Reito Suzuki dan Asami Amano adalah detektif handal yang telah memecahkan banyak misteri. Sekarang, mereka berdua ditunjuk untuk memecahkan kasus pembunuhan seorang CEO.
“Jadi korban bernama Hiroshima Anabuki. Seorang CEO perusahaan software. Ada 3 orang yang dicurigai sebagai tersangka," Reito menganalisis kasus.
“Ya, ketiga orang itu ada di sini," sahut Asami.
“Baiklah, kami akan mulai menginterogasi kalian," ucap Reito.
“Mulai dari Anda," ucap Asami sambil menunjuk seorang wanita paruh baya.
“Nama saya adalah Hiroshi Tanaka. Saya adalah pembantu rumah tangga di rumah ini. Saya benar-benar tidak tahu menahu saat pembunuhan Ibu Ana," jelas Hiroshi..
“Nama saya adalah Refa, saya adalah saudara kandung dari Ibu Ana. Saat pembunuhan berlangsung, saya sedang berada di meja belajar untuk membaca buku," ujar Refa.
“Saya adalah Gerry, saya adalah seorang supir pribadi Nyonya Ana. Saya juga tidak tahu menahu tentang pembunuhan ini," ujar Gerry.
“Hmm... Baiklah, kami akan mulai penyelidikan terlebih dahulu. Kalian tetap di sini!" perintah Reito.
Reito dan Asami mulai mengecek satu persatu sudut rumah untuk menemukan bukti. Mereka tiba di kamar Nyonya Ana, tempat terjadinya pembunuhan. Reito dan Asami terkejut, saat melihat kondisi kamar yang berantakan.
“Apakah ini kasus pembunuhan dan pencurian?" tanya Asami.
“Itu mungkin saja, ayo kita periksa mereka!" ajak Reito.
“Kami baru saja menyelidiki tempat kejadian, dan kami melihat keadaan rumah kacau balau. Jadi, kami ingin memeriksa kalian satu persatu," ujar Reito.
Ketiga tersangka menyanggupi pernintaan Reito. Setelah cukup lama memeriksa, Reito dan Asami tidak menemukan hasil apapun, alias nihil.
“Jika memang ini pembunuhan yang disertai pencurian. Maka, Ibu Hiro lah pelakunya," tuduh Refa.
“Kenapa Anda menuduh saya?" tanya Ibu Hiro kesal.
“Ya, yang paling masuk akal adalah kamu. Ibu bisa saja berpura-pura masuk dan mencuri berlian di lemari," ujar Refa semakin menyudutkan Ibu Hiro.
“Udah jangan bert... tunggu dulu. Apakah Nyonya Ana memperbolehkan seseorang untuk masuk ke kamarnya?" tanya Reito.
“Tidak, tidak ada orang yang boleh masuk ke dalam kamar Nyonya Ana. Dia benar-benar menjaga kamarnya," ujar Refa.
“Baiklah, kalian tunggu di sini dulu. Kami akan kembali masuk dan memeriksa kamar Bu Ana lagi," ujar Reito.
Reito dan Asami kembali masuk ke dalam kamar. Setelah cukup lama mencari, akhirnya mereka menemukan sebuah petunjuk. Ada angka yang dituliskan di atas piano dengan menggunakan darah.
“Reito, Lihat!" Asami memerintahkan Reito untuk melihat angka yang ditulis menggunakan darah tersebut.
“Angka 24?" Reito terkejut saat melihat angka 24 tersebut.
“Apa maksudnya angka 24?" tanya Asami bingung.
Reito menggelengkan kepalanya yang menandakan kalau dia juga bingung. Asami tidak sengaja menjatuhkan buku tangga nada.
“Aduh... maaf, aku gak sengaja," ujar Asami.
“Hei, kau bisa lebih berhati-hati tidak? Di sini adakah tempat yang sakral," ujar Reito.
“Iya, aku minta maaf," Asami merasa bersalah.
“Iya sudah. Tapi, buku apa itu?" tanya Reito.
“Oh, itu adalah buku tangga nada. Tampaknya Bu Ana sedang belajar bermain piano," ucap Asami.
Reito mendekati buku itu dan mulai membacanya. Setelah cukup lama membaca, akhirnya Reito menemukan arti dari petunjuk ini.
“Jadi memang begitu ceritanya," gumam Reito sembari tersenyum.
Reito menyuruh Asami untuk memanggil polisi. Mereka berdua keluar dari kamar.
“Kami telah menemukan pelakunya," ujar Reito.
Ketiga orang yang dicurigai tersangka langsung kaget.
“Siapa itu?" tanya Gerry penasaran.
“Nyonya Ana meninggalkan sebuah petunjuk samar-samar di dalam kamarnya. Petunjuk itu adalah angka 24 yang ditulis menggunakan darah, di atas piano," ujar Reito.
“Lalu, siapa pelakunya?" tanya Asami.
“Pelakunya adalah Refa," ucap Reito seraya menunjuk Reito.
Semua orang menatap Refa dengan tatapan curiga.
“Kenapa kau menuduhku sebagai pelakunya?" tanya Refa.
“Jadi begini, dalam buku tangga nada, kita dapat menemukan pola. 1 adalah do, 2 adalah re, 3 adalah mi, 4 adalah fa, dan seterusnya. Jika kita ambil 24 maka sebuah kata akan tersusun, kata itu adalah Refa," ujar Reito.
Semua orang menatap Refa dengan tatapan kesal.
“Kami tidak menyangka, kau membunuh saudaramu sendiri," ucap Gerry sambil menggelengkan kepalanya.
“Bukan aku. Kau tidak bisa menuduhku hanya dengan analisismu," Refa berusaha untuk membela dirinya
“Kau benar, aku tidak bisa menuduhmu hanya dengan bukti kecil seperti ini. Tapi, sebenarnya aku masih memiliki satu bukti yang lebih kuat. Bahkan, kau sendiri yang memberikan bukti itu," Reito menyudutkan Refa.
“Apa maksudmu?" tanya Refa dengan gemetar.
“Ya, kau bilang bahwa tidak ada seorang pun yang boleh masuk ke dalam kamar Nyonya Ana. Tetapi, bagaimana bisa kau tahu ada sebuah berlian di lemari Bu Ana?" tanya Reito.
“I-itu," Refa kehabisan kata-kata.
“Skakmat," ucap Reito lirih.
“Baiklah, aku mengaku. Aku yang telah membunuh Nyonya Ana. Aku membunuhnya karena ingin hartanya, kau puas?" Refa telah mengaku.
Para Polisi tiba di TKP.
“Di mana pelakunya?" tanya Kepala polisi.
“Itu," ucap Reito sambil menunjuk Refa.
“Kau benar-benar hebat," Asami memuji Reito.
“Tentu saja," ucap Reito bangga.
Akhirnya, Refa dibawa ke kantor polisi. Dan, kasus 'Tangga Nada' ini dapat terpecahkan.
---Tamat---
————
Mungkin, beberapa hari ke depan, Miku bakal buat cerpen tentang detektif aja. Jadi stay terus ya!