Tidak ada yang bisa merebutmu, sebelum dia berhasil merebut nyawaku.
◇•◇•◇•◇•◇
Jutaan tetes air menghantam permukaan tanah, menciptakan aroma khas yang menenangkan. Matahari beranjak istirahat di kaki langit, tetapi terhalang oleh kepulan awan gelap. Aku menarik napas dalam-dalam, menikmati kedamaian yang bersifat sementara.
"Kau yakin ingin tetap disini? Sebaiknya kita pulang ke kemah. Hujan akan semakin—"
"Tenanglah, Aidan! Kau tidak lelah berlari dan berlindung setiap saat? Sesekali berbaurlah dengan alam, kau itu—" Mataku melotot marah saat suara beratnya memotong kalimatku.
"Kita tidak sedang berbaur, kita sedang diserang oleh air hujan. Bagaimana jika pasukan Karcoriz mendadak muncul?!" Urat-urat nadi menonjol di leher dan dahinya. Aku menghela napas, malas berdebat jika sifat paranoidnya aktif.
Kami terdiam selama beberapa menit, membiarkan suara alam mendominasi. Aku melipat tangan di depan dada, menunggu otak Aidan kembali bekerja normal. Belakangan ini dia jadi lebih paranoid dari biasanya. Mungkin saja itu dampak dari perang dadakan yang berlangsung selama hampir seminggu.
Terdengar Aidan menghela napas berat, lalu menyentuh bahu kananku. "Maaf, sayang ... A-aku tidak ... huuhhh ... kau tahu, kan? Aku—" Tanpa persetujuan, aku langsung mengecup pipi kirinya. Aidan tersenyum lega, tahu betul aku paham apa yang dia maksud.
Sudah setahun lebih dia menjadi pemilik tahkta di hatiku, begitu pula sebaliknya. Kami bersama-sama menjaga anggota klan yang tersisa, berusaha sebaik mungkin untuk bertahan hidup. Begitu banyak prajurit yang gugur di medan perang, memberi dampak besar pada semangat perjuangan kami.
Terutama bagi Aidan. Dia terlalu sibuk memperjuangkan bangsanya, hingga tak sadar hal itu malah melukai dirinya sendiri. Hatiku selalu berat ketika dia kembali ke kemah, dengan keadaan nyaris tak sanggup bernapas. Namun, aku tidak boleh egois. Aku hanya bisa berdoa dan mendukungnya dari belakang.
Bibirku menciptakan senyuman pahit. Dengan lembut aku mengelus sayap kelelawar yang melindungi kami dari hujan. Aku tersadar, sayap Aidan ternyata sudah bertumbuh sangat besar. Padahal rasanya baru kemarin kami bermain kejar-kejaran di sekitar kemah. Lihatlah, sekarang teman kecilku sudah menjadi pemimpin sekaligus penjaga Klan Hargrivaz.
"Aku sangat menyayangimu, Ella ...," lirihnya. "Aku juga sangat menyayangimu, Aidan ...." Kami bertemu tatap, terenyuh bersama langit yang semakin deras menangis. Namun, dahiku seketika berkerut saat ekspresi Aidan berubah. Aku bingung, apa yang terjadi?
Dia menarik napas dalam-dalam, lalu dikeluarkan. Dia menggenggam kedua tanganku, kemudian mengecupnya bergantian. Jantungku berdebar tak karuan saat Aidan perlahan mendekatkan wajah tampannya.
Namun, dia berhenti tepat beberapa sentimeter sebelum hidung kami bersentuhan.
"Jika ini adalah hari terakhir kita ... bagaimana perasaanmu?" Tentu saja dahiku berkerut heran mendengar kalimat ambigu itu. "Maksudmu kita akan mati? Apakah orang mati masih punya perasaan? Entahlah, aku belum pernah mati," jawabku seadanya.
Aidan menggeleng lembut, lalu menyentuh kedua pipiku. Aneh, hatiku mendadak terasa berat saat ini.
"Bukan itu, sayang. Maksudku ... hari terakhir hubungan kita ...."
