.
.
Malam itu, Raka duduk di balkon kecil rumahnya. Kopi hitam mengepul di genggamannya, sementara matanya terpaku pada langit malam. Bulan bersinar penuh, dikelilingi bintang-bintang yang tersebar, seolah berbincang dalam sunyi. Pemandangan itu selalu membuatnya berpikir. Tentang harapan. Tentang jarak. Tentang kebersamaan yang terkadang hanya menjadi angan.
Ia menarik napas dalam-dalam. Raka adalah tipe orang yang sulit percaya pada keajaiban, tapi malam ini, pemandangan langit seolah ingin menyampaikan sesuatu.
“Apa kabar, Lintang?” gumamnya lirih, menyebut nama seorang perempuan yang sejak setahun lalu hanya hadir dalam kenangan.
Lintang, sahabat kecil sekaligus cinta pertamanya. Mereka tumbuh bersama di sebuah desa kecil yang damai, jauh dari hiruk-pikuk kota. Lintang adalah gadis yang selalu memandang dunia dengan optimisme. Dia percaya bahwa selama Tuhan mengizinkan, segala hal mungkin terjadi.
Namun, hidup tidak selalu seindah keyakinan itu.
---
Setahun yang lalu, mereka berjanji di bawah langit yang sama. “Kamu yakin mau pergi sejauh itu?” tanya Raka saat mereka duduk di tepi sungai kecil desa mereka.
Lintang tersenyum, senyuman yang selalu membuat Raka lupa pada segala keraguannya. “Aku yakin. Aku harus pergi kalau mau mimpi kita jadi nyata. Kita tidak bisa selamanya terjebak di sini, Ka.”
Raka mengangguk pelan. Ia tahu Lintang benar. Tapi ada satu hal yang tidak ia ungkapkan—takut kehilangan.
Lintang pergi ke kota besar untuk mengejar mimpinya menjadi dokter, sementara Raka tetap tinggal, menjaga sawah keluarga dan menjalani kehidupan sederhana. Mereka tetap berkomunikasi, tapi jarak adalah musuh yang sulit dikalahkan. Perlahan, kabar dari Lintang semakin jarang, dan akhirnya berhenti sama sekali.
---
Raka kembali menatap langit malam. “Kita pernah berjanji di bawah langit yang sama, Lintang. Tapi sekarang, aku bahkan tidak tahu di mana kamu.”
Bulan yang menggantung di langit seakan menatapnya penuh iba. Bintang-bintang berkedip seperti mencoba berbicara, tapi Raka tahu, ini semua hanya perasaannya sendiri.
Ponselnya tiba-tiba bergetar, memecah lamunannya. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
"Ka, kalau kamu masih ingat aku, temui aku di taman kota minggu depan. Aku ingin membuktikan kalau aku tidak melupakan janji kita."
Raka tertegun. Hatinya berdebar. Pesan itu singkat, tapi cukup untuk membangkitkan harapan yang hampir padam.
---
Seminggu kemudian, di bawah langit sore yang perlahan berubah menjadi malam, Raka duduk di sebuah bangku taman kota. Tempat itu ramai oleh anak-anak kecil yang bermain dan pasangan muda yang bercengkerama.
Namun, hanya satu sosok yang ia tunggu.
Lintang muncul, dengan senyuman yang sama seperti dulu, tapi kini wajahnya terlihat lebih matang. Ada kehangatan yang tetap terpancar meskipun waktu dan jarak telah memisahkan mereka begitu lama.
“Lintang…” Raka berdiri, suaranya serak oleh emosi.
“Kamu datang,” jawab Lintang sambil tersenyum.
Ada jeda hening di antara mereka. Seperti ada terlalu banyak yang ingin diucapkan, tapi tidak tahu harus mulai dari mana.
“Aku…” Raka mencoba bicara, tapi Lintang menghentikannya dengan lambaian tangan.
“Aku tahu. Aku minta maaf karena aku berhenti menghubungi. Tapi aku tidak pernah lupa, Raka. Aku hanya sibuk membuktikan pada dunia bahwa kita bisa mencapai mimpi kita.”
Lintang bercerita tentang perjuangannya selama setahun terakhir. Tentang bagaimana ia harus bekerja sambilan sambil kuliah, tentang kegagalan yang ia alami, dan tentang bagaimana ia selalu teringat pada Raka saat merasa ingin menyerah.
“Kamu tahu kenapa aku bertahan?” tanya Lintang, matanya berkaca-kaca. “Karena aku percaya, selama Tuhan mengizinkan, segala hal mungkin terjadi. Bahkan, kembali bertemu denganmu di sini.”
Raka tersenyum tipis, merasakan hatinya yang selama ini dingin mulai hangat kembali.
“Malam itu, kamu bilang, kita tidak bisa selamanya terjebak di sini. Tapi aku tidak pernah berhenti menunggumu, Tang. Karena aku tahu, pada akhirnya, langit yang sama akan membawa kita kembali bersama.”
Bulan kini sudah menggantung di atas kepala mereka, dan bintang-bintang mulai bermunculan. Seperti menjadi saksi dari janji yang perlahan kembali hidup di antara dua hati yang pernah terpisah.
---
Langit, bumi, bulan, dan bintang. Mereka tetap diam, tapi menjadi saksi perjalanan dua insan yang kembali menyulam asa. Dalam hidup, jarak dan waktu memang sering menjadi penghalang, tapi selama ada harapan dan usaha, bersama bukanlah kemustahilan.
Dan mereka, Raka dan Lintang, adalah bukti bahwa janji di bawah langit tidak pernah benar-benar hilang.
.
.
.
.
.
.
Semua terinspirasi dari puisi ini...
Sekumpulan Motivasi
Bintang masih bersinar
Masih bercengkerama
Dengan bulan yang rupawan
Dalam semesta malam yang panjang
Bumi yang menyaksikan
Tetap mengharapkan bintang
Padahal bulan masih setia
Selama Tuhan mengizinkan
Bersama bukan kemustahilan
•________________________________•