Matahari mulai menunjukkan keindahannya di alik embun yang sudah mulai menunjukkan bentuk-bentuknya. Suara teriakan burung dan angin sepoi-sepoi menunjukkan bahwa pagi akan datang. Suara tertawa seorang anak kecil memberikan warna untuk melengkapi keindahan pagi ini. Dia tersenyum dan berlari mendapati ku. Dia memeluk ku erat dan menyalami ku dengan lembut. Selamat pagi Miss.. ( katanya dengan lembut ). Selamat pagi sayang..balas ku dengan penuh kegembiraan.
Hati-hati ku ditemani oleh nya. Seorang gadis kecil nan mungil yang sering dipanggil Cia. Iya..namanya Cia. Setiap hari nya dia akan datang menemui ku, dengan sebiji permen dan juga cerita. Banyak hal yang kudapatkan dari nya. Pengalaman yang sangat berharga yang membuat ku sangat menyayangi nya. Kabar kepergian salah seorang dari orangtua siswa pun terdengar di kantor guru. Membuat ku tak habis fikir bahwa anak kecil yang ku sayang telah kehilangan sosok seorang ibu untuk selama-lamanya. Air mata ku tak henti menetes dan jantung ku terasa berdebar kencang.
Aku gak kuasa menahan tangis ku, hingga membuat ku lemas tak berdaya. Anak kecil yang tidak mengerti apa-apa, yang hanya bisa bermain dan harus diarahkan untuk belajar harus kehilangan sosok yang dia sayangi. Sesampainya dikost. Aku gak habis fikir dan tak ada kesedihan terlihat Dimata Cia setiap harinya kalau dia berangkat ke sekolah.
Namun, sebelum kepergian ibu nya. Cia sering diantar oleh Ayah nya. Ayah nya pun terlihat biasa-biasa saja. Tak ada kesedihan diwajah nya ataupun tak ada masalah diraut wajahnya dan sampai aku berpikir bahwa Cia adalah salah satu anak kecil yang sangat disayang fan penuh kebahagiaan. Setiap harinya, aku selalu menoleh kearah rumah nya ketika hendak berbelanja. Semua terlihat biasa-biasa saja. Namun untuk hati itu, Cia agak terlambat datang ke sekolah. Aku menunggu Cia dan setiap saat melirik ke arah gerbang sekolah berhap Cia datang bersama tas nya yang besar. Tapi Cia tak kunjung datang. Jam sudah mengarah ke pukul 07.00 terlihat Cia berangkat kesekolah bersama dengan sang Ayah. Dia langsung berlari dan memeluk ku seperti biasanya dia lakukan.
Jam istirahat pun tiba, dia menemui ku ke perpustakaan. Dia memanggil ku dengan sebutan Miss. Dia mulai bercerita kepada ku. Aku enggan bertanya tentang keadaan nya bahkan bertanya tentang ibu nya. Aku mengalihkan pikiran ku dan mengajak Cia tertawa bahagia sambil bercerita. Jam sudah menunjukkan pukul 14.00 waktunya untuk pulang dari sekolah. Aku berkemas dan siap-siap untuk pulang ke kost. Keluarga Cia datang dan menuju ruangan kepala sekolah. Kepala sekolah memanggil saya. Cia tiba-tiba berlari dan kembali memeluk ku seperti biasanya yang dia lakukan.
Seorang gadis yang sudah berumur memeluk ku dengan penuh tangisan. Dengan rasa bingung, saya membiarkan dia untuk tetap memeluk saya dan berkata : terimakasih sudah menjadi teman bagi Cia. Dia banyak bercerita tentang mu dirumah bahwa dia mempunyai teman yang sangat baik di sekolahnya. Aku mencoba untuk menahan air mata ku yang hampir menetes. Aku tersenyum memandangi wajah Cia yang juga ikut memeluk kaki ku dibawah. Sang ayah pun memohon kepada ku untuk tetap menjadi teman Cia selama disekolah. Dengan rasa bangga, aku siap menjadi teman Cia.
Namun, hal yang membuat ku sedih pun akhirnya tiba. Waktu ku disekolah tinggal 1 hari lagi. Aku akan pergi dan kembali ke kampus ku untuk menjalani masa kuliah ku. Aku menangis sepanjang malam dan tidak bisa melupakan semua yang sudah ku janjikan. Berharap bisa menjadi seorang wanita yang selalu bersama nya walau beda versi.
Aku sangat menyesali perjumpaan ini, yang membuat nya merasakan kenyamanan bersama ku. Aku sangat berharap aku bisa menepati janji ku. Hati yang ditunggu pun tiba, aku harus berpamitan dengan Cia ku. Dia menangis dan kembali memeluk ku dengan erat dan berkata : siapa yang akan menjadi teman ku bercerita di perpustakaan Miss..? Aku memeluk nya dengan erat dan mengelus rambut nya dengan lembut.
Aku berpesan kepadanya, jika Via rindu ingat Miss ya. Hubungi Miss kapan pun yang Cia mau. Miss akan kembali tapi Miss tidak tau kapan. Dalam hati aku merasa berdosa sudah menjanjikan sesuatu yang sangat diinginkan oleh seorang anak kecil yang kehilangan salah satu kebahagiaan nya. Semuanya berakhir dengan penuh air mata. Dan berharap Cia ku bisa menemukan kebahagiaan yang dia inginkan. Menemukan teman untuk bercerita dan juga berbagi permen. Namun hingga saat ini, aku tidak tau bagaimana kelanjutan nya. Apakah Cia ku bahagia..?