DEG! Aku terkesiap, menatap rasa frustrasi yang memenuhi wajahnya. Pisau transparan seolah menusuk jantungku berulang kali, menciptakan rasa sakit yang begitu nyata. Aidan menunduk, kedua tangannya menjauh, dan sayapnya terlipat. Membiarkan udara dingin dan hujan memeluk tubuh kami.
"Ke-kenapa? Ka-kau tidak percaya padaku ...? Si-si-siapa? A-apa ... hiks ... ada yang lain ...?" Aidan menggeleng dengan kepala menunduk. Dia menutup mata, tidak mengizinkanku membaca perasaannya.
Hatiku terbakar, bagaikan mampu mengeringkan air yang melapisi tubuhku. Aku menegak saliva, memantapkan tekad dan memperkokoh dinding pertahanan batin. Jika memang ada yang berusaha merebut Aidan dariku, maka dia harus berhasil merebut nyawaku terlebih dahulu!
"Angkat kepalamu dan tatap aku! Kau ini pemimpin Klan Hargrivaz, kan?! JADILAH LELAKI DAN JELASKAN SEMUANYA! Apa aku tidak cukup baik, Aidan ...?" Dia terus saja menggeleng dengan wajah menghadap tanah. Untuk pertama kalinya, Aidan bersikap seperti seorang pecundang lemah.
"Kau tidak mendengarku? Angkat kepalamu! Apa yang salah?! Aku selalu melakukan yang terbaik untukmu dan juga Klan Hargrivaz! Bahkan meskipun aku bukan bagian dari kalian!" Kali ini dia mengangkat kepala, tetapi dengan wajah penuh rasa kaget.
"Kenapa kau mengatakan itu, Ella? Sudah puluhan tahun dan kau masih menganggap Klan Hargrivaz asing?" Dia berusaha menggenggan tanganku, tetapi langsung kutepis.
Mataku melotot tajam, menampilkan jari telunjukku tepat di depan wajahnya. "Jelaskan saja, Aidan Hargrivaz!" sinisku. Namun, lagi-lagi pria itu menggeleng. "Maaf, kau harus mengerti kali ini. Aku tidak bisa ...." Dia berdiri, kemudian berjalan menjauh ke arah hutan.
Tunggu dulu, Aidan sungguh baru saja meninggalkanku? Untuk pertama kalinya?! Aku tak mengangka, ternyata dia sudah berubah terlalu banyak. Paranoid pasti mempengaruhi kinerja otaknya itu.
Aku berdiri, menatap punggung kekar bersayap kelelawar yang terus tampak mengecil. "JIKA ITU MAUMU, BAIKLAH! SAMPAI DETIK TERAKHIR HUBUNGAN INI PUN, AKU AKAN TETAP MENGIKUTI KEMAUANMU, AIDAAANN!!!" Tenggorokanku sakit karena terlalu keras berteriak.
Tidak masalah. Lagi pula alasanku bersuara baru saja pergi meninggalkanku.
Keesokan harinya, aku terbangun dengan pakaian lembab karena hujan. Saat pulang semalam, aku langsung masuk ke tenda kemudian tertidur. Kepalaku jadi berdenyut pusing, dan hidungku juga berlendir. Aku berusaha bangkit sekuat tenaga, dan perlahan mengganti pakaianku.
Setelah semuanya beres, aku membuka penutup lubang tenda. Cakrawala tertutup awan gelap, mendung seperti hari-hari sebelumnya. Kepalaku berdenyut bingung saat puluhan pria dan anak laki-laki berbaris di wilayah tengah kemah.
Aku mendekat perlahan, sembari menutupi hidungku yang kemerahan dengan kain. Baru kusadari, Aidan sedang berdiri di hadapan barisan itu. Dia menatapku, bertanya-tanya kenapa aku ada disana. Seolah tidak terjadi apa pun, aku mendekatinya dengan dagu terangkat.
"Kalian mau berperang?" Aidan mengangguk kecil sebagai respon. "Ooh ...." Aku berbalik, hendak beristirahat di dalam tenda. "Kau tidak ingin melakukan ritual untuk para fighter?" Aku menghiraukan pertanyaannya, dan lanjut berjalan ke arah tenda.
Anggota klan seketika memperhatikan kami, tahu betul ada sesuatu yang tidak beres. "Lakukan ritualnya!" Langkahku terhenti, cukup kaget karena mendadak dibentak oleh pria kurang ajar itu. "Kau tidak berhak memerintahku, dan aku punya hak untuk menolak perintahmu," tegasku.
Dia mendekat, lalu membalikkan tubuhku dengan keras. Aku nyaris terjatuh. "Apa kau tidak ingin kami kembali dengan selamat, Ella? Atau kau memang sengaja ingin aku mati disana?" Matanya begitu tajam, seolah mengulitiku hidup-hidup. Aku tertawa sinis dalam hati, merasa sangat asing dengan orang di depanku ini.
"Entahlah, Aidan. Mana menurutmu yang terbaik? Karena aku tidak bisa menjelaskannya," balasku dengan dagu terangkat. Dia terkesiap, menyadari hidungku menjadi sangat merah karena flu. "Ka-kau sakit?" Bola mataku berputar, enggan menanggapi pertanyaan bodoh itu.
"Bibi! Tolong bawakan obat untuk Nona Ella!" Bibi penyembuh yang tadinya sedang menjemur pakaian langsung mengangguk, kemudian bergegas ke dalam tendanya. Aku menggeleng sambil tersenyum miring. "Simpan obat itu untukmu nanti, Aidan. Semoga beruntung!" sinisku lagi.
BOOM! BOOM! DUAARR!
"AAAHHH!!!" Semua anggota klan berlari kocar-kacir, menghindari bola api yang berjatuhan dari langit. Aku jatuh terduduk saat sebuah bola api nyaris menghantam kepalaku. Aidan sigap menangkis dengan menggunakan kekuatan sayapnya, lalu melemparkan benda itu kembali ke hutan bagian depan.
"THE FIGHTER! SERAAANNNGG!!!" Suara Aidan bergaung marah, memicu semangat pejuang yang lain. Mereka bersama-sama mengangkasa, lalu menghempaskan semua bola api itu menggunakan sayap kelelawar mereka. Beberapa bola api yang lolos jatuh menimpa tenda sederhana milik anggota klan, dan membakarnya tanpa ampun.
Aku memandang sekeliling kemah yang kini dipenuhi asap hitam dan jeritan takut. Kepalaku berdenyut pusing, detak jantungku terlalu keras, segalanya terlihat buram dan begitu lambat sekarang. Sayup-sayup suara tangis dan teriakan menghilang, telingaku malah berdengung sangat keras.
"AAAAAHHH HENTIKAAANNN!" Aku refleks menjambak rambutku kuat-kuat, seolah kepalaku akan segera pecah. Tubuhku sangat lemas, aku terjatuh saat bumi terasa berputar cepat.
"ELLA! PERGI! BERLINDUNGLAH!" Perintah Aidan berhasil menembus indra pendengaranku. Kepalaku mendongak, memandang puluhan prajurit yang sedang berjuang mati-matian di langit.
"AAAAAHHHH!!!" Kepalaku semakin berdenyut hebat saat potongan memori aneh muncul di dalam pikiranku. Kenangan saat aku dibuang ke dalam hutan oleh orang-orang bertaring dengan setelan hitam. Kemudian Aidan kecil menemukanku tergeletak nyaris mati disana, lalu klan Hargrivaz merawatku dan menjagaku hingga sekarang. Ibu Aidan sendiri yang menobatkanku sebagai pelaksana ritual sebelum perang di kemah. Saat itu, dia juga memintaku untuk menjaga Aidan.
Namun, saat ini aku telah mengecewakannya.
Pria itu bergerak maju bersama beberapa pejuang yang tersisa. Dia meraung marah, menghancurkan semua bola api yang menghujani mereka. Matanya berkobar marah, sayapnya terentang semakin lebar dan kuat. Dengan tekad mantap, dia akan mengakhiri perang ini sekarang juga.
"KELUAR KAU, REGIE KARCORIZ! HADAPI AKU SEKARANG, VAMPIR SIALAN!" teriaknya sekuat tenaga. Seseorang berjubah hitam keluar dari balik pohon, menengadah dengan senyuman miring. Dia merentangkan tangan, kemudian melayang menuju Aidan.
"Hai, Hargrivaz," dia menyapa dengan ekspresi jijik. Aidan melipat sayapnya ke depan, bersiap mengirim gelombang kejut yang akan mengantar Pemimpin Karcoriz menuju ajalnya. Namun, dia malah mengangkat tangan kanan. "Cukup, aku lelah membunuh anggota klanmu. Sudah kubilang berulang kali, kau hanya perlu mengembalikan aset kami, dan kalian akan hidup dengan tenang."
Namun, Aidan tertawa hambar. "Hah? Aset? Kau sudah membuangnya dan hampir membiarkan dia mati! Jika bukan karena aku, dia tidak akan bernapas sekarang!" Aidan mulai menyerang, tetapi Regie lincah menghindar. "Dia sedang dihukum karena mencoba kabur dari pelatihan kekuatan saat itu. Kami tidak perlu bantuanmu untuk mengetahui kemampuan penerus kami!" hardik Regie, sontak melemparkan bola api dari tangannya.
"Arrgh!" Aidan terlempar, jatuh menabrak tanah karena sayap kanannya berlubang dan terbakar. Prajurit lain berteriak marah, lalu menyerang Regie secara bersamaan. Darah seketika muncrat dari mulutnya, kemungkinan besar beberapa tulang rusuk Aidan patah dan retak.
Aku menyaksikan pria yang kusayangi terluka parah di depan mataku sendiri. Dan tentu saja, aku sangat tidak menyukai hal ini. Aku marah, aku benci, aku gelisah, dan ... aku sedih. Terlebih lagi, aku putus asa karena tidak bisa melakukan apa pun untuknya.
Tiba-tiba, tubuhku melayang di udara. Mataku sayu, jiwaku terlalu lemah untuk memberontak. Tampak Regie terkesiap begitu melihatku datang ke arahnya, begitu pula para Fighter Klan Hargrivaz. Tanganku terangkat, memunculkan bola api raksasa yang mirip seperti meteorit kecil.
Regie dan semua anggota klan Karcoriz yang ada di atas tanah tampak sangat ketakutan. Melihat itu rasa puas menggelegar di dalam jiwaku, entah kenapa malah membuat bola api di tanganku bertambah besar. Rambutku bercahaya, gaun sederhana yang kupakai bahkan ikut terbakar. Secara otomatis juga membakar kulitku.
Bola itu terlempar, membuat klan Karcoriz kocar-kacir menyelamatkan diri. Terlambat, bola api itu sukses menciptakan kawah api besar di hutan bagian depan hingga ke padang rumput. Tubuhku mendadak sangat lemas dan nyeri, padahal aku merasa tidak melakukan apa-apa. Tubuhku terjatuh, aku pasrah dan menutup mata.
Namun, aku tidak merasakan sakit. Seseorang menangkapku, sekali lagi menyelamatkanku dari kematian. Aku membuka mata, bertemu pandang dengan seorang pria yang sudah kucintai selama bertahun-tahun.
"Kenapa ... kau ... i-ingin ... berpisah ... uhuk! ... dariku ...?" Aidan menatapku dalam-dalam, lalu tersenyum pahit. "Aku tidak ingin menyerahkanmu pada Klan Karcoriz, meskipun mereka sudah menawarkan hal itu sejak minggu lalu. Juga ... aku tidak mau kau bersedih saat perang berakhir. Jika bukan karena kau, mungkin yang tersisa dariku sekarang hanyalah nama ...." lirih Aidan, mengeratkan gendongannya pada tubuhku.
Aku tersenyum kecil, kemudian menatap langit yang berangsur cerah tanpa hujan. "Tidak ada ... yang bisa ... huuhh ... merebutmu ... se-sebelum dia ... berhasil ... uhuk! ... merebut ... nyawaku ...."
◇•◇•◇•◇•◇
Terima kasih sudah membaca!;)
Note: Kalau ada yang ingin sharing tentang menulis cerpen denganku, silakan bergabung ke dalam grupku, yah!;D