Senja menyapu langit Jakarta dengan semburat jingga yang perlahan pudar, digantikan oleh awan kelabu yang mulai menggulung. Di sebuah kafe kecil di kawasan Menteng, Ayunda duduk di dekat jendela, menggenggam cangkir teh hangat sambil memandangi hujan yang mulai turun.
Dia baru saja menyelesaikan pekerjaannya sebagai desainer interior untuk klien yang rewel. Hari ini melelahkan, namun di tengah riuh Jakarta, tempat ini menjadi pelariannya.
"Maaf, boleh saya duduk di sini? Meja lain sudah penuh."
Ayunda mengangkat wajahnya. Seorang pria berdiri di hadapannya, mengenakan jas hitam yang sedikit basah terkena gerimis. Wajahnya tampak familiar, tetapi Ayunda tidak bisa mengingat di mana dia pernah melihat pria ini.
"Tentu," jawab Ayunda sambil tersenyum kecil.
Pria itu meletakkan kopinya di meja dan duduk. "Terima kasih. Saya Aksara," ucapnya sambil mengulurkan tangan.
"Ayunda," balasnya, menjabat tangan itu.
Obrolan ringan mengalir begitu saja. Mereka berbicara tentang kemacetan, hujan, dan hal-hal sepele lainnya. Aksara adalah seorang pengacara muda yang baru saja pindah ke Jakarta untuk mengejar karier. Pembawaannya tenang, dengan senyum yang membuat Ayunda merasa nyaman.
Malam itu, hujan deras membuat mereka terjebak lebih lama di kafe. Tanpa sadar, mereka berbagi cerita lebih dalam—tentang keluarga, mimpi, dan luka-luka yang tersimpan.
"Kenapa kamu terlihat familiar, ya?" Ayunda bertanya tiba-tiba.
Aksara tersenyum tipis. "Mungkin karena aku sering lewat depan kantormu. Kamu suka duduk di dekat jendela, kan? Aku sering melihatmu dari luar."
Ayunda tertegun. "Serius? Kenapa nggak pernah mampir?"
"Aku pikir kamu terlalu sibuk untuk diganggu," jawabnya sambil menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Hujan mulai reda. Waktu berlalu begitu cepat, dan mereka harus berpisah. Namun sebelum pergi, Aksara menyerahkan kartu namanya.
"Kalau kamu butuh teman ngobrol, hubungi aku," ucapnya sambil tersenyum.
Ayunda menyimpan kartu itu di sakunya. Saat dia melihat pria itu berjalan menjauh, hatinya bergetar. Ada sesuatu tentang Aksara yang membuatnya ingin tahu lebih banyak.
Beberapa hari kemudian, pesan masuk ke ponsel Aksara.
"Hai, ini Ayunda. Masih ingat aku? Mau ngopi lagi?"
Hujan di Jakarta telah mempertemukan mereka. Dan di balik gerimis yang terus membasahi kota, sebuah kisah baru mulai terajut.