.
.
.
.
Hujan selalu punya cerita. Bagi Awan, hujan adalah suara yang menemani kesendiriannya. Bagi Ayu, hujan adalah kenangan akan hari-hari di mana ia bisa bersandar pada seseorang yang kini hanya tinggal bayangan.
Malam itu, di sebuah warung kopi kecil di tengah kota, Awan duduk di sudut ruangan. Suara hujan deras di luar berpadu dengan denting gelas dan obrolan ringan para pengunjung. Namun, perhatian Awan terhenti pada seorang wanita yang baru saja masuk, dengan rambut basah dan jaket yang meneteskan air.
Wanita itu duduk di meja seberang, mengeluarkan buku catatan kecil dan mulai menulis. Sesekali ia berhenti, memandangi hujan yang mengguyur kaca jendela.
---
Awan tidak bisa menahan rasa penasaran. Wanita itu, dengan senyum kecil yang sesekali muncul, terlihat seperti menyimpan kisah yang terlalu berat untuk dibagi. Tanpa sadar, ia mendekat.
"Maaf, saya tidak bermaksud mengganggu. Tapi, saya melihat Anda menulis. Apakah itu puisi?" tanyanya, dengan nada ragu.
Wanita itu mengangkat wajahnya, menatap Awan dengan mata cokelat yang dalam. "Ya. Puisi tentang hujan," jawabnya singkat.
Awan tersenyum. "Hujan selalu punya cerita, ya? Apa Anda suka hujan?"
Wanita itu mengangguk pelan. "Suka. Tapi, bukan karena keindahannya. Hujan mengingatkan saya pada pelukan yang pernah menghangatkan saya, tapi kini hanya menjadi kenangan."
---
Awan terdiam. Ia tidak ingin terlalu jauh masuk ke dalam cerita orang lain, tapi sesuatu tentang wanita itu membuatnya merasa bahwa mungkin, ia bisa membantu.
"Nama saya Awan," ujarnya, mencoba mengalihkan suasana. "Dan Anda?"
"Ayu," jawab wanita itu, kembali menunduk ke bukunya.
Malam itu, mereka tidak banyak bicara lagi. Tapi, Awan tidak bisa melupakan kesedihan di mata Ayu.
---
Hari-hari berlalu, dan Awan mulai sering datang ke warung kopi itu, berharap bertemu Ayu lagi. Kadang ia datang tanpa hasil, hanya duduk sendiri ditemani secangkir kopi hitam. Tapi suatu malam, Ayu muncul kembali, membawa buku catatannya yang sama.
"Kita bertemu lagi," sapa Awan, mencoba menyembunyikan kegembiraannya.
Ayu tersenyum tipis. "Ya, ternyata saya sering ke sini."
Obrolan mereka perlahan menjadi lebih panjang. Awan mulai mengenal sisi lain Ayu—seorang wanita yang pernah kehilangan cinta sejatinya karena penyakit yang merenggutnya terlalu cepat. Hujan, baginya, adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa dekat dengan kenangan itu.
"Tapi kenangan bukan sesuatu yang harus kita peluk terus-menerus," kata Awan suatu malam, ketika hujan deras mengguyur di luar. "Kadang, kita harus melepaskannya agar bisa memeluk sesuatu yang baru."
Ayu menatap Awan, kali ini dengan mata yang berkilau. "Kau benar, Awan. Tapi melepaskan tidak semudah itu."
---
Malam itu, untuk pertama kalinya, Ayu membiarkan Awan masuk ke dalam dunianya. Mereka berbicara sampai larut, tentang hujan, kehilangan, dan bagaimana hidup terus berjalan meski rasa sakit itu tetap tinggal.
Awan tidak tahu apakah ia bisa menyembuhkan luka Ayu, tapi ia tahu bahwa ia ingin mencoba.
---
Beberapa bulan kemudian, hujan masih turun seperti biasa. Tapi kali ini, Ayu tidak lagi duduk sendiri di warung kopi itu. Di sebelahnya, Awan menemani, dengan senyum hangat dan tangan yang siap menggenggam kapan saja Ayu merasa kesepian.
Hujan tidak lagi hanya menjadi kenangan pahit bagi Ayu. Bersama Awan, hujan menjadi awal dari cerita baru—cerita tentang pelukan yang akhirnya kembali hadir, tidak hanya di bawah derasnya air, tapi juga di dalam hati.
.
.
.
.
njayyy