Sebuah cahaya menyilaukan mata, tiba-tiba muncul di kamar Lisa, dia terbangun dan begitu terkejut dengan apa yang dia lihat, Dinding kamar nya bagai gerbang masuk ke dalam sebuah Dimensi lain.
Lisa perlahan mendekat dan menyentuh cahaya itu, dan Blush...dia langsung tersedot ke dalam lubang cahaya itu, Lisa merasakan sensasi aneh di dalamnya namun, sedetik kemuadian dia sudah berada di sebuah hutan lebat dengan pepohonan rindang di sepanjang mata memandang.
"Dimana aku?" Lisa memutar tubunya memandangi alam sekitar, yang nampak asing di matanya.
Lisa berjalan tak tentu arah, hingga sebuah suara memekakan telinga terdengar nyaring di telinganya.
Auuuuu...! suara auman yang begitu kencang, mengejutkan Lisa, jantungnya berpacu dengan cepat keringat dingin mulai membanjiri pelipisnya, matanya membola, ketika tak jauh dari tempatnya berdiri, seseorangpun tengah balik menatapnya, makhluk berbulu seperti serigala namun, ukurannya lebih besar tengah menyeringai menampakan gigi-gigi runcingnya dengan air liur yang menetes dari mulutnya.
Grrrr....Grrrrrr, makhluk itu menggeram galak pada Lisa, Lisa mundur perlahan, degupan jantung yang seirama dengan rasa takutnya mebuat lututnya gemetar.
Krek...Lisa menginjak sebuah ranting pohon kering, perlahan mahluk itu berjalan mendekat, menunjukan kuku-kuku tajam nya, yang menancap di tanah, selangkah, dua langkah dan di detik berikutnya Lisa lari dengan sekuat tenaga menjauhi mahluk itu, terlihat mahluk itupun mengejar Lisa dengan cukup kencang, nafas nya memburu, Lisa terus berlari dengan nafas terengah-engah, karena sudah tidak kuat lagi Lisa berhenti dan bersembunyi di balik sebuah pohon besar.
"Ya tuhan, selamatkan lah aku, aku juga tidak tau aku berada di mana dan tempat apa ini," gumam Lisa pelan, setelah dirasa mahluk itu sudah tidak lagi mengikutinya Lisa berjalan menuju asal suara yang sayup-sayup terdengar.
Lisa terus berjalan hingga ia menemukan sebuah desa dengan gerbang dan pilar-pilar terbuat dari emas murni dengan patung-patung kuno yang berjajar rapi di setiap sisi, semua warga nampak berjalan ke sana kemari tanpa memperdulikan Lisa yang baru saja datang seolah mereka tidak melihat keberadaannya.
Lisa terus berjalan mengamati setiap detail tempat yang nampak asing baginya, Desa yang begitu kaya bahkan emas pun di jadikan patung untuk pajangan di depan rumah.
'Tempat apa ini? kenapa tempat ini begitu aneh, banyak sekali patung-patung berbentuk manusia setengah binatang, apa aku masuk dalam dunia lain?' gumam Lisa dalam hati.
Lisa terus berjalan hingga dia menemukan sebuah toko barang antik yang di jaga oleh seorang Nenek tua, "Permisi Nek! apa saya boleh tanya ini daerah mana ya?" tanya Lisa sopan, Nenek itu tak bergeming dia malah sibuk membersihkan debu-debu yang menempel di dagangannya yang nampak sudah lama tidak laku terjual.
"Nek, apa Nenek mendengar saya?" Lisa melambaykan tangannya, namun, Nenek itu tetap diam tak bergeming bahkan untuk sedikit menolehpun tidak, Lisa mengerutkan kening merasa heran dengan apa yang di lihatnya ini, apa ini mimpi ataukah nyata? Lisa tidak tahu pasti, Lisa beranjak pergi namun, baru saja beberapa langkah Nenek itu membuka mulutnya.
"Sedang apa kau disini? ini bukan tempat mu," ucapnya tanpa menatap lawan bicaranya.
"Aku tidak tahu Nek, aku memasuki lubang cahaya dan tiba-tiba saja aku sudah sampai di tempat asing ini," ucap Lisa.
