Bab 1: Cawan Anggur Terakhir.
Cairan merah itu mengalir di sudut bibir Alinea. Bukan anggur yang manis, melainkan racun yang membakar kerongkongannya. Di depannya, pria yang ia cintai selama sepuluh tahun—Raja Kael—berdiri dengan wajah dingin, sementara tangan kirinya memeluk pinggang adik tiri Alinea, Sisilia.
"Kenapa, Kael?" bisik Alinea parau. Seluruh kekayaan keluarga besarnya telah ia serahkan untuk menaikkan pria itu ke takhta. Sekarang, ia hanya dibuang seperti sampah.
"Kau terlalu berisik, Alinea," jawab Kael tanpa emosi. "Sisilia jauh lebih berguna... dan lebih manis darimu."
Sisilia tersenyum penuh kemenangan, jemarinya membelai mahkota emas yang masih bertengger di kepala Alinea yang melemah. "Kakak, terima kasih atas segalanya. Posisi Ratu, harta keluarga kita, dan suamimu... aku akan menjaganya dengan baik."
Pandangan Alinea menggelap. Di tengah rasa sakit yang menghancurkan jantungnya, sebuah sumpah bergema dalam jiwanya: Jika ada kehidupan kedua, aku akan memastikan kalian memohon kematian di kakiku.
Bab 2: Keajaiban di Cermin Rias.
"Nona! Bangun, Nona! Hari ini adalah upacara kedewasaan Anda!"
Alinea tersentak bangun. Napasnya tersengal-sengal. Ia menyentuh lehernya—tidak ada rasa terbakar. Ia melihat ke sekeliling; ini adalah kamar tidurnya di kediaman Adipati, sepuluh tahun yang lalu.
Ia berlari ke arah cermin. Wajah di sana tampak muda, segar, dan belum hancur oleh kesedihan.
[Sistem Reinkarnasi Diaktifkan] Sebuah jendela transparan muncul di depan matanya.
Status: Hidup kembali.
Target Utama: Kael & Sisilia.
Misi Pertama: Batalkan pertunangan dengan Kael dalam 24 jam.
Alinea tersenyum dingin. "Jadi, ini nyata? Bagus."
Bab 3: Permainan Dimulai.
Sore itu, di pesta dansa kekaisaran, Kael datang dengan wajah penuh percaya diri, hendak meminta dukungan dana dari Alinea seperti yang ia lakukan di kehidupan sebelumnya.
"Alinea, aku butuh bantuanmu untuk urusan militer di perbatasan—"
PLAK!
Suara tamparan keras membungkam seluruh aula pesta. Kael memegangi pipinya, syok. Di depan semua bangsawan, Alinea menyeka tangannya dengan sapu tangan sutra seolah habis menyentuh kotoran.
"Pangeran Kael," suara Alinea tenang namun tajam. "Jangan sebut namaku dengan mulut kotor yang sering berbisik pada adik tiriku di belakang paviliun."
Sisilia yang berdiri di pojokan pucat pasi. Rencana mereka untuk berselingkuh secara diam-diam selama bertahun-tahun baru saja diledakkan oleh Alinea di hari pertama.
Alinea mendekat ke telinga Kael, membisikkan kalimat yang membuat pria itu gemetar: "Nikmati masa jayamu yang singkat ini, Kael. Karena mulai hari ini, aku akan mengambil kembali semua yang kuberikan padamu... termasuk nyawamu."
Alinea berbalik pergi, jubah mewahnya berkibar. Ia tidak lagi mengejar cinta yang semu. Ia kembali untuk takhta, darah, dan kehancuran mereka.