Sejak kecil, Kayla punya dunia kecilnya sendiri. Bukan karena ia kesepian, tapi karena dunia itu memberinya kenyamanan yang tak ia temukan di dunia nyata. Di sana, ada seorang teman yang selalu menemaninya, seseorang bernama Alaric.
Alaric adalah sosok yang Kayla ciptakan dalam pikirannya—seorang pemuda dengan rambut hitam pekat dan mata abu-abu yang selalu memancarkan rasa tenang. Alaric tahu segalanya tentang Kayla. Saat ia sedih, Alaric akan menghiburnya. Saat ia marah, Alaric akan mendengarkan tanpa menghakimi.
Namun, seiring berjalannya waktu, orang-orang di sekitar Kayla mulai mempertanyakan kebiasaannya berbicara sendiri.
“Kayla, kamu udah besar. Teman imajinasi itu buat anak kecil,” ujar ibunya suatu hari.
Kayla hanya tersenyum kecil. Mereka tidak mengerti. Alaric bukan hanya teman imajinasinya. Dia adalah pelindungnya, seseorang yang membuatnya merasa utuh.
Tapi di malam ulang tahunnya yang ke-16, sesuatu yang aneh terjadi. Kayla duduk di tempat tidurnya, memandangi langit-langit seperti biasa, berbicara dengan Alaric yang duduk di sebelahnya.
“Alaric, kamu pernah merasa ingin pergi?” tanyanya tiba-tiba.
Alaric tersenyum tipis. “Kenapa kamu tanya begitu?”
Kayla menghela napas. “Aku cuma berpikir… mungkin kamu lelah selalu ada di sini untukku.”
“Kayla, aku ada di sini karena kamu menginginkanku. Kalau suatu hari kamu tidak lagi membutuhkan aku, aku akan pergi.”
Perkataan itu membuat dada Kayla terasa sesak. “Tapi aku nggak mau kehilangan kamu.”
Alaric mengangguk, matanya memancarkan kehangatan. “Aku tahu.”
Malam itu, Kayla tertidur dengan rasa gelisah. Namun ketika ia bangun keesokan harinya, sesuatu terasa berbeda. Alaric tidak lagi ada di tempat tidurnya, tidak ada suara lembut yang menyapanya.
Kayla mencari ke seluruh kamar, bahkan memanggil namanya. Tapi ia tahu dalam hati, Alaric telah pergi.
Beberapa minggu berlalu, dan Kayla merasa kosong. Ia tidak tahu bagaimana menghadapi dunia tanpa kehadiran Alaric. Tapi lambat laun, ia mulai menyadari sesuatu—Alaric tidak benar-benar pergi.
Di setiap keputusan yang ia ambil, setiap keberanian yang ia temukan untuk menghadapi dunia, Kayla merasakan kehadirannya. Alaric ada di dalam dirinya, sebagai bagian dari kekuatan yang selalu ia bawa.
“Terima kasih, Alaric,” bisiknya suatu malam. “Aku nggak akan lupa kamu.”
Dan dalam keheningan malam itu, Kayla tahu bahwa teman imajinasinya telah mengajarkannya satu hal penting: bahwa ia bisa menjadi kuat, bahkan tanpa dirinya.