Di tengah hutan lebat yang mengelilingi Kerajaan Clorovance, sinar matahari menembus pepohonan, menciptakan pola cahaya yang berkilau di tanah. Leo, pangeran muda yang tampan dengan rambut hitam legam, berdiri di bawah pohon besar, merasakan angin sejuk yang menyapu wajahnya. Dia menatap jauh ke arah kerajaan Victoria, tempat di mana dia akan bertemu dengan tunangannya, Katharina.
“Kenapa aku harus menikahi dia?” gumam Leo, melirik ke arah teman dekatnya, Marcus, yang sedang mengasah pedangnya.
“Karena itu sudah ditentukan. Ini demi keberlangsungan kedua kerajaan. Lagipula, dia cantik,” jawab Marcus sambil tersenyum, mengangkat alisnya.
“Cantik bukan segalanya. Aku lebih suka berperang daripada terjebak dalam pernikahan ini,” Leo mendengus, berusaha menyembunyikan rasa gelisah di dalam hatinya.
“Cinta bisa muncul dari pernikahan yang tidak terduga, Leo. Cobalah untuk tidak terlalu keras kepala,” kata Marcus, melanjutkan pekerjaannya.
Dengan langkah mantap, Leo meninggalkan tempat itu, mengarahkan langkahnya menuju istana. Di dalam istana, suasana sangat berbeda. Ibu dan ayahnya, Raja dan Ratu Clorovance, tampak cemas.
“Leo! Kau siap untuk pertemuan itu?” tanya Ratu, matanya berbinar penuh harapan.
“Siap, Bu. Tapi ini terasa salah,” jawab Leo, berusaha menahan ketidakpastian di dalam hatinya.
“Semua ini demi masa depan kita. Katharina adalah harapan kita,” Raja menambahkan, menepuk bahu Leo dengan lembut.
Saat Leo memasuki ruang pertemuan, dia melihat seorang gadis dengan rambut pirang keemasan dan mata biru laut. Katharina, putri Victoria, terlihat anggun dan berani. Ketika mata mereka bertemu, ada keheningan sejenak.
“Hai,” Katharina mengucapkan dengan senyum yang tulus, namun ada sedikit keraguan di baliknya.
“Hai,” Leo menjawab, berusaha terlihat tenang. “Jadi, kita akan menikah?”
“Sepertinya begitu,” dia menjawab, nada suaranya penuh kebingungan. “Kita hanya melakukan apa yang diharapkan.”
“Selamat datang di Clorovance,” Leo berkata, berusaha mencairkan suasana. “Kau sudah melihat istana kami?”
“Belum. Tapi aku berharap bisa melihatnya,” Katharina menjawab, dengan mata yang berbinar.
Harihari berlalu, dan pernikahan mereka tiba. Acara tersebut berlangsung meriah, penuh tawa dan kebahagiaan. Tamu-tamu dari berbagai kerajaan berkumpul, dan suasananya sangat hidup. Saat mereka berdua berdansa, Leo merasa sedikit lebih nyaman.
“Kalau saja ini bisa terus seperti ini,” bisik Leo, menatap Katharina dengan lembut.
“Tapi ini hanya awal, bukan?” Katharina menjawab sambil tertawa. “Kita harus menjalani banyak hal bersama.”
Namun, kegembiraan itu tidak berlangsung lama. Beberapa hari setelah pernikahan, kabar buruk datang. Kerajaan Victoria diserang oleh pasukan yang tidak dikenal, dan Leo harus pergi berperang untuk melindungi kerajaan.
“Aku tidak bisa membiarkanmu pergi,” Katharina berteriak, air mata mengalir di pipinya. “Kau mungkin tidak kembali!”
“Aku harus melakukannya! Ini untuk kita, Katharina!” Leo menjawab, suara semakin keras. “Aku tidak bisa membiarkan mereka menghancurkan segalanya!”
Mereka saling menatap, ketegangan menggantung di udara. Leo meraih tangan Katharina, menggenggamnya erat. “Aku akan kembali. Aku janji.”
Dengan berat hati, Leo meninggalkan Katharina, berangkat ke medan perang. Di tengah pertempuran, suara pedang beradu dan teriakan prajurit memenuhi telinga Leo. Dia berjuang dengan seluruh kekuatannya, memikirkan Katharina yang menunggu di belakang.
“Leo! Leo!” Dia mendengar suara Marcus di tengah keributan. “Kita butuh bantuan! Mereka menyerang dari segala arah!”
Leo berjuang dengan segenap jiwa, tetapi saat malam tiba, dia terdesak mundur. Dalam keputusasaan, dia berteriak, “Kita tidak boleh kalah! Kita harus bertahan!”
Namun, saat mereka mundur, Leo melihat sosok yang bergerak cepat di antara prajurit musuh. Dia mengenali wajah itu. “Tidak!” teriaknya. “Katharina!”
Sementara itu, di istana Victoria, Katharina tidak tinggal diam. Dia memimpin pasukan kecil untuk membantu Leo, bertekad untuk menyelamatkan suaminya.
“Tidak ada yang akan menghentikanku!” dia berteriak kepada prajuritnya. “Kita pergi ke medan perang!”
Saat Katharina sampai di medan perang, suasana kacau balau. Dia melihat Leo terdesak, tubuhnya kelelahan. “Leo!” dia berteriak, berlari sekuat tenaga.
Leo menoleh, dan saat matanya bertemu dengan Katharina, semangatnya kembali. “Katharina! Kau tidak seharusnya di sini!”
“Tapi aku datang untukmu!” dia menjawab, suaranya penuh semangat. “Kita bisa melawan bersama!”
Dengan keberanian yang baru, mereka berdua berjuang berdampingan, mengalahkan musuh satu per satu. Suara pedang beradu, teriakan, dan deru napas membangkitkan semangat mereka.
“Kalau kita selamat, aku mau pergi berbulan madu ke tempat yang jauh dari perang ini,” Leo menggoda di tengah pertempuran, berusaha mengalihkan perhatian mereka dari bahaya.
“Deal! Tapi kau harus membawaku ke pantai!” Katharina menjawab, tersenyum meskipun peluh menetes di dahinya.
Akhirnya, dengan kekuatan cinta dan tekad mereka, Leo dan Katharina memimpin serangan balik. Kemenangan pun diraih, meski dengan harga yang mahal.
Setelah pertempuran, mereka kembali ke istana Clorovance, berpelukan erat. “Kau kembali, Leo,” Katharina berbisik, air mata kebahagiaan mengalir di pipinya.
“Selama ada kau, aku akan selalu kembali,” Leo menjawab, mencium keningnya. “Kita akan membangun kembali kerajaan ini, bersama-sama.”
Dan di tengah malam yang tenang, saat bintang-bintang bersinar di langit, mereka merencanakan masa depan. “Kita akan memiliki keluarga, Leo,” Katharina berkata, harapan bersinar di matanya. “Keluarga yang bahagia.”
“Aku akan memastikan itu,” jawab Leo, bertekad. “Kita akan menjaga cinta ini selamanya.”
Dengan hati penuh cinta dan harapan, mereka melangkah maju, siap menghadapi semua yang akan datang, bersama-sama.
END.
- kreator: Said arfan