Fira, Dika, Farhan, dan Nia sudah merencanakan perjalanan mendaki Gunung Kelam selama beberapa minggu. Mereka berempat, yang baru saja lulus SMA, memutuskan untuk merayakan kelulusan dengan petualangan seru.
"Jadi, gunung mana yang kita pilih?" tanya Nia, sambil mengedarkan pandangannya pada teman-temannya.
"Gunung Kelam aja, deh. Katanya sih, pemandangannya indah. Lagian, dekat juga," kata Dika sambil memeriksa ponselnya.
"Setuju," sahut Farhan.
Fira mengangguk setuju, meskipun wajahnya tampak sedikit gelisah. "Oke, kita janji ketemu di terminal ya, dan naik bus bareng-bareng."
Mereka sepakat, dan rencana pun terlaksana.
Terminal BBS
Mereka berempat berkumpul di Terminal BBS, tempat mereka akan berangkat menggunakan bus menuju kaki gunung. Suasana di terminal biasa saja, tidak ada yang tampak aneh. Namun, ada satu hal yang sedikit membuat Fira gelisah Nia, sahabatnya, tampak pucat dan agak lemas.
"Lo sakit, Nia?" tanya Farhan, melihat wajah Nia yang sangat pucat.
Nia menggelengkan kepalanya. "Enggak, kok. Gak apa-apa. Cuma nggak sarapan tadi pagi. Nanti sarapan di bus aja."
Mereka tidak curiga apa-apa, jadi mereka melanjutkan perjalanan ke bus yang sudah siap berangkat.
Di Bascamp
Sesampainya di bascamp, mereka langsung menuju meja pendaftaran untuk mendaftar. Farhan yang biasanya lebih berani langsung berkata, "Daftar untuk empat orang."
Penjaga di meja pendaftaran, seorang pria tua dengan wajah serius, menatap mereka sejenak. Ada yang aneh dari tatapannya, seolah-olah pria itu merasa ada yang aneh. Namun, pria itu hanya mengangguk dan mulai menulis di buku daftar, meskipun tampak sedikit ragu.
"Kenapa dia gitu?" gumam Dika pelan pada Farhan, yang berjalan di sampingnya.
"Ah, biasa aja. Mungkin capek," jawab Farhan santai.
Mereka melanjutkan pendakian, berjalan menyusuri jalur yang sudah familiar. Perjalanan lancar sampai malam tiba. Mereka mendirikan tenda dan mulai beristirahat.
Malam semakin larut, dan suasana di sekitar mereka semakin sepi. Fira, Dika, Farhan, dan Nia duduk mengelilingi api unggun kecil, berbicara tentang masa depan dan kelulusan mereka. Namun, tiba-tiba terdengar suara yang sangat aneh—suara gamelan yang sangat pelan, seperti berasal dari kejauhan.
"Ada yang denger suara gamelan?" tanya Nia, menatap ke sekitar.
Fira mengernyit. "Itu suara apa, sih?"
Dika mencoba untuk menenangkan suasana. "Ah, paling cuma angin. Udahlah, kita tidur aja. Besok pagi kita lanjut perjalanan."
Tapi suara gamelan itu semakin keras. Dari kejauhan, tampak sosok-sosok bergerak.
"Ada orang?" tanya Farhan, merasa curiga.
"Kayaknya bukan deh," jawab Dika, matanya mulai mengarah pada bayangan yang semakin jelas. "Kita nggak sendirian di sini."
Mereka terdiam, merasa takut. Namun, suara gamelan itu tiba-tiba terhenti, digantikan dengan bisikan-bisikan halus yang datang entah dari mana.
Lalu, di tengah kabut yang mulai datang, mereka melihat sebuah pasar aneh. Pasar itu tampak seperti pasar yang berasal dari masa lalu, dengan pedagang yang mengenakan pakaian tradisional dan berjualan barang-barang aneh. Orang-orang yang ada di pasar itu seperti mengawasi mereka.
"Kenapa ada pasar di tengah gunung?" tanya Nia dengan suara bergetar.
Fira, yang sudah mulai merasa ketakutan, menggenggam tangan Nia. "Ini nggak bener. Kita harus keluar dari sini."
Mereka mencoba berlari, tapi kabut semakin tebal, dan jalan yang mereka tempuh tampak berputar-putar. Setiap kali mereka berbelok, mereka kembali ke pasar itu lagi, tidak bisa menemukan jalan keluar.
Perjalanan Makin Menyeramkan, Saat mereka berlari, mereka tiba-tiba menyadari bahwa Nia sudah tidak ada di samping mereka.
"Nia?!" teriak Fira, mencari-cari di sekitar. "Nia, di mana lo?!"
Farhan dan Dika juga ikut mencari, tapi tidak ada jawaban. Kabut semakin tebal, dan mereka semakin bingung. Akhirnya, mereka memutuskan untuk berlari secepat mungkin, mencari jalan keluar. Setelah beberapa saat, mereka melihat cahaya terang di kejauhan. Dengan segenap tenaga, mereka berlari ke arah cahaya itu dan akhirnya keluar dari kabut yang pekat.
Mereka tiba kembali di bascamp, terengah-engah dan ketakutan. Namun, ketika mereka berhenti di meja pendaftaran untuk melaporkan kejadian aneh yang mereka alami, penjaga bascamp itu justru berkata dengan tenang, "Kalian pergi bertiga kok"
"Eh? Enggak, kan? Kita ber-4," kata Farhan, bingung. "Nia hilang."
Penjaga itu menatap mereka dengan mata yang kosong. "Nggak, yang saya lihat tadi hanya kalian bertiga."
Mereka terdiam, ketakutan. Ketika mereka membuka ponsel dan mencoba menelepon Nia, ternyata Nia tidak menjawab. Lalu, mereka terkejut melihat pesan masuk dari Nia yang mengatakan, "Kalian ninggalin gue? Gue udah ke terminal kemarin! Tapi busnya udah pergi! Gue telepon nggak ada yang angkat, busnya nggak berhenti. Tega banget kalian!"
Fira menggigil. Ternyata, yang ikut bersama mereka ke gunung bukanlah Nia yang asli.
Siapa yang Mereka Bawa?
Kebingungan melanda mereka. Mereka bergegas Pulang dan pergi kerumah nia, Ternyata Nia yang asli Emang ada di rumahnya, tidak pernah ikut mereka mendaki. Lalu, siapa yang mereka bawa di pendakian itu?
Mereka tidak tahu. Namun, satu hal yang pasti mereka tidak akan pernah melupakan pendakian mereka ke Gunung Kelam, dan sosok yang mereka bawa bersama mereka itu.