Aku Darwin Eugene, aku adalah seorang penulis novel horror terkenal di London. Novelku yang paling laris itu berjudul Pembunuh Bertopeng. Saking larisnya aku sudah meliris sembilan seri dari novel itu. Bahkan, saat ini rumah produksi film, masih dalam proses syuting memfilmkan novel Pembunuh Bertopeng.
Hari ini, tepatnya 12 Desember 2020 adalah perilisan perdana novel Pembunuh Bertopeng seri kesepuluh. Banyak penggemarku yang berhadir untuk bisa membeli seri terbaru yang aku rilis. Aku lihat antriannya sangat panjang.
Saat hari perilisan itu, tiba-tiba ada salah satu penggemarku yang menarik perhatianku. Dia tampak mengenakan topeng di wajahnya. Semua orang di sana juga tampak tertarik melihat penampilannya. Dia mengenakan pakaian serba putih lengkap dengan lambang pentagram di bagian belakang bajunya. Persis sekali dengan karakter pembunuh yang ada di novelku. Dia juga tampak membawa tas besar berwarna hitam.
Perlahan dia ikut masuk ke dalam antrian, kulihat banyak sekali orang-orang yang mengajaknya berfoto. Aku hanya bisa menyeringai melihat tingkah para penggemarku.
Baru kali ini ada penggemarku yang berani memakai kostum itu, yang membuktikan bahwa novel yang aku tulis sangat sukses, dan aku sangat bangga dengan diriku.
Tidak beberapa lama kemudian, penggemarku yang mengenakan topeng itu tiba dihadapanku. Perlahan dia membuka tas besarnya, aku mengernyitkan dahi sambil terkekeh melihat tingkahnya. Semua orang juga ikut tertawa kecil bersamaku.
Aku dibuat kaget ketika dia mengeluarkan gergaji mesin dari tas hitamnya. Semua orang yang tadinya tertawa kecil seketika langsung terdiam dan tampak ketakutan.
Aku berdiri dari tempat dudukku, menatapnya dengan tatapan tajam.
"Hei! apa yang kau lakukan?!!" salah satu penggemarku mencoba menegur lelaki bertopeng itu.
"Kawan, apa yang kau lakukan?" ucapku pelan padanya.
Dia menatapku sejenak dan berkata, "Membuat ceritanya lebih seru!"
"Ma-ma-maksudmu?" aku bertanya dengan tergagap.
Perlahan lelaki bertopeng itu menyalakan gergaji mesinnya.
Ngeeeeeeeeng...........
Semua orang berlarian keluar dengan wajah ketakutan. Aku berusaha tenang sambil berteriak memanggil petugas keamanan. Pihak penerbitku berusaha melindungiku dengan langsung menarik tanganku ke tempat yang aman.
"DARWIN! AKU HANYA BERUSAHA MEMBANTUMU! KENAPA KAU MALAH KETAKUTAN!!!" lelaki bertopeng itu berteriak padaku, masih sambil memegang gergaji mesin ditangannya. Tangannya tampak bergetar, dia terus menatapku yang perlahan menjauh darinya.
Tidak lama, petugas polisi berdatangan dan segera mengamankan lelaki bertopeng itu. Para polisi membuka topeng yang menutup wajahnya, sekarang aku bisa melihat wajahnya dengan jelas.
Aku yang masih ada di lokasi, berusaha menemui lelaki bertopeng itu.
"Darwin, sebaiknya kau tidak menemui orang aneh itu!!!" Charles yang merupakan managerku, tampak khawatir melihatku pergi mendekati lelaki bertopeng itu. Namun, tak kuhiraukan sama sekali tegurannya itu.
***
Aku menampakkan wajahku di hadapan lelaki yang disebutkan polisi dengan nama Alex Carter itu, tangannya tampak sudah diborgol saat itu. Niatku menemuinya hanya untuk memberi nasehat kepadanya, karena aku tidak ingin penggemarku malah mencoreng namaku sendiri.
"Siapa kau?" tanyaku penasaran dengan wajah cemberut.
"Aku penggemarmu!" jawabnya singkat.
"Iya aku tahu, tapi kau tidak perlu juga sampai melakukan hal se-ekstrem ini!" aku membalas sambil mengernyitkan dahi.
"Aku hanya mencoba membantumu!"
"Membantu?, apa maksudmu?" aku kebingungan dengan jawabannya yang sangat ambigu itu.
"Membuat novelmu lebih laris!" balas Alex sambil terkekeh.
"Cerita di novelmu semakin membosankan! itulah alasanku mencoba melakukan ini!" sambungnya lagi tersenyum lebar kepadaku. Aku hanya bisa menatapnya dengan perasaan jijik di hatiku.
"Hei novelku masih laris ya! beraninya kau bicara begitu!!!" aku mulai memarahinya, namun dia malah tertawa geli melihatku.
Pembicaraan kami berakhir di situ, karena polisi saat itu perlahan menjalankan mobilnya. Alex tampak melambaikan tangannya yang masih di borgol itu kepadaku.
Kampret!!! dia bilang novelku semakin membosankan?. Bodoh! aku tak perlu percaya dengannya. Sekarangkan aku sudah merilis seri kesepuluhnya, ditambah akan segera ada film yang rilis berbasis dari novel yang aku tulis. Alex! bilang saja kau iri padaku. Aku menyeringai menatap mobil polisi yang membawa Alex dari belakang.
***
3 tahun berlalu, aku tidak pernah lagi bertemu dengan Alex Carter. Namun, anehnya aku berharap dia bisa menemuiku lagi dengan penampilan saat aku pertamakali bertemu dengannya. Kenapa?, karena novel seri kesepuluh tidak laku dipasaran. Penjualannya menurun drastis, hal ini juga berdampak pada filmnya yang baru saja dirilis beberapa bulan lalu.
Managerku mengundurkan diri dari pekerjaannya, karena aku sudah tidak mampu menggajinya lagi. Bahkan para penerbit sudah menyerah dengan cerita-cerita horror yang aku tulis. Mereka malah menyarankanku mencoba menulis cerita dengan genre lain selain horror. Sebab itulah saat ini aku masih berusaha mencoba mencari topik yang akan aku tulis.
Aku sendirian sekarang, uang tabunganku tinggal sedikit, aku juga tidak punya manager dan penggemar sebanyak dulu. Bahkan aku tidak punya keluarga maupun pasangan hidup, karena keluargaku sudah lama pergi meninggalkanku. Mereka tidak pernah menganggapku sebagai bagian dari keluarga mereka.
Kalau pasangan, sejak awal aku memang merasa tidak membutuhkannya. Hubungan orang-orang dekatku yang kebanyakan bercerai, membuatku yakin bahwa hidup di kesendirian itu lebih baik.
***
7 Agustus 2023, hari ini aku berniat untuk mencari Alex Carter. Aku ingin mengetahui alasan lebih dalam, tentang kenapa dia sampai mau mengenakan kostum karakter pembunuh di novelku itu 3 tahun yang lalu. Namun saat aku mencari ke rumahnya, keluarganya bilang Alex sedang dirawat di rumah sakit jiwa.
Setelah mendengar kabar itu, aku langsung tertarik dan terinspirasi. Gangguan kejiwaan yang Alex derita, mungkin bisa kujadikan cerita untuk karyaku selanjutnya. Aku pun langsung pergi ke rumah sakit jiwa untuk segera menemui Alex.
Aku melangkahkan kakiku ke dalam rumah sakit jiwa, dan segera menanyakan nama Alex Carter kepada resepsionis yang bertugas. Seorang perawat pun langsung membawaku ke ruang pertemuan.
Tidak lama menunggu, akhirnya Alex pun muncul dari balik pintu. Ini yang kedua kalinya aku bertemu dengannya, dan penampilannya memang tampak seperti orang yang sudah gila. Wajahnya sudah penuh dengan kumis dan janggut ditambah dengan pakaiannya yang terlihat acak-acakan.
Dia langsung menyeringai ketika melihatku dan perlahan duduk di kursi yang sudah tersedia didepanku. Kami pun langsung saling berbicara, memang sangat sulit sekali berbicara padanya. Dia menjawab dengan uring-uringan, kadang dia gelagapan dan merasa ketakutan padaku. Namun, setelah berbicara panjang lebar padanya, aku malah semakin tertarik dengan kisah Alex.
Setelah pertemuan itu aku beberapa kali mengirimkan beberapa bingkisan untuk Alex. Sebagai ucapan terima kasihku karena sudah memberikanku inspirasi lagi untuk menulis.
***
"Siaran langsung 28 Oktober 2023, telah ditemukan mayat tanpa kepala di tempat sampah perumahan Jaden Street. Ini merupakan mayat ketiga dengan kondisi yang sama dengan kedua mayat yang telah ditemukan sebelumnya. Polisi mengatakan bahwa kemungkinan besar pelakunya adalah orang yang sama. Saat ini polisi masih mencoba mencari tahu identitas pelaku. Namun, hingga saat ini belum ada keterangan lebih lanjut dari polisi mengenai pelakunya. Demikian Golden News melaporkan!" aku dibuat kaget dengan berita yang baru saja kutonton di telivisi itu. Cara pembunuhannya, sama persis dengan yang tertulis di novel Pembunuh Bertopeng.
Saat itu aku langsung berdiri, karena ingin segera menemui Alex Carter. Hanya dia satu-satunya orang yang kutahu sangat suka meniru karakter pembunuh yang ada di novelku.
Aku langsung bergegas ke rumah sakit jiwa untuk menemuinya.
Setelah tiba di rumah sakit jiwa, aku langsung mendengar kabar bahwa Alex Carter sudah melarikan diri dari rumah sakit jiwa sejak satu bulan yang lalu. Aku langsung membelalakkan mataku dan langsung terduduk di lantai, para perawat yang ada di sekitarku mencoba menenangkanku.
***
Aku kembali ke rumah dengan perasaan yang kalut.
Tok tok tok!
Terdengar seseorang tengah mengetuk pintu rumahku. Aku pun segera pergi membukakan pintu. Kulihat ada dua wanita muda di depan mataku. Mereka mengatakan padaku bahwa mereka adalah penggemar setiaku. Sama sepertiku, mereka juga menyadari adanya kesamaan novelku dengan kasus pembunuhan yang tengah ramai di perbincangkan saat ini.
"Namaku Shelly dan dia rekanku Amanda! kami bukan saja penggemarmu, tapi juga wartawan di perusahaan surat kabar Golden," ucap Shelly sambil menatap kagum padaku. Aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman lebarku sambil mengucapkan terima kasih.
"Kalian mau teh atau kopi?" sebagai tuan rumah tentu aku harus menawarkan minum pada mereka.
"Teh?" jawab Shelly kembali tersenyum lebar.
"Dua teh Mr. Eugene!" sambung Amanda pelan.
Aku langsung membuatkan teh untuk mereka. Dengan pelan mereka menghirup teh itu hingga masuk ke tenggokan.
BRAKK!!!
Tiba-tiba tampak seorang lelaki menerobos rumahku. Ternyata dia adalah Alex Carter! dia memakai topeng itu dan baju serba putihnya lagi. Ditambah dengan tas hitam yang terus digenggam oleh tangan kanannya.
Alex langsung menyerangku. Kami berkelahi dengan hebatnya, dia sedikit membuat bonyok wajahku. Saat itu aku tak ingin mengalah, dan segera mengambil pemukul bisbol yan saat itu tepat berada di sampingku. Aku langsung memukulkannya ke kepala Alex bagian belakang, dia pun langsung pingsan seketika.
***
Aku mengikat tangan dan kaki Shelly dan Amanda di kursi, sedari tadi mereka sudah pingsan setelah meminum tehku. Aku juga meletakkan Alex yang juga sedang tidak sadarkan diri di dekat mereka. Tidak lupa aku juga menutup mulut mereka dengan lakban. Aku pun duduk menunggu.
Menunggu mereka bangun. . .
Setelah beberapa saat mereka pun terbangun, dan langsung menatapku dengan tatapan yang ketakutan.
"Cuih! apa ini yang disebut penggemar!" ucapku pada mereka sambil sedikit meludah, aku sedikit jengkel dengan tatapan mereka.
Tanpa pikir panjang aku pun segera mengambil gergaji mesin dan menyalakannya ke mode on.
Ngeeeeeeeeeeng.........
Sambil menyeringai aku mengarahkannya ke arah Shelly lebih dulu. Wajah ketakutan itu adalah kesukaanku sejak korban pertama yang kubunuh.
"Hmmmmphh. . . Hmmmphhhh" sekuat apapun Shelly mencoba menggelepar, dia tidak akan bisa lepas dari ikatan itu.
"Tenang Shelly, aku akan melakukannya perlahan. . ." ucapku lembut. Dengan pelan aku mengarahkan gergaji mesin yang berputar itu keleher Shelly. Amanda yang saat itu melihatnya, terus mencoba melepaskan diri dari ikatannya.
Ngeeeeeeeeeng.......
Darah menciprat kemana-mana, kepala Shelly langsung putus seketika, terjatuh dan mengguling di lantai. Setelah itu, aku langsung menyeringai ke arah Amanda yang semakin ketakutan. Aku tertawa geli melihatnya.
"Tenang Amanda, kau akan menyusul temanmu juga. . ." ucapku sangat lembut pada Amanda. Amanda tampak menangis histeris.
"Oh kasihan. . . ya sudah, aku nggak jadi aja deh!" ucapku sambil berbalik badan dari Amanda. Wajah Amanda tampak lega, aku bisa melihatnya di pantulan kaca.
Tak berapa lama, dengan cekatan aku langsung berbalik, dan langsung mengarahkan gergaji mesin ke leher Amanda. Darahnya langsung menciprat lebih banyak dari darah Shelly, karena kulakukan dengan tiba-tiba.
Pekerjaan sudah selesai, aku segera mengambil kepala utuh Shelly dan Amanda. Aku menyeret kedua tubuh mereka yang tanpa kepala itu, untuk dimasukkan ke dalam kantong mayat. Kusimpan rapat di dalam bagasi mobilku.
Kali ini aku akan membuangnya di hutan dekat perumahan Jaden Street. Tidak lupa aku juga membawa Alex yang kududukkan di kursi belakang.
Aku membawa Alex tidak jauh dari tempat dimana aku membuang mayat Shelly dan Amanda. Keadaan Alex masih tampak tidak sadarkan diri, perlahan tubuhnya kusandarkan di salah satu pohon yang ada di hutan itu.
Aku sengaja tidak memukul wajahnya dan membiarkan dia memukul wajahku. Tidak lupa kumasukkan barang-barang penting ke tas hitam Alex yang selalu di bawanya itu. Setelah itu aku langsung kembali pulang.
Setiba di rumah aku langsung mengukir lambang pentagram di kepala Shelly dan Amanda. Kulitnya sudah kubersihkan, hingga tertinggal tengkorak mereka yang masih terlihat baru. Perlahan Ku ukir bentuk pentagram dengan alat pemahat. Hasilnya nanti akan kuletakkan dilemari koleksi tengkorak berlambang pentagram, yang tersimpan rapi di dalam basemen rumahku.
***
"Polisi telah menemukan dua mayat lagi di hutan yang tidak jauh dari perumahan Jaden Street. Saat ini juga polisi sudah berhasil membekuk tersangka yang terus berusaha melarikan diri. Tersangka tampak mengenakan topeng dan berpakaian serba putih. Seperti yang terlihat baju tersangka tampak penuh dengan darah kedua korban. Polisi juga menemukan barang bukti di tas hitamnya. Menurut Kepala kepolisian nama tersangka memiliki inisial AC, dan dikabarkan memiliki gangguan kejiwaan. Tersangka dikatakan sangat terobsesi dengan Novel karya Darwin Eugene yang berjudul Pembunuh Bertopeng. . ."
Klik!
aku matikan saja telivisinya, sudah berhari-hari itu-itu aja yang disiarkan. Saatnya menulis lagi. . .
○Author POV
Darwin mengetik judul novel di laptopnya. Dia menulis 'The Real Masked Killer'. Dalam benaknya dia berkata, 'Akhirnya aku punya bahan untuk segera menulis novelku selanjutnya' lalu dia pun langsung tersenyum lebar.
~TAMAT~
***************
~Epilog~
●7 Agustus 2023, saat Darwin menemui Alex.
"Alex! kalau kau tidak mau memakai topeng dan baju putih itu lagi, kau akan ku bunuh! BUNUH!" Darwin berbisik di telinga kiri Alex. Alex langsung memasang raut wajah ketakutan pada Darwin. Dia mengamuk ketakutan, para perawat di rumah sakit langsung turun tangan.
Setelah kedatangannya itu, Darwin selalu mengirim bingkisan untuk Alex setiap minggu. Bingkisan berupa ancaman, dan tidak lupa barang-barang yang bisa membantunya kabur dari rumah sakit jiwa.
●28 Oktober 2023, Darwin berpura-pura mencari Alex ke rumah sakit. Dia bersikap seolah-olah kaget dengan kabar kaburnya Alex dari rumah sakit jiwa. Para perawat di sana mempercayainya. Alex pun melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit jiwa dengan seringai di wajahnya.
~TAMAT BENERAN~
♧Hidup tidak selalu berada di atas melulu. Roda pasti berputar, dan jika kau sedang di masa keterpurukan, hal terbaik yang harus kau lakukan adalah bertahan dan bisa mengendalikannya♧