Matahari mulai condong ke barat, menyisakan semburat jingga di langit yang membentang di atas perkebunan tebu di Jawa. Angin sore membawa aroma khas tanah basah dan dedaunan yang baru dipotong. Sebuah kereta kuda berhenti di depan sebuah rumah besar bergaya kolonial, tempat tinggal Van Der Vliet, seorang administratur perkebunan Belanda.
Dari dalam kereta itu turun seorang pemuda, berusia sekitar dua puluh lima tahun, dengan kulit sawo matang yang memancarkan aura ketenangan. Namanya adalah Darma, seorang asisten administratur yang sudah bekerja di perkebunan itu selama lima tahun. Meski pekerjaannya kerap membawanya dekat dengan keluarga Belanda tersebut, ia tidak pernah merasa benar-benar diterima di antara mereka.
Namun, ada satu pengecualian: Helena Van Der Vliet, putri administratur itu.
Helena adalah gadis berusia dua puluh tahun yang tumbuh besar di tanah Jawa. Rambutnya pirang keemasan, tetapi matanya memancarkan kehangatan yang berbeda dari kebanyakan orang Belanda lainnya. Ia fasih berbahasa Jawa, dan ia menyukai segala sesuatu yang berbau lokal—dari makanan hingga cerita rakyat. Darma sering kali menjadi pemandunya, mengajari Helena tentang budaya dan kehidupan pribumi.
Awalnya, hubungan mereka sebatas tuan dan pelayan. Namun, seiring waktu, percakapan ringan berubah menjadi diskusi mendalam, dan tatapan biasa menjadi sesuatu yang lebih sulit diartikan.
---
Hari itu, Helena duduk di bawah pohon mangga besar di belakang rumah. Di tangannya ada sebuah buku catatan tempat ia biasa menulis puisi atau melukis sketsa sederhana. Ketika Darma menghampirinya, ia tersenyum kecil, tetapi ada sesuatu di matanya yang tidak biasa—seperti kegelisahan yang tertahan.
"Kau terlambat, Darma," katanya, mencoba terdengar santai.
"Maaf, Nona. Kereta tadi macet di jalan berlumpur," jawab Darma, sedikit menundukkan kepala.
Helena tertawa kecil. "Kau tahu aku tidak suka kau memanggilku Nona. Helena saja."
Darma hanya mengangguk pelan. Ia tahu batas-batas yang tidak boleh dilanggar, meski hatinya sering kali ingin mengabaikannya.
Helena menutup bukunya dan menatap Darma dengan serius. "Ada yang ingin kubicarakan."
"Ada apa, Helena?"
"Ayahku... dia ingin aku kembali ke Belanda. Katanya sudah waktunya aku menikah, dan—" Helena berhenti, menelan ludah dengan susah payah. "Dia sudah memilihkan calon untukku."
Dunia Darma seakan runtuh mendengar kata-kata itu. Ia sudah tahu bahwa kebersamaan mereka tidak akan bertahan lama. Hubungan seperti mereka tidak akan pernah diterima, tidak di dunia ini, tidak di zaman ini.
"Tapi aku tidak ingin pergi," lanjut Helena, suaranya nyaris berbisik.
Darma menatapnya, berusaha menahan emosi yang bergolak di dalam dirinya. "Helena, kau tahu ini sulit. Kau adalah putri seorang Belanda, sementara aku hanyalah seorang pribumi."
"Tapi aku mencintaimu," kata Helena tegas, tanpa ragu.
Kata-kata itu menghantam Darma seperti ombak besar. Ia juga mencintai Helena, lebih dari apa pun di dunia ini. Tapi cinta mereka adalah sesuatu yang tidak mungkin.
---
Malam itu, Darma tidak bisa tidur. Ia memikirkan Helena, memikirkan masa depan yang tidak pernah bisa mereka miliki. Ia tahu bahwa jika Helena pergi ke Belanda, ia tidak akan pernah melihatnya lagi. Namun, jika ia memutuskan untuk melawan, apa yang bisa ia lakukan?
Keesokan harinya, Darma mengambil keputusan. Ia menemui Helena di tempat biasa mereka bertemu, di tepi sungai kecil di ujung perkebunan.
"Helena," katanya, suaranya bergetar, "aku tidak bisa membiarkanmu pergi tanpa mengatakan ini. Aku juga mencintaimu."
Helena menatapnya dengan mata berbinar, tetapi Darma melanjutkan sebelum ia sempat berkata apa-apa.
"Tapi cinta kita tidak mungkin. Aku tidak ingin kau menderita karena aku, dan aku tidak ingin melihatmu dipisahkan dari keluargamu."
Helena menggenggam tangan Darma erat-erat. "Aku tidak peduli apa kata orang. Aku hanya ingin bersamamu."
"Tidak, Helena," kata Darma pelan tapi tegas. "Ini bukan hanya tentang kita. Ini tentang dunia tempat kita hidup. Dunia ini tidak adil, dan kita tidak bisa mengubahnya."
Helena menangis, tapi Darma tidak membiarkan dirinya goyah. Ia tahu bahwa melepaskan Helena adalah keputusan yang paling sulit, tetapi juga yang paling benar.
---
Dua minggu kemudian, Helena meninggalkan Jawa menuju Belanda. Di pelabuhan, Darma berdiri di kejauhan, menyaksikan kapal yang membawa Helena berlayar menjauh.
Helena menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya, berharap bisa melihat Darma. Tapi yang ia lihat hanyalah kerumunan orang di dermaga, dan ia tahu bahwa Darma tidak akan pernah kembali ke dalam hidupnya.
---
Tahun-tahun berlalu, dan Darma tetap tinggal di perkebunan itu. Ia hidup sendiri, mengenang Helena dalam diam. Ia tahu bahwa cinta mereka adalah sesuatu yang indah, tetapi juga sesuatu yang tidak pernah bisa ia miliki sepenuhnya.
Helena, di sisi lain, menjalani kehidupan baru di Belanda. Ia menikah dengan pria pilihan ayahnya, tetapi hatinya selalu tertinggal di Jawa.
Dan meski mereka tidak pernah bertemu lagi, dalam hati mereka, cinta itu tetap hidup—seperti bintang yang terus bersinar meski jauh di balik awan.