[WARNING! : beberapa bagian mungkin terasa tidak nyaman untuk dibaca]
-----
Siang itu matahari bersinar terik.
Seorang pria membuka dua kancing atas kemejanya serta menggulung bagian lengan. Sekilas terlihat peluh keringat mengucur dari dahinya. Ia menengadahkan kepala, memandang sekilas langit kemudian lekas memindahkan atensinya ke jalan raya.
Suara deru mesin yang bising, klakson dimana-mana, dan sejumlah kendaraan membentuk kemacetan tampak dalam area pandangnya. Namun pria itu mengabaikannya, tidak memberi perhatian pada keadaan sesak tersebut karena ia hanyalah seorang pejalan kaki yang melewati jalan trotoar.
Pria itu tengah dalam perjalanan pulang ke rumah setelah menyelesaikan projek yang menjadi tanggung-jawabnya sebagai pekerja kantoran biasa. Tugasnya terselesaikan dalam waktu singkat mengingat banyak rekan kerjanya yang menganggur menawarkannya bantuan.
Maka harinya masih panjang.
Ya, mendapatkan izin untuk pulang lebih awal bukanlah hal yang mudah. Mungkin ia harus membelikan hadiah terima kasih bagi rekan-rekan kerjanya tersebut.
Dengan ide yang terbersit itu, sang pria memutuskan untuk mengecek jadwalnya di kemudian hari agar bisa menentukan waktu kosong guna membalas kebaikan orang lain meski hanya cuma-cuma.
Terlena dalam pikirannya, pria itu tak sengaja menabrak pundak seseorang.
“Ah, maaf…” Pria itu menoleh dan buru-buru mengulurkan tangannya kepada orang yang ditabraknya hingga terjatuh.
Si korban yang memakai setelan jas biru tua mahal itu kini pakaiannya sedikit ternodai. Temperamen dan penampilannya memancarkan aura yang mirip seorang pengusaha yang elegan. Tetapi wajahnya tertekuk, sebal akan ketidakberuntungan yang menimpa dirinya.
“Pergi sana! Aku tidak butuh pertolonganmu,” ujar orang itu sembari melayangkan tatapan tajam yang menusuk.
Raut muka pria itu memberitahu bahwa ia merasa bersalah dan menyesal akan kecerobohannya, tapi tidak digubris oleh si korban. Mendapati permintaan maafnya tidak diterima dengan tulus, pria itu hanya menggumam pelan entah apa yang keluar dari mulutnya, kemudian sedikit membungkuk pada si korban dan meninggalkan tempat itu.
Sekilas sebelum pria itu membalikkan badan, sepasang matanya menangkap sejumlah topeng yang ikut terjatuh dari tas koper yang dibawa si korban saat tertabrak. Tiap ukiran emosi pada topeng itu memunculkan rupa yang berbeda. Amarah, gembira, sendu, hingga wajah yang selalu tersenyum sampai-sampai terasa senyuman itu menempel erat dan tak tergantikan.
Melihat si korban kelihatan cukup panik dan segera menyimpan kembali topeng-topeng tersebut, pria itu hanya mencibir dalam batinnya. Lekas pria itu mempercepat langkah kakinya menuju kediamannya.
Sesampainya di apartemen kecil miliknya yang dibeli dengan harga yang terjangkau, pria itu meletakkan tasnya sembarang di atas tempat tidurnya. Ia lalu menghadap cermin besar yang ditempatkan di sudut kamar.
Satu per satu pakaian yang dikenakannya dilepaskan. Dasi hitam, kemeja putih, celana panjang hitam, sepasang kaus kaki putih, dan sepatu pantofel hitam. Segala hitam-putih yang melekat pada tubuhnya dilemparkan asal dalam kamarnya. Pria itu lantas memperhatikan setiap lekukan tubuhnya dengan saksama.
Perlahan sebuah seringai terlukis pada wajahnya. Yang sama sekali tidak terlihat bermakna, namun memberikan perasaan misterius yang sulit untuk digapai arti di baliknya.
Kedua tangan pria itu pun terangkat, menyentuh kepalanya. Pelan-pelan, kulit kuning langsatnya terkelupas, menampakkan efek visual yang cukup menyeramkan. Daging-daging merah saling bermunculan tampak memenuhi isi tubuhnya. Berlaju dari ubun-ubun kepala, kulit pria itu meluncur sampai ke bawah kaki hingga sempurna tersingkap terpisah dari daging tubuhnya yang berkilat memesona, mengundang air liur seseorang.
Sebuah kulit tubuh menggelantung ria di udara, semakin bergerak ke sana kemari seiring pria itu membawanya pada lemari cokelat di sebelah cermin. Dibukanya lemari tersebut, sekejap tampak sederetan setelan kulit tubuh yang berwarna kurang lebih sama dengan yang lain.
Pria itu mengambil gantungan pakaian yang tersisa dan memakaikannya pada kulit tubuh yang baru saja ditanggalkannya. Kemudian ia memilih pakaian luarnya yang baru dari antara deretan tersebut. Setelahnya ia berjalan ke arah kamar mandi.
Sesaat sebelum pintu kamar mandi tertutup, pria itu melewati tempat sampah di dekatnya. Tempat sampah itu berukuran kecil, akan tetapi terisi penuh hingga isinya ada yang berjatuhan ke lantai. Namun bukan sampah seperti plastik atau pembungkus makanan tak berguna, melainkan topeng-topeng yang jumlahnya dalam hitungan jari.
Topeng yang tidak jauh berbeda dengan topeng kepunyaan orang yang sempat ditabrak oleh pria itu.
Kala itu suara air memancar deras lewat pancuran yang terpasang dalam kamar mandi terdengar memenuhi ruangan.
[TAMAT]