"Jadi, kita harus siap buat presentasi besok," kata Shinta sambil ngeliatin Citra yang lagi sibuk ngetik.
Citra ngangguk tapi nggak ngangkat kepalanya. "Aku hampir selesai. Tinggal masukin data terakhir."
Shinta senyum tipis. Dia tau Citra adalah tulang punggung tim kreatif mereka. Walaupun keliatan pendiam, Citra selalu bisa ngeluarin ide-ide brilian buat setiap kampanye yang ditangani perusahaan. Tapi di balik kerja kerasnya, ada rasa sakit yang nggak pernah dia ungkapin.
Dua tahun lalu, Citra ngalamin penghinaan besar di perusahaan lamanya. Creative brief yang dia susun dengan detail dicuri sama rekannya, Andi, dan diakui sebagai hasil karyanya. Citra didepak, sementara Andi naik jabatan.
Sekarang, di agensi barunya, Citra nggak cuma bertanggung jawab atas kampanye besar, tapi juga harus memimpin timnya buat ngelawan Andi, yang sekarang kerja di agensi saingannya.
"Selamat pagi, para juri," Citra mulai presentasinya. Suaranya tenang tapi penuh keyakinan. Di layar, keliatan detail creative brief yang dirancang dengan teliti.
"Kita ngasih fokus ke tiga hal: jaga brand biar tetap eksis, manfaatin momen spesial, dan ngejar target penjualan. Kita pilih pesan utama 'Your Step, Your Story,' buat nge-highlight sepatu ini sebagai bagian dari perjalanan hidup setiap konsumen."
Shinta lanjutin penjelasan tentang distribusi anggaran dan penggunaan media. Tapi semua mata tetap tertuju ke Citra.
Pas presentasi selesai, para juri tepuk tangan. Tapi suasana jadi tegang pas giliran Andi tiba.
Andi maju dengan percaya diri. Tapi pas dia buka slide presentasinya, mukanya pucat. Kampanye yang dia usulin keliatan mirip sama punya Citra, cuma eksekusinya lebih dangkal. Para juri langsung ngebandingin.
Di akhir sesi, keputusan bulat diumumkan. Tim Citra menang kompetisi dengan nilai sempurna.
Di lorong kantor, Citra ketemu sama Andi. Pria itu kayak mau ngomong sesuatu, tapi Citra cuma ngeliatin dia dengan tatapan dingin.
"Aku nggak marah lagi," ucap Citra tiba-tiba. "Aku udah belajar kalau balas dendam yang terbaik adalah buktiin kemampuan."
Andi nge-tunduk, nggak bisa ngomong apa-apa.
Citra jalan pergi, ngerasa beban yang selama ini dia pikul udah ilang. Dia tau perjalanan kariernya masih panjang, tapi kali ini, dia melangkah dengan keyakinan penuh.