Ryan, seorang mahasiswa semester 6 psikologi memutuskan untuk membuka sebuah kedai kopi sebagai tambahan data untuk penelitian nya.
Saat membuka kedai, ia sama sekali tidak berkeinginan untuk mencari keuntungan, ia hanya ingin mendengarkan cerita-cerita dan pengalaman dari orang-orang yang duduk di kedainya.
Ryan awalnya berpikir begini, "Secangkir minuman, akan membuat orang lebih terbuka,".
Dan ini, adalah hari pertamanya membuka kedai "Afeksi Coffe".
Tak lama setelah papan bertuliskan "Buka" dibalik, seorang remaja datang, remaja laki-laki dengan seragam SMA.
Ia duduk di sebuah kursi bundar, berhadapan langsung dengan Ryan sebagai barista.
Ryan bertanya, "Selamat datang di afeksi, ada yang bisa dibantu?".
Dengan sedikit senyum remaja itu menjawab, "Ah, hot latte aja mas,".
Ryan mengangguk, dan langsung membuatkan pesanannya. Sesekali Ryan menengok ke arah remaja itu untuk memastikan apakah yang ia pikirkan sebelumnya benar.
Dalam hatinya Ryan berbisik, "Mata yang sayu, dan senyum yang berat, ku kira hanya perkiraan ku saja."
Selesai membuat pesanan, Ryan langsung menyajikannya. Dan lagi-lagi, remaja itu menyaut dengan senyum yang terlihat berat.
Ia pun meminum latte yang telah di sajikan, sambil sesekali menatap ke arah ponsel yang terletak di sisi kirinya.
"Apakah ini tentang perempuan?" Tanya Ryan sambil tersenyum.
Remaja itu mengangguk, "Iya."
"Dan diliat dari ekspresi mu, sepertinya sedang ada hal yang terjadi," sambung Ryan.
"Iya mas, saya merasa akhir-akhir ini sikapnya sangat berubah. Saya merasa kalo saya hanya excited sendiri di hubungan kami." Jelas remaja itu.
"Kenapa kamu bisa mikir gitu?"
Pemuda itu mengambil handphone nya, "Dulu di setiap obrolan, baik itu di chat atau di real life dia selalu keliatan excited dan semangat, tapi sekarang kami sangat jarang punya waktu untuk ngobrol berdua, di chat pun balasannya selalu singkat, apa dia udah bosen ya sama saya,".
"Ahh..., komunikasi ya, begini, aku ngerti banget perasaan kamu sekarang, dan aku juga ngerti kalo kamu takut dia udah bosen atau lebih buruknya nemu cowo lain kan?"
Ia mengangguk mendengar pertanyaan Ryan.
"Sayangnya, aku nggak bisa ngasih kamu jawaban, kamu harus tanya sendiri ke orangnya langsung, tanyakan, 'kenapa kamu jadi begini, alasannya, dan kalo kamu masih se sayang itu, tanyain juga soal bagaimana caranya kembali seperti dulu',"
Ia lalu bertanya kepada Ryan, "Gimana kalo dia emang udah suka sama cowo lain?"
"Berarti dia emang bukan buat kamu, begini, memang betul perubahan sikap seseorang itu sangat membuat overthinking, apalagi perubahan sikap dari orang yang kita sayang. Tapi bagaimanapun juga, kunci hubungan itu ada cowo dan komunikasi yang baik dari kedua pihak, kalo kamu masih yakin sama hubungan ini, komunikasi itu harus kamu yang usahakan, dan buat dia, kalo dia emang bener-bener punya perasaan yang sama ke kamu, dia juga pasti bakalan nyari momen untuk komunikasi itu. Jadi pertanyaan nya sekarang apakah kamu masih mau memperbaiki hubungan ini?"
"Iya, aku pengen wujudin semua mimpi-mimpi kami," jawabnya dengan sedikit senyum.
Mendengar jawaban itu Ryan pun ikut tersenyum, dan berkata kembali, "Maka dari itu tanyakan padanya, kalo dia emang buat kamu, maka dia juga akan mengusahakan komunikasi itu,".
Mendengar itu, ia pun langsung menghabiskan minuman nya, meletakan sejumlah uang dan langsung pergi dengan tas yang sudah terpasang di pundak.
Saat di depan pintu kedai, ia menghadap ke arah Ryan dan tersenyum lebar, "Terimakasih buat sarannya,".
Ryan membalas nya dengan senyuman dan lambaian tangan.