Rumah kediaman keluarga besar Hayyan.
Besar, megah dan kokoh, itu kesan pertama saat gerbang terbuka dari kejauhan.
Aku melihatnya dari dalam mobil, Danu menjadi supirnya. Dia bilang dia akan mempertemukan aku dengan bosnya yang sudah menerima ku menjadi asistennya.
Terkejut, ya, pasti.
Setelah aku dikeluarkan dari sekolah, setelah melanggar aturan mereka, dimana bukan aku yang membuat gaduh, tapi anak-anak idiot itu, yang menyatakan cinta di depan semua di upacara pagi. Anak murid menyatakan cinta pada guru olahraganya, aku.
Aku tidak tahu jika Danu sudah banyak menceritakan tentang ku pada bosnya. Dia bilang aku sudah diterima sebagai asistennya.
"Gila, masa udah diterima aja. Kan belum ketemu" seruku saat Danu memberitahu.
"Mau gimana lagi Mel, gua dah cerita semua tentang lu, dia bilang lu diterima dan lu harus kesana besok" Danu pun terlihat terkejut.
Hari ini, aku masuk ke rumah besar milik Ali Ahmad Hayyan. Seorang yang ditakuti di kota bahkan provinsi ini. Jika saja ada yang menyebut namanya, semua orang yang mendengar langsung melirik, ada juga yang meremas tangan karena merasa dendam padanya.
Anak terakhir dari keluarga Hayyan itu terkenal karena kekejamannya dalam mengambil alih tanah orang-orang yang berhutang padanya. Beberapa orang berhutang budi padanya karena sudah membantu untuk meminjamkan modal. Tapi tak sedikit pula yang merasa terjebak olehnya.
***
Pintu utama terbuka, besarnya mungkin empat kali dari pintu rumah ku. Aku menelan saliva melihat betapa megahnya ruang depan rumah itu.
Tapi, tak ada seseorang atau pengawal di dalam, tak seperti dalam film-film, dimana para ajudan berjejer menjaga, hanya dua orang tadi saja yang menjaga pagar dan mengantar hingga sekarang.
"Bos lagi di kolam renang, lu kesana aja" ucap Alfian seraya melirik ke arah ku.
"Ok, makasih bro" ucap Danu.
"Ihh, kita ke kolam renang?" tanyaku.
"Iya, tenang aja, dia renang bukan mandi, masih pake celana renang biasanya" ucap Danu.
"Bukan itu" aku memukul bahunya.
Danu menggosok bahunya merasakan pedasnya pukulan ku sambil meringis.
"Trus? " tanyanya.
"Jauh amat kolam renangnya" ucapku karena setelah melalui tiga ruangan besar masih saja belum terlihat kolam renang itu.
"Nooh, itu! " tunjuk Danu.
Ruangannya di dalam, seperti kolam renang umum, besar dan tertutup. Cahaya ruangannya redup, remang-remang terlihat beberapa orang duduk di pinggir kolam dengan santainya.
Mata mereka tertuju pada kami yang datang. Salah satu dari mereka, tatapannya tak berhenti. Terus menatapku dari kepala hingga kaki.
Risih, biasanya aku menghampiri orang-orang seperti itu dan menanyakan apa yang dia lihat dengan gaya preman ku.
"Pagi Bos!" seru Danu sok akrab.
Seorang pria berenang, masih dalam air, masih melakukan gaya punggung. Berenang mendekati ke arah kami.
Kepalanya muncul, wajahnya bersih, dia mengusapnya. Kemudian menatap ke arah ku. Aku menurunkan pandangan ku.
Dia keluar dari dalam air, tubuhnya tegap, namun alangkah seramnya, tangan hingga dada kanannya penuh dengan tatto. Aku jelas menganga melihat pemandangan itu.
"Tutup mulut mu! " bisik Danu.
Aku menutup mulut dan membasahi bibirku.
"Kau bodoh ya, ini sudah siang" ucap tuan Ali.
"Hehe, aku baru bangun, jadi ku anggap ini masih pagi" jawab Danu.
Tingkahnya benar-benar sok akrab dengan tuan Ali.
Tuan Ali memakai kimono handuknya. Dia menatap ke arah ku. Entah apa yang dia pikirkan, aku hanya memakai jeans dengan kaus dengan kemeja sebagai jaket.
"Dia? " tanya tuan Ali.
"Ya Bos! Melati" jawab Danu.
Tuan Ali menutup matanya seolah merasa geli dengan nama ku.
"Kenapa harus Melati? " ucapnya.
"Hmm? " aku tak mengerti.
"Ya kenapa nama mu harus Melati? " tanya sedikit terihat kesal.
"Karena orang tuaku yang memberikan namanya" jawab ku.
Semua orang tertawa terbahak-bahak, kecuali Danu yang mengusap wajahnya.
"Kenapa? " bisik ku pada Danu.
"Sssthhh! " Danu terlihat kesal.
Kemudian tiba-tiba dua orang datang dan meraih tangan ku. Aku terkejut dan langsung melawan mereka. Pukulan demi pukulan aku layangkan ke wajah dan perut mereka.
Kedua orang itu terkapar merasakan pedasnya pukulan ku.
Tak berhenti disitu, seseorang lagi datang, kali ini dia lain, tampan dan tinggi. Aku sempat terpana melihatnya, tapi dia tiba-tiba membuka pakaiannya dan hendak merangkul ku.
Tentu saja aku menepis tangannya, dia malah tersenyum mesum. Aku kesal, aku tendang tulang keringnya, dia kesakitan. Lalu ku pukul kepala dekat ke telinganya. Dia langsung tersungkur.
Aku menghela kemudian berbalik menatap ke arah tuan Ali dan Danu yang menyingkir ke pinggir tembok.
Tuan Ali malah bertepuk tangan, kemudian mengusir mereka dengan isyarat tangannya.
"Hebat! " ucapnya.
Aku tak suka, aku mengalihkan tatapan ku ke arah Danu yang tersenyum senang, kemudian mendelik padanya.
"Aku suka dia" lanjut tuan Ali seraya meminum air dalam botol.
"Tentu saja Bos, aku tahu dia sangat hebat" ucap Danu.
Jadi itu hanya tes untuk ku, aku terengah malas untuk menanyakan alasannya.
"Kau tinggalkan rumah mu dan menetap di sini" ucap tuan Ali.
"Kenapa? " tanya ku yang tak mau.
"Kau akan jadi asisten bos Ali, kau harus siap dua puluh empat jam" ucap Danu.
Aku mengerutkan dahiku.
Lalu, bagaimana dengan ibu ku?
***
Aku pulang, ibu sedang masak sup baso ikan kesukaan ku. Dia terlihat kelelahan, sesekali mengusap peluhnya dengan lengan bajunya.
Dia tak sadar aku sudah berdiri di ambang pintu. Cukup lama aku melihat pemandangan itu.
Aku sudah dua puluh lima tahun, masih saja harus membuatnya memasak untukku. Dia masih saja harus khawatir dengan ku, karena tak pernah bertahan lama bekerja di satu tempat.
"Kau sudah pulang? " tanyanya.
Kali ini aku yang terperanjat dari lamunanku.
"Ahhh, ya bu. Maaf terlambat" ucap ku.
Ibu menarik kursi untukku.
"Makanlah dulu baru nanti mandi, ibu laper bentar lagi mau pergi kerja" ucapnya.
"Pak Gunawan minta ibu balik lagi? " tanya ku.
"Iya, katanya Bu Nola belum bisa pulang dari rumah sakit. Jadi ibu harus jaga anak-anak" jawab Ibu.
Aku menunduk, malu karena di usia ibu yang ke 55, dia masih harus bekerja.
"Aku juga ada kerjaan baru" ucap ku.
Ibu menatapku sambil memberikan semangkuk sup.
"Kau kuliah saja lagi, strata dua jadi kau bisa bekerja di Universitas" ucap Ibu.
"Kali ini pasti aku bisa bertahan lama di sana" aku yakin karena merasa pekerjaan itu sesuai keahlian ku.
"Jadi apa? Guru taekwondo? Olahraga? Kau melatih orang berkelahi? Sudah hentikan, ibu tidak mau kau mengajari orang berkelahi, tidak baik wanita seperti itu"
Ibu menunjuk dengan sendoknya.
"Aku jadi asisten pribadinya seorang pengusaha" jawab ku dengan mulut penuh makanan.
"Apa?" Ibu tak percaya.
"Iya, tanya saja Danu. Dia yang mengenalkanku dengan bosnya. Tadi aku sudah diterima" jawabku.
Ibu berpikir, dia dan aku kenal Danu, kami bertangga sudah hampir lima tahun. Danu pindah ke rusun karena ruangannya lebih kecil dan bisa digunakannya untuk istirahat, terutama dia selalu bekerja saat malam.
Ibu menatapku, aku berpikir ibu akan percaya karena Danu suka bicara dengannya tentang bos nya yang kaya raya.
Namun, nama Ali Ahmad Hayyan tak terlalu terkenal di rusun ini. Ini termasuk rusun sederhana, mereka semua terlalu miskin untuk meminjam dari tuan Ali yang menangani pinjaman besar.
"Kapan mulai kerja? " tanyanya.
"Aku harus pindah malam ini" jawab ku.
"Pindah? malam ini? kemana? " ibu tersedak.
"Bu, pelan-pelan! " aku mengambil air untuknya.
Aku menepuk pundaknya perlahan.
"Ke rumahnya bos ku, kan aku jadi asisten pribadinya" jawab ku pelan seraya mengusap punggungnya.
Ibu menghela, kemudian menaruh gelasnya.
"Jadi kau takkan tinggal di rumah? " ibu terdengar sedih.
"Hmmm" jawabku.
"Bagus! " ibu berdