Nyanyian merdu katak saling bersahut- sahutan menggema dalam gelapnya malam. Permadani hitam tergelar luas seiring dengan dinginnya angin yang bertiup hingga menusuk tulang.
Suasana malam ini selaras dengan suasana hati Kyungsoo yang dingin dan berselimutkan rasa sepi. Matanya yang sebulat kelereng terlihat kosong, bahkan cahaya pun tak dapat menembus gelapnya mata jernih itu.
Pikirannya bagai kaset rusak yang berputar dan terhenti di satu kejadian pahit, di putar secara berulang-ulang hingga hati serasa ditusuk ribuan belati. Sakit, tapi tak berdarah.
“Kyungsoo-ya," panggil sebuah suara terdengar berat dan dalam. Beberapa detik kemudian rasa hangat menjalar ke seluruh tubuh Kyungsoo. Tubuh mungilnya tenggelam dalam dekapan hangat seorang namja berkulit pucat dengan tatapan dinginnya.
“Waeyo, Sehunnie?" Kyungsoo balik bertanya. Meski tidak memandang ke arah namja yang tengah memeluknya menyalurkan hangat tubuh untuknya.
“Apa yang menganggu pikiranmu, mengapa kau bermuram durja?" Sehun meletakkan dagunya di pundak sempit si mungil.
Senyum tipis nan hambar tersemat di wajah Kyungsoo, “Aku tidak apa-apa. Hanya melihat langit malam."
“Dan lucunya, malam ini langit itu sepertimu," sahut Sehun yang sukses menarik atensi Kyungsoo dengan menatapnya heran.
“Sepertiku?" beo Kyungsoo, entah apa yang dipikirkan Sehun hingga bisa menyamakan ia dengan langit malam.
“Kau!" jemari Sehun menekan hidung bangir milik gadis mungil itu. “Kau terlihat sendu, gelap dan dingin selayaknya langit malam. Ada apa denganmu, Chagiya?"
Sejenak Kyungsoo tergemap dirinya mendadak senewen. Lidahnya terasa kelu, suaranya tercekat.
“A ... aku, aku ...," ucap Kyungsoo terbata, setetes kristal bening meluncur mulus membasahi pipinya.
“Kau merindukannya?" potong Sehun cepat, “kau merindukan dia, meskipun dia sudah berulang kali menyakitimu?"
“Sehunnie ... aku ...," ucapan Kyungsoo lagi-lagi terpotong oleh Sehun.
“Baik Soo-ya, aku mengerti. Seharusnya dari awal aku memahami hatimu milik siapa, aku selalu menyangkal hal itu, aku terlalu bodoh, ha-ha-ha,” Sehun tertawa sumbang.
“Maaf Sehunnie, huks ... aku masih mencintainya, tapi ... tapi aku tidak ingin kembali padanya, aku takut terluka lagi. Ini ... tidak mudah untukku, Sehunnie, maaf, huks!" dengan bibir yang bergetar dan suara tercekat. Kyungsoo berusaha mengutarakan apa yang tengah ia rasakan. Mungkin ini terdengar menyakitkan. Tidak hanya untuk Sehun, tetapi juga untuknya.
Disaat hati tengah berperang dengan logika manakah yang harus Kyungsoo pilih?
Hati menjerit menginginkan kembali, namun pikiran menentang dan mengatakan untuk pergi.
“Pergilah, bukan berarti aku mengusirmu, tapi ikutilah kata hatimu, hati tidak akan pernah berbohong, Soo-ya," ujar Sehun sambil menatap gadis yang disayanginya itu.
“Sehunnie, kau ...," Kyungsoo menatap Sehun tidak percaya.
“Jika kau ingin kembali padanya, maka kembalilah. Namun, jika kau kembali terluka, aku selalu ada dan menunggumu. Hati ini selalu terbuka untukmu, Soo," lanjut Sehun lagi.
“Terima kasih, Sehunnie. Dan maaf, maaf aku telah menjadi seseorang yang jahat untukmu. Sekali lagi, maaf, huks!" Kyungsoo bicara sembari terisak.
“Jangan menangis, Chagiya. Aku tak apa, sungguh! Jemputlah kebahagiaanmu, aku akan selalu berada di sini menunggumu," ujar Sehun dengan tersenyum pahit.
Kyungsoo masih setia memeluk Sehun sambil menggumamkan kata maaf.