...
Dua jiwa dan dua dunia, sebuah cerita yang mungkin tak bisa di percaya.
- aku mencintainya namun Tuhan lebih mencintainya, sehingga ia merenggut nya dariku...
- Tuhan mungkin jahat padanya, namun aku selalu memperhatikan paras indahnya melalui hamparan awan...
----
—jatuh cinta memang manis, namun bagiku jatuh cinta hanya perihal tentang bertemu, dan berpisah lalu bersikap seolah olah tak pernah bertemu sedetik pun dari ribuan kisah yang di tulis.
______________
! Warning!
This story is a story inspired by my true story!;So don't copy it! The time, names, and setting of the story have been deliberately changed so that it is not similar to my original story!
( Nama karakter, usia, latar cerita, dan alur sengaja di ubah agar tidak mirip dengan kisah asli, namun tetap ada kisah aslinya)
______________
Kota Haarlem, Holland Utara, Belanda
Pukul : 5.30
...
Pagi itu, Haarlem terbangun dalam pelukan cahaya keemasan. Nyanyian burung-burung gereja bergema, memantul di antara dinding bata tua, menciptakan simfoni alam yang menenangkan.
Di sudut jalan yang tenang, sebuah kedai kecil berdiri kokoh—suatu suaka bagi mereka yang mencari kehangatan di tengah udara pagi yang menggigit.
Di dalamnya, seorang gadis duduk tenang. Surainya sewarna biru tengah malam, kontras dengan kulit porselennya.
Sepasang manik matanya yang berwarna baby blue berkilau layaknya permata safir yang tertimpa cahaya, bening namun menyimpan kedalaman samudera. Ia menyesap cokelat panasnya perlahan, membiarkan uapnya membelai wajah, sementara jemarinya memetik potongan roti hangat.
Ia adalah penghuni tetap bangku tepi jendela itu. Dari sana, ia bisa menatap permukaan danau yang tenang, tempat angsa-angsa putih berenang dengan keanggunan yang melankolis.
Keindahannya adalah magnet; para pemuda datang hanya untuk mencuri pandang pada paras yang seolah dipahat oleh malaikat, sementara desas-desus kecemburuan seringkali berhembus dari bibir wanita muda di sudut lain.
Namun, di balik kesempurnaan itu, ada retakan yang ia sembunyikan rapat-rapat. Kenangan yang mulai memudar, atau mungkin, sengaja ia biarkan tertimbun debu waktu.
Hari ini berbeda. Jarum jam baru menunjukkan pukul 03.00 pagi ketika lonceng pintu kedai berdenting.
Paman Carl, sang pemilik kedai, tertegun. Biasanya, gadis itu baru akan muncul saat fajar menyingsing pukul lima.
Alih-alih menyuruhnya pulang karena kedai belum resmi beroperasi, Carl justru menarik kursi di hadapan gadis itu.
"Tumben sekali kau sudah menjemput embun pagi, Jeanne?" tanya Paman Carl dengan suara serak yang hangat, senyum tipis terukir di wajah tuanya yang penuh gurat pengalaman.
Jeanne mendongak, senyumnya mekar selembut kelopak mawar.
"Hanya ingin menyapa angin pagi lebih awal, Paman. Dan sepertinya, pintu kedai Paman Carl selalu punya cara untuk terbuka bagi jiwaku yang gelisah."
Paman Carl adalah jembatan menuju masa lalunya. Sahabat karib ayahnya, Tuan John, yang kini hanya tinggal nama di nisan dingin. Kedai ini adalah satu-satunya tempat Jeanne bisa "pulang".
Di rumahnya, yang tersisa hanyalah keheningan; cangkir kopi antik milik ayahnya yang membisu dan buku favorit ibunya, Nona Dianne, yang kian usang dimakan usia. Benda-benda itu abadi, namun pemiliknya telah meluruh menjadi kenangan.
"Paman Carl," suara Jeanne bergetar. Ia mengeluarkan sebuah album foto kecil. Jemarinya gemetar saat menyentuh sampulnya yang dingin. "Aku sudah berjanji untuk menceritakan tentangnya... tentang alasan mengapa hatiku selalu tertinggal di masa lalu."
"Benarkah?" Carl menatapnya sangsi, ada nada protektif dalam suaranya. "Paman hanya takut luka lama itu akan berdarah kembali, Nak."
"Tidak apa-apa, Paman. Di dunia ini, tempatku untuk berteduh hanya ada di sini, bersamamu... dan di bawah restu Bibi Ruri." Mata Jeanne beralih pada bingkai foto Bibi Ruri yang tersenyum abadi di dinding, sosok yang telah pergi satu dekade silam.
--------
Kilas Balik: Dua Belas Tahun yang Lalu
Ding... Ting... Ding...
Lonceng sekolah berdentang nyaring, memecah kesunyian koridor. Jeanne yang berusia tujuh belas tahun berlari bak dikejar badai, mulutnya masih sibuk menggigit sepotong roti sebagai sarapan darurat.
Tepat di tikungan gerbang, takdir seolah sengaja membenturkan jalannya.
Bugh!
Ia menabrak dada bidang seorang pemuda. Keseimbangannya goyah, tubuhnya nyaris terjatuh sebelum sepasang lengan kokoh menahannya.
"Ugh... Kalau jalan itu matanya dipakai, dong!" gerutu Jeanne ketus. Ia menatap nanar rotinya yang kini tergeletak tak berdaya di atas tanah, kotor oleh debu. Lututnya perih, ada goresan kecil yang mulai memerah.
"Ah, maafkan aku. Aku tidak sengaja. Sini, kubantu berdiri," suara itu berat namun tenang. Sebuah tangan terulur di hadapannya.
Jeanne mendongak. Manik matanya bertemu dengan sepasang mata biru gelap yang sedalam palung laut milik Andrew, sang senior yang dikagumi banyak orang.
"Eh... Kak Andrew! Maaf, Kak... aku tidak sopan," Jeanne tergagap, segera berdiri dan membungkuk dalam-dalam, wajahnya kini merah padam semerah buah ceri.
"Tak apa. Kau siswi tahun kedua, kan? Jeanne Nethrine?" Andrew tersenyum lembut—jenis senyum yang sanggup membuat jantung Jeanne melakukan maraton tanpa henti.
"I-iya, benar. Kakak...Ketua pengawas bagian kerja sama, kan?" jawab Jeanne malu-malu, yang hanya dibalas dengan anggukan pelan.
Mereka berdiri mematung di depan gerbang besi yang telah terkunci rapat. Harapan untuk masuk kelas pupus sudah.
"Duh, bagaimana ini... aku telat di hari yang salah," bisik Jeanne panik, jemarinya bertautan gelisah.
"Jangan panik. Anggap saja ini keberuntungan," sahut Andrew santai, ia mulai melangkah menuju alun-alun kota yang masih sepi. "Kudengar hari ini ada uji fisik yang berat. Bukankah fisikmu sedikit... rapuh?"
Jeanne tertegun. "Eh, benar juga! Kok aku bisa lupa ya?" kegembiraan mendadak menyapu rasa takutnya. Tanpa sadar, ia menghambur dan memeluk Andrew singkat.
"Terima kasih sudah mengingatkan, Kak!"
Suasana seketika membeku. Detak jantung Andrew seolah berhenti berdetak untuk satu detik yang terasa selamanya. Jeanne yang menyadari kelancangannya segera melepaskan pelukan itu dengan wajah yang panas.
"Maaf, Kak... aku terbawa suasana," cicit Jeanne, menunduk dalam.
"Eh... tidak apa-apa kok. Santai saja," jawab Andrew. Ada nada kecewa yang terselip dalam suaranya saat kehangatan itu menghilang.
Andrew telah lama menyimpan rasa; baginya, Jeanne adalah puisi yang tak pernah sanggup ia tuliskan. Aku akan mencintaimu selamanya, meskipun hanya dari balik bayang-bayang, batinnya perih.
Tiba-tiba, langit Haarlem yang tadinya cerah mendadak muram. Butiran gerimis mulai turun, mencium aspal panas dan menebarkan aroma petrichor yang kuat.
"Kak Andrew, berteduh ke halte seberang yuk? Sepertinya hujan akan mengamuk," ajak Jeanne menunjuk sebuah halte tua di seberang jalan.
"Ayo, sebelum kita basah kuyup," Andrew meraih tangan Jeanne. Genggaman itu erat, seolah ia tak ingin melepaskannya lagi. Jeanne hanya bisa menunduk, membiarkan jemarinya tenggelam dalam kehangatan tangan Andrew.
Di halte, Jeanne melepas almamater pendeknya, meletakkannya di atas bangku kayu bersama tasnya. Langit kini benar-benar marah. Awan hitam bergulung, dan tiba-tiba
Ctar!
—suara petir menggelegar dahsyat, menggetarkan kaca-kaca di sekitar mereka.
Jeanne terlonjak, bahunya bergetar hebat.
Ia selalu benci suara petir; baginya itu terdengar seperti jeritan langit yang terluka. Tanpa aba-aba, Andrew menariknya ke dalam dekapan. Ia melingkarkan lengannya, menyembunyikan wajah gadis itu di dadanya.
"Kalau kau takut, peluk aku saja. Aku akan menjadi pelindungmu dari petir itu," bisik Andrew lembut tepat di telinganya.
"O-oke..." Jeanne meremat kemeja Andrew, menenggelamkan diri dalam aroma maskulin dan kehangatan yang asing namun menenangkan.
Di tengah deru hujan dan amukan guntur, Andrew memejamkan mata. “Jadi begini rasanya memeluk semesta yang selama ini hanya bisa kupandang dari jauh?“ Batinnya
------------
Bersambung....
Maaf yaa readerss, ini hanya prolog yang akan saya perbaiki lagi....
(Perbaikan : selasa, 17 februari 2026 [ 17.09- 17.59] )