Cerita Luna
Di hutan mistis yang penuh rahasia, seorang petualang muda bernama Luna menemukan jalan tersembunyi.
Awalnya, Luna ketakutan, namun dalam hati kecilnya ada rasa penasaran yang seolah menyuruhnya masuk ke jalan tersembunyi itu.
Luna menelan ludah, mengambil napas dalam-dalam, lalu melangkah masuk ke jalan yang gelap dan sunyi itu. Saat melangkah, dedaunan kering berderai di bawah kakinya, seolah-olah hutan itu sendiri memanggilnya lebih dalam.
Langkah demi langkah ia lakukan dengan kaki gemetar, ketakutan menyelimuti dirinya, sampai saat berikutnya langkah kaki kiri menginjak tanah, tak sengaja Luna menginjak ranting yang menimbulkan suara. Dan suara itu membuat dirinya terkejut dan takut, lalu mulai lari terbirit-birit ke arah jalan tersebut hingga arahnya lebih dalam.
Saat berlari, kabut tebal tiba-tiba menyelimuti sekitarnya, membuatnya sulit melihat apa pun selain bayangan-bayangan gelap. Tiba-tiba, Luna terjatuh dan menemukan sebuah pintu tua yang tersembunyi di balik semak-semak lebat. Pintu itu terbuka perlahan dengan sendirinya, seolah-olah menunggu kedatangannya.
Dia begitu takut untuk masuk ke dalam pintu misterius itu. Saat melihat pintu tua itu terbuka, Luna segera bangkit dari jatuhnya, lalu berpikir untuk pergi dari jalan itu. Tapi saat menoleh ke belakang, ia melihat sudah terlalu jauh kabut di mana-mana. Di begitu bingung hingga akhirnya muncul suatu benak di pikirannya, "Apa ini jalan keluarnya?"
Luna menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata, dan mengambil keputusan. Ia melangkah masuk ke dalam pintu tua itu, yang langsung tertutup di belakangnya dengan suara keras. Suara itu disusul keheningan yang mencekam. Luna membuka mata, dan terkejut melihat dirinya berdiri di sebuah ruangan besar dengan dinding-dinding yang dihiasi lukisan-lukisan misterius.
Anehnya, lukisan-lukisan itu dipenuhi dengan gambar yang berwujud ayahnya. Ia begitu ketakutan dalam ruangan itu hingga menelan ludahnya berkali-kali, bulu kuduknya berdiri, dan leheranya mulai dingin. Luna terus berteriak memanggil ayahnya, "Ayaaaaaah!"
Suara teriakannya memantul di dinding ruangan, namun jawaban yang diterimanya hanya kesunyian. Tiba-tiba, lukisan di dinding mulai bergerak, gambar ayahnya mulai tersenyum dan membuka mata. Suara lembut terdengar, "Luna, anakku, aku telah menunggumu."
"Ayaaaaaah!" teriakan itu kembali ia lonjarkan, hingga membuat orang-orang di pemakaman ayahnya terkejut. Rupanya itu semua adalah mimpi Luna yang tengah tertidur di tengah-tengah acara pemakaman ayahnya. Dirinya terbangun dari tidurnya dan berteriak, "Ibu, aku bermimpi ada Ayah!" Suara isak tangis dan air matanya yang masih mengalir membuat ibunya hanya bisa menjawab dengan tetesan air mata.
Ibu Luna memeluknya erat, "Aku juga, Nak. Aku juga merindukan Ayah. Semoga beliau selalu menjaga kita dari atas." Luna menangis dalam pelukan ibunya, merasakan kesedihan yang tak terhingga. Saat itu, angin sepoi-sepoi berhembus, membawa daun kering ke dekat kuburan Ayahnya. Pada daun itu, tercetak kata-kata yang tak terduga: "Aku selalu bersama kalian."