Hari itu, Han Sooyoung, mahasiswi semester tiga jurusan Desain Komunikasi Visual, memutuskan untuk memanfaatkan waktu kosongnya sebelum kelas sore dengan menyicil tugas. Kampus, dengan segala hiruk-pikuk kreativitasnya, adalah tempat yang nyaman untuk itu. Lagipula, untuk apa repot-repot pulang kalau nanti harus kembali lagi? Sooyoung memilih studio seni di lantai bawah—ruangan yang sering dipenuhi mahasiswa dengan buku sketsa dan kanvas mereka, tempat ide-ide bebas mengalir seperti sungai. Sedangkan lantai dua, yang lebih sepi, menyimpan alat-alat seni dan manekin yang kaku namun penuh potensi untuk menjadi referensi hidup.
Duduk di bangku panjang dekat jendela, Sooyoung mulai menumpahkan pikirannya ke atas kertas. Pensilnya menari, membentuk garis-garis yang perlahan menyerupai bayangan dalam benaknya. Tapi, seperti biasa, inspirasi datang dengan sedikit malu-malu. Garis yang ia buat terasa kurang. "Hmm, kurang bagus," gumamnya sambil menggigit ujung pensil, tatapannya menerawang ke jendela. Matahari siang yang cerah seolah mengejeknya, memaksanya bangkit.
Ia menutup buku sketsa, menggenggamnya erat, lalu beranjak ke lantai atas. Ruangan di lantai dua selalu terasa berbeda. Sepi, nyaris hening, seolah waktu berjalan lebih lambat di sana. Sebelum masuk, ia mengetikkan nama dan NIM-nya di komputer pendataan untuk mengetahui siapa saja yang masuk ruangan yang penuh alat praktek itu.
Ruangan itu, meskipun dipenuhi alat-alat seni, punya atmosfer yang agak ganjil. Cahaya matahari dari jendela besar di ujung ruangan menyinari manekin-manekin yang berdiri di berbagai sudut, membuat mereka tampak seperti penjaga setia studio seni ini. Sooyoung mulai mencari referensi di rak-rak buku yang berjajar rapi. Jemarinya menyusuri punggung buku, matanya menelusuri judul-judul yang kadang terdengar seperti puisi.
“Hmm, nggak ada yang pas…” gumamnya pelan. Ia mengembalikan buku terakhir ke rak, lalu mengalihkan perhatian ke manekin di sudut ruangan. Salah satu manekin itu berdiri dengan pose sederhana, tangan di pinggang, kepala sedikit miring.
"Ah, lumayan buat referensi ini," pikirnya. Ia mendekat, mencoba memperhatikan anatominya lebih detail. Tapi saat ia berpaling untuk mengambil buku sketsa dari meja kecil, sesuatu yang tak biasa terjadi.
Manekin itu… berubah pose.
Sooyoung mematung. Ia memandanginya dengan alis terangkat, berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia salah lihat. Sekarang manekin itu berdiri dengan satu tangan terangkat, seolah sedang melambaikan salam yang kaku.
"Eh, tadi tangannya nggak gitu, kan?" bisiknya pada dirinya sendiri. Ia menelan ludah, mencoba merasionalisasi apa yang barusan ia lihat. "Mungkin tadi aku nggak fokus," ujarnya pelan, mencoba tertawa kecil untuk mengusir perasaan aneh yang mulai mengendap.
Ia kembali ke meja kecil, membuka buku sketsa, dan mulai menggambar garis-garis kasar berdasarkan pose terakhir yang dilihatnya. Tapi rasa penasaran menang. Sooyoung melirik lagi ke arah manekin itu—dan kini, pose-nya berubah lagi. Kali ini kedua tangan terentang, seperti seseorang yang siap memeluk.
Sooyoung terdiam. Jantungnya mulai berdegup lebih cepat, tapi otaknya mencoba mencari alasan logis. "Oke, ini pasti ada yang iseng," gumamnya. "Siapa sih yang ngelawak di siang bolong kayak gini?"
Suasana ruangan yang sepi makin terasa mencekam. Sooyoung mencoba melangkah mundur perlahan, tapi tanpa sadar ia menabrak sesuatu—manekin lain yang kini berdiri di belakangnya, padahal tadi tidak ada apa-apa di sana.
"Ah! Sialan!" teriaknya kecil, berusaha menjaga suaranya agar tidak terlalu menggema di ruangan. Ia memutar tubuh dengan cepat, tapi manekin itu tetap diam. Wajah kaku yang tak memiliki ekspresi itu seolah mengejek keberaniannya.
“Siapa yang bercanda?! Keluarlah kalau mau!” teriak Sooyoung, kini lebih lantang. Namun, seperti yang ia duga, tidak ada jawaban. Hanya keheningan, ditemani suara detik jam di dinding ruangan.
Ia mencoba mengatur napas, berusaha menenangkan diri. "Oke, Han Sooyoung, nggak usah drama. Ini cuma… apa ya? Angin? Mesin rusak? Ah, nggak tahu deh!" katanya, setengah mencoba menyemangati dirinya sendiri.
Namun, saat ia hendak melangkah keluar, sebuah suara kecil, hampir seperti bisikan, terdengar dari arah manekin itu.
“Kamu… takut?”
Sooyoung langsung berlari tanpa menoleh lagi, meninggalkan buku sketsa dan segala macam logika di belakangnya. Sesampainya di lantai bawah, ia terengah-engah, wajahnya pucat. Beberapa mahasiswa lain menoleh, heran melihat reaksinya.
"Kenapa, Sooyoung?" tanya salah satu temannya yang duduk di dekat pintu.
"Nggak, nggak apa-apa. Lantai atas… serem aja," jawab Sooyoung sambil tersenyum kaku. Dalam hati, ia bersumpah tidak akan sendirian di ruangan itu lagi.