Malam itu, hujan turun deras mengguyur kota kecil yang sepi. Angin membawa dingin yang menusuk, tapi di dalam sebuah kafe kecil di ujung jalan, suasana hangat terasa. Lampu kuning redup menyoroti meja kayu tempat seorang gadis bernama Nayla duduk. Matanya terpaku pada jendela, memperhatikan tetesan hujan yang berlomba di kaca.
"Nayla?" Sebuah suara berat memecah lamunannya.
Nayla menoleh dan mendapati sosok laki-laki dengan jas hitam basah kuyup berdiri di depan meja. Wajahnya yang dingin tak menyembunyikan kelegaan saat ia bertemu mata dengan Nayla.
"Raka," bisiknya, setengah tak percaya.
Raka, lelaki yang pernah menjadi segalanya bagi Nayla, kini berdiri di sana setelah dua tahun menghilang tanpa kabar. Hati Nayla bergetar—antara marah, rindu, dan kebingungan yang bercampur jadi satu.
"Aku tahu aku salah," ujar Raka sambil duduk di kursi di depannya. "Tapi aku tidak bisa lagi menghindar. Aku kembali karena aku tidak bisa melupakanmu, Nayla."
Nayla terdiam. Wajahnya menyiratkan luka yang belum sepenuhnya sembuh.
"Dua tahun, Raka," suaranya bergetar. "Dua tahun aku menunggu penjelasan, dan kau hanya pergi begitu saja. Apa yang kau harapkan dariku sekarang?"
Raka menunduk, menatap tangan yang saling menggenggam erat di atas meja. "Aku pergi karena aku takut. Aku takut kehilanganmu, dan aku pikir menjauh adalah cara terbaik agar aku tidak menyakitimu. Tapi aku salah. Kehilanganmu justru lebih menyakitkan."
Nayla menghela napas panjang, mencoba meredam amarah yang membuncah di dadanya. "Raka, aku bukan seseorang yang bisa kau tinggalkan dan kembali kapan pun kau mau."
Raka mengangguk pelan, matanya memancarkan kesungguhan. "Aku tahu aku tak pantas, tapi aku di sini untuk memperbaiki semuanya. Aku hanya ingin kau tahu, Nayla, sejak dulu sampai sekarang, kau tetap menjadi satu-satunya milikku. Only your mine."
Hening. Kata-kata itu menggantung di udara, membuat Nayla terjebak di antara kenangan manis dan luka lama.
"Apa kau pikir semuanya akan kembali seperti semula hanya karena kau mengatakan itu?" tanya Nayla, suaranya dingin.
"Tidak," jawab Raka lirih. "Tapi aku ingin membuktikan bahwa aku tak akan pergi lagi. Aku ingin kau percaya padaku, Nayla."
Hujan di luar mulai mereda, meninggalkan aroma tanah yang basah. Nayla menatap Raka dalam-dalam, mencari jawaban di matanya.
"Ini tidak akan mudah," kata Nayla akhirnya. "Aku tidak tahu apakah aku bisa percaya lagi, tapi..." Ia menggantungkan kalimatnya, kemudian melanjutkan dengan suara yang hampir tak terdengar. "Aku masih mencintaimu."
Senyum kecil muncul di wajah Raka, tapi ia tahu ini bukan akhir dari perjuangannya.
"Aku akan membuatmu percaya lagi, Nayla. Karena kau adalah satu-satunya milikku, seperti aku adalah milikmu."
Dan malam itu, di bawah langit yang kembali tenang, mereka mencoba merajut kembali benang yang pernah putus, perlahan, dengan hati yang penuh kehati-hatian.