Hujan membasahi kota seribu bunga, di tambah dengan suara kendaraan yang saling bersahutan dengan derasnya air hujan.
Wajah sendu seorang wanita ia menatap langit langit kamar nya yang gelap perasaan nya campur aduk, bimbang dengan apa yang di jalani nya ,sesak seperti tenggelam ke dasar lautan yang begitu dalam ,air mata nya mengalir deras bak sungai meluap , hati nya perih saat kenangan kesedihan bermunculan di otaknya, tubuh nya juga seperti kesetrum listrik tegangan tinggi .
Menangis tanpa suara itu yang hanya bisa dilakukan sang wanita yang usianya baru 21 tahun itu ,sudah cukup tua mungkin tapi ia masih belum tau arti sesungguhnya dari kehidupan ia putus asa , kehilangan arah,ia juga sempat menyerah dengan hidup nya itu .
" Ibu ,ayah ,aku minta maaf ya kalo aku blum bisa menjadi anak yang berbakti dan anak yang ibu ayah harapkan " kata wanita itu di dalam hati nya dengan derai penuh air mata .
Panggil saja ia senja, ia masih bingung dengan dirinya sendiri dan takdir nya kenapa harus dirinya yang merasakan pahitnya hidup. ( Pahit melebihi kopi tumbruk tanpa gula ) .
Senja juga sempat berfikir apakah mereka yang yatim-piatu juga merasa apa yang ia rasakan ini , merindukan pelukan hangat kedua orang tua, merindukan masakan yang mereka buat , merindukan canda tawa saat berkumpul bersama.
" Andai jika senja dulu gak di lahir kan , mungkin ibu,ayah sekarang masih ada ya ,dan kakak gak akan terbebani dengan kehadiran ku ,iya kan " tanya dalam hati, hatinya kembali ngilu dan kesetrum .
Lelah dengan diri nya sendiri yang belum berdamai dengan keadaan dan diri sendiri,lelah karena mood naik turun,lelah karena selalu di salahkan lelah dengan hidup nya sendiri.
Ingin rasanya ikut kedua orang tua nya tetapi logika selalu mematahkan pikiran nya yang selalu meminta untuk bunuh diri, sempat dulu ia terpuruk karena lelah dengan emosi yang ia pendam .
SMA senja di diagnosa mengalami gangguan mood disorder selama setengah tahun ia bolak balik ke RS untuk menjalani perawatan medis, satu bulan sekali senja memeriksa kondisi mental nya .
Dan berhenti saat SMA Kelas 2 ia lelah meminum obat yang tidak ada efek nya sama sekali, setelah berhenti ia semakin parah mulai menyayat tangan nya sendiri dan berulang kali mencoba bunuh diri dan sampai sekarang senja masih belum bisa menghentikan kebiasaan buruk nya walaupun sudah lebih baik dari yang dulu .
Mungkin ia merindukan teman teman kuliah ,ia membutuhkan canda tawa teman teman nya agar otak nya tidak tertekan tapi saat malam hari senja murung kembali, senja suka dengan suara kebisingan tapi tidak suka dengan suara teriakan anak kecil.
" Apakah aku nanti bisa bahagia dan sukses, semoga saja bisa tapi , kapan masa itu datang" kata nya masih merenung dengan memandang langit langit kamar nya .
Pikiran nya kacau ,ia sempat berfikir jika ia mati apakah kakak nya bahagia atau sedih, memikirkan jika kedepannya ia sudah lulus S1 apakah langsung bekerja atau gimana, apakah akan mudah bergaul dengan guru guru yang akan menjadi partner nya nanti, memikirkan siapa yang akan manjadi suaminya kelak ,atau senja tidak menikah, memikirkan KIP -K nya takut jika di cabut apakah ia akan putus kuliah .
Suara bentakan masih membekas di kepala dan pikiran nya ,jika bisa senja ingin menebas otak nya agar tidak teringat hal hal yang membuat nya sakit itu .
Mungkin senja stress karena terlalu lama liburan ia butuh teman teman nya atau malah butuh istirahat dengan tidur selama lama nya bersama dengan kedua orang tua nya .
Tetapi senja bersyukur dan senang karena bisa bertahan sampai di usia 21 tahun ini jika saat 17 tahun lalu ia berhasil bunuh diri mungkin kini ia tidak bisa merasakan bangku kuliah dan merasakan canda tawa orang orang di sekitar nya .
Senja selalu berharap semoga kedepannya bisa lebih bahagia dari sekarang .
Waktu berlalu begitu cepat hingga datang di mana senja merasakan kehampaan itu semakin dalam ,kakak nya menikah ia bahagia sangat bahagia malah tapi di sisi lain ada ruang kosong di hati nya ,dimana perhatian sang kakak tidak lagi untuk diri nya seorang tetapi untuk keluarga baru nya .
" Ayah ,ibu ini hampir satu tahun kakak menikah dan sudah dikaruniai seorang anak laki-laki yang lucu , sekarang aku harus bagaimana untuk menjalani semuanya?" Tanya nya pada sebuah foto kecil yang ia pegang .
Senja tidak suka rasa sesak , hampa ,kosong itu datang lagi di kala ia terpuruk atau mood nya sedang turun .
Plakk
Suara tamparan ringan di pipi senja
" Semangat sanja ,gak boleh putus asa , semangat" kata senja sembari menyemangati dirinya sendiri jangan sampai kelakuan nya saat SMA kambuh kembali.
Senja terus melangkah mengikuti jalan takdir yang telah di tentukan oleh tuhan ia yakin di belik semua cobaan yang diberikan nya ini pasti ada sebuah kejutan nanti nya baik itu dalam bentuk kebahagiaan ataupun kesedihan.