, tetap fokus ke arah pemandangan di luar jendela.
"Fay— namamu, Fay?!" tanyanya setelah membaca gantungan kunci Labubu yang menggantung di sling bag, pemberian sahabatku.
Aku tidak menoleh sedikitpun ke arahnya, namun tanganku berusaha menutupi nama lengkap ku yang tertera di ganci pemberian Ayunda.
"Aku ke Bandung mau wisuda, mahasiswa abadi ini akhirnya lulus juga," ungkapnya sambil terkekeh pelan. "Kalau kamu ada keperluan apa? Sepertinya kamu bukan teteh Sunda yang punya kampung halaman di sini, kamu seperti orang... "
Perlahan aku menoleh ke arahnya, menunggu ia menuntaskan tebakannya. Aku memiringkan kepalaku dengan senyuman menantang.
"Kamu seperti mbak-mbak Wardah!" ledeknya saat melihat wajahku penasaran. Dia tertawa keras hingga deretan giginya terlihat.
"Ada apa sih dengan kamu, dari tadi bilang mbak-mbak Wardah terus. Kamu punya masalah apa dengan mereka. Nggak boleh menyepelekan pekerjaan orang lho, Kak," omel ku tanpa sadar memukul bahunya.
"Lah, siapa yang menyepelekan. Mereka itu perempuan pilihan yang dipilih untuk branding nama perusahaannya. Makanya mereka itu cantik-cantik seperti kamu. Apa kamu bagian dari brand kecantikan itu juga?!"
"Mulai deh!" aku kembali melengos ke arah lain.
Alvaro terus terkekeh melihat wajahku yang kembali memerah. Reaksi tubuhku memang tidak bisa berbohong, aku tersipu dengan pujiannya. Tapi aku bukan perempuan yang mudah membuka diri dengan orang baru.
'Kamu pikir aku akan tersanjung dengan goda dan rayuanmu, Tuan? Tempatku berdiri adalah lantai karat yang seringkali diwarnai darah perjuangan. Mata yang seringkali menanggung beban, malam yang terus menggerus tipisnya keyakinan akan masa depan. Aku tidak mudah luluh dengan rayuan usil mu!' gumamku sambil mendengus kesal saat dia masih terkekeh dengan tatapan 'bermain-main'.
Perjalanan tinggal lima belas menit lagi, waktu yang sebentar tapi terasa selamanya saat orang yang ada di sampingmu begitu menyebalkan.
Entah sejak kapan dia pergi ke Dinning car yang berada di gerbong lima. Tiba-tiba saja tangannya menjulur ke arahku menyerahkan satu gelas kopi latte gula aren dan sebungkus roti keju. Aku berusaha menolak, tapi dia maksa! Akhirnya aku terpaksa menerimanya walaupun aku letakkan di meja lipat.
"Aku laper banget, nggak enak dong makan sendirian. Ayo sarapan," ajaknya sambil membuka kotak nasi goreng dari restorasi kereta.
"Kamu tau gak, ini nasi apa?" tanyanya dengan mulut yang penuh terisi nasi.
"Kamu pesannya apa, Ka?"
"Coba tebak dong!"
"Nasi goreng," jawabku.
"Salah!"
"Nasi goreng spesial terasi seafood," ku jawab asal biar dia berhenti nanya.
"Hahi hoyeng hiput," jawabnya dengan suara sengaja dibuat cadel.
Aku tersenyum kecil sambil mengangguk pasrah.
Tidak cukup sampai di situ, dia terus bikin tebak-tebakan yang jawabannya cukup menghibur.
"Fay, kamu belum jawab, tujuan kamu ke Bandung untuk apa?" tanyanya.
"Pulang ke rumah," jawabku.
"Serius kamu teh orang Bandung? Sudah aku duga sih dari tadi."
"Tadi kamu bilang aku nggak ada wajah sundanya."
"Itu hanya trik!"
Aku mengernyitkan kening, menunjukkan wajah tidak sukaku akan jawabannya.
"Supaya kamu bisa lebih rileks, aku lihat kamu tegang sejak di antrian boarding pass tadi."
"Antrian? Kamu—?"
"Iya aku perhatiin kamu, tapi ternyata hari ini Tuhan sangat baik, aku bisa duduk di samping kamu."
Aku tersenyum tipis sambil melihat jam di pergelangan tangan. "Sebentar lagi sampai," ucapku.
"Oya? Wah nggak berasa ya, cepet banget. Seharusnya kita naik kereta Argo Parahyangan aja agar perbincangan kita bisa lebih lama."
Kereta berhenti di stasiun Padalarang. Sebagian penumpang berdiri termasuk aku dan Alvaro. Pria itu membawakan tas kecil milikku. Sekali lagi, itu karena dia maksa membawakannya.
Kami terpisah di depan pintu masuk stasiun, saat dua orang pria berpakaian hitam menghampiri Alvaro. Pria itu menyerahkan tas kecil milikku.
"Kamu yakin tidak ingin aku antar?" tanyanya.
"Nggak, makasih. Sebentar lagi ibu aku jemput kok," tolak ku.
"Fay, aku tulis namer teleponku di cup coffe itu. Tolong hubungi aku ya, please ... !"
"Insyaa Allah," jawabku.
"Kabari kapan kamu kembali ke Jakarta kita bisa ketemuan lagi, kan?"
"Jika Allah berkehendak tidak ada yang menghalangi kak, semoga ya. Aku nggak janji." tekadku kuat, aku akan membuang cup coffe itu.
Alvaro keluar stasiun bersama dua orang temannya. Aku berdiri menatap punggungnya yang semakin menjauh.
Satu minggu setelah itu...
"Teteh, ini cup coffe kapan. Kenapa di simpan di rak buku?!" tanya Fika, adikku.
Aku terkesiap.
Lalu berlari merampas gelas coffe yang ada di tangan Fika untuk dibuang. Satu minggu berlalu, aku tidak juga membuangnya dan terus menimbang, haruskah aku hubungi Alvaro?
Atau membuangnya, membiarkan cerita pertemuan dengan Alvaro hilang begitu saja seperti udara.
SEKIAN.
Beri dukungan untuk Cerpen keduaku ya 🙏🏼🥰🥰