Sejak kecil, aku kerap menghabiskan sore di kamar, ditemani tumpukan buku dan kertas-kertas bernilai di atas meja belajar. Lampu belajarku terus menyala hingga larut malam, sementara di ruang lain tawa terdengar samar dari televisi. Suara itu menembus dinding, namun tak pernah benar-benar mengajakku keluar. Saat itu, seolah hanya aku yang tenggelam sendirian di kedalaman malam, menjadikannya saksi bisu atas usaha yang tak pernah sungguh mereka lihat.
Sering kali aku bertanya pada diriku sendiri, “Untuk apa aku memperjuangkan semua ini? “ apakah demi menghindari makian, atau sekadar memenuhi ekspektasi yang terlalu tinggi dan menyesakkan. Ingin rasanya aku mengusir pikiran-pikiran itu, tetapi setiap kali mencoba berhenti, rasa takut kembali datang, takut dianggap gagal, mengecewakan, dihina, dan takut jika usahaku tak pernah cukup, sekeras apa pun aku mencoba. Ketakutan itu tumbuh diam-diam, mengikuti langkahku dalam setiap usaha.
Kini aku masih duduk di kursi meja belajar yang sama, dengan buku-buku yang terus berganti dan beban yang kian bertambah. Kesunyian malam tak lagi asing, hanya terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Di balik tuntutan yang terus ada, aku memilih bertahan dan percaya pada proses. Namun malam ini aku menyadari sesuatu, semua tawa itu hanya suara dari televisi yang aku nyalakan, sedangkan yang menonton tak pernah ada, mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Rumah ini tidak ramai, hanya berisik oleh benda-benda yang kubuat seolah hidup. Dan aku menulis semua ini bukan untuk mereka, melainkan untuk diriku sendiri, sebagai pengingat, bahwa aku pernah bertahan, meski dalam sepi dan sunyi.