"Sebaiknya kau pergi dari sini, karena ini bukan tempat untuk orang hidup," deg....ucapan Nenek itu sungguh membuat bulu kuduk Lisa berdiri, benar dugaannya sejak awal, Desa ini sungguh aneh Desa ini sungguh bukan Desa yang normal pada umumnya wajah-wajah penduduknya yang nampak pucat bagai tak di aliri darah dan tatapan mereka yang kosong membuat Lisa ngeri.
"Baiklah Nek, tapi, saya baru di sini saya tidak tau jalan pulang," ucap Lisa, dengan mata menjelajah sekitar.
"Jika kau di takdirkan untuk pulang maka kau akan pulang, jika takdirmu berada di tempat ini maka kau akan tetap di sini selamanya," ucapnya datar.
"Apa? tidak Nek, Lisa ingin pulang, Nek tolong bantu Lisa untuk pergi dari tempat ini,"
"Kau datang ke sini atas ke inginanmu sendiri, maka kau pergipun harus dengan usaha mu sendiri."
"Tapi Nek," sebelum Lisa dapat menyelesaikan ucapannya, Nenek tua itu sudah pergi lebih dulu tanpa pamit.
Lisa melirik sekitar hawa dingin menerpa tubuhnya, suara rintihan dan teriak minta tolong yang entah darimana datangnya mulai terdengar dari setiap penjuru Desa.
"Tolong kami.....tolong kami....!" suara rintihan di iringi isakan lirih terdengar pilu dan menyeramkan.
Lisa berjalan dengan langkah pelan, dengan mata tak henti menjelajah setiap penjuru rumah dan toko yang di lewatinya, Lisa berjalan ke sebuah toko peralatan dapur yang nampak sepi, toko itu terlihat biasa saja, hingga Lisa memberanikan diri menghampirinya.
"Aw.....!" seseorang berteriak kesakitan, "tolong jangan injak saya nona, tolong!" lirihnya.
"Siapa?" ucap Lisa sambil melihat sekitar namun, tak ada siapapun di sana.
"Saya di bawah anda nona," ucapnya, Lisa menunduk alangkah terkejutnya dia ternyata suara itu berasal dari keset yang ia injak.
'Astaga, bagaimana sebuah keset bisa bicara?" Lisa mundur beberapa langkah.
"Nona tolong saya, bebaskan saya dari belenggu ini, bebaskan saya dari hukuman ini," isaknya lirih.
"Tapi, bagaimana bisa kamu di hukum seperti ini?"
"Dulu saya melakukan perjanjian ga'ib untuk medapat kekayaan, dimana imbalannya saya harus mau di jadikan budak di tempat ini hingga dunia berakhir nanti, saya sungguh menyesal sangat menyesal andai saya bisa hidup kembali saya ingin menjadi manusia yang baik dan tidak akan terjerumus pada lembah dosa," ucapnya.
"Apakah cuma kamu saja yang di jadikan budak di sini?"
"Tidak, sudah banyak orang yang senasib sepertiku, karena ketamakan dan ke serakahan yang menutupi hati kami, membuat kami rela menukar apapun demi kekayaan termasuk hidup kami sendiri, hingga pada akhirnya kami berakhir di tempat ini, ada yang menjadi keset seperti ku dan lain sebagainya,"
"Aku minta maaf, aku tidak bisa menolongmu, aku sindiri bingung harus dengan cara apa aku pulang," lirih Lisa.
"Pulang? apa kau masih hidup?" tanyanya.
"Ya, aku masih hidup, aku tidak sengaja masuk ke dalam lubang cahaya, hingga aku berakhir di tempat ini,"
"Sebaiknya kau segera pergi dari tempat ini sebelum terlambat atau kau akan terjebak selamanya di tempat mengerikan ini, tempat ini tidak seperti yang kau lihat, tempat ini bisa saja menjadi tempat mengerikan, lihatlah, kabut asap mulai muncul," keset yang tadinya bicara kini terdiam, sepertihalnya keset biasa yng sering di gunakannya di rumah.
"Hey, tolong bicara lagi padaku, bagaimana caranya aku pergi dari tempat ini?" namun, tak ada sahuntan, kabut asap mulai menyelimuti seluruh Desa, membuat jarak pandang terhalang.
"Aku harus bagaimana? sebaiknya aku kembali ke tempat aku datang tadi," Lisa berjalan sambil berusaha mengingat jalan yang pernah di lewatinya tadi.
Lisa terus berjalan dan berjalan dengan langkah cepat setengah berlari menuju hutan tempatnya datang tadi, mahluk bersayap bertubuh manusia dan berkepala Anjing serta taring yang panjang dan kuku-kuku yang tajam di kaki dan tanganya menatap tajam pada Lisa dengan bola matanya yang berwarna merah menyala, mebuat Lisa menghentikan langkahnya.
'Mahluk apa itu? ya tuhan tolong aku,' gumam Lisa dalam hati.
Lisa berjalan mundur, 'aku harus bagaimana? jika aku mundur aku akan kembali ke desa berkabut itu, jika aku maju maka cakar mahluk itu akan merobek tubuhku,' Lisa bingung harus berbuat apa, ketakutan yang menyelimuti dirinya degupan jantung yang berpacu dengan cepat serta keringat yang sudah membanjiri tubunya membuat kaus yang di kenakannya menempel lekat di tubuhnya.
"Ku mohon, biarkan aku pergi, aku hanya tamu di Desa ini aku akan pulang sekarang, aku bukan pengganggu," ucap Lisa, hanya ini jalan satu-satunya bersikap sopan di depannya mungkin mahluk yang tidak di ketahui namanya itu akan membiarkannya pergi tanpa luka sedikitpun.
"Kau telah memasuki wilayah ku tanpa ijin," tanpa di duga mahluk itu ternyata bisa bicara.
"Aku benar-benar minta maaf, aku tidak sengaja memasuki tempat ini aku berjanji tidak akan pernah menginjakan kaki ku di tempat ini lagi."
"Kau harus di hukum karena kelancangan mu," ucapnya, dia sudah siap menyerang dengan cakarnya, ketika dia menyerang dengan secepat kilat Lisa berlari menerobos melalui samping tubuh mahluk itu hingga tubuh mahluk itu membentur pilar gerbang Desa. Lisa terus berlari meski dia baru pertama kali datang ke tempat ini dia telah menghapal jalanan yang telah di lewati sebelumnya, Lisa terengah-engah namun, dia tak dapat berhenti karena mahluk itu terus terbang mengejarnya menabrak pohon-pohon yang di lewatinya.
Arghhhh....Auuuuu, auman dari Srigala raksasa yang mengejarnya tadi kembali terdengar, mahluk itu kini tepat di hadapannya dan di belakangnya ada mahluk aneh yang mengejaranya, tubuh Lisa gemetar ketakutan, dia melihat ke depan dan kebelekang keduanya adalah mahluk yang sangat menyeramkan jika saja Lisa menjadi salah satu mangsa dari mereka maka tubuhnya itu akan menjadi rebutan kedua makhluk itu.
Srigala raksasa itu menggeram begitupun mahluk aneh itu, mereka perlahan mendekat Lisa berjalan menyamping membiarkan mahluk itu memperebutkan dirinya, kedua mahluk itu saling menggeram dan mencakar satu sama lain hingga pertengkaran hebat terjadi, membuat Lisa memiliki kesempatan untuk meloloskan diri dari mereka.
Lisa lari sekencang mungkin, hingga dia menemukan sebuah cahaya tempatnya datang tadi, namun, cahaya itu perlahan mengecil dengan segera Lisa lari ke cahaya itu dan hendak masuk ke dalamnya namun, seseorang mencengkram pundaknya, deg...deg... geraman kecil yang terdengar dari balik punggungnya membuatnya tau apa yang sedang ada di belakangnya walau tanpa menoleh sedikitpun, Lisa perlahan melepas sepatu yang di kenakannya dan melmparnya kebelakang punggungya yang tepat mengenai wajah mahluk itu, Ggeeerrrr...mahluk itu menggeram marah, namun dia melepas cengkramannya, dengan segera Lisa melompat masuk kedalam cahaya tersebut dan Blushhhhh.......
***
Lisa perlahan membuka mata dan mendapati dirinya tengah berdiri di dalam kamarnya, dia melihat dinding kamar yang menjadi gerbang penghubung antara dua Dimensi ini kini, tembok itu kembali seperti semula, ketegangan telah berakhir, Lisa membaringkan tubuhnya di kasur dan mengela nafas lega.
Tamat.
Crita ini terinspirasi dari mimpi ku sendiri, mohon maaf bila kurang menarik atau terdapat kesamaan tentang penuturan cerita atau tempat.
Selamat membaca semoga suka, Terimakasih ^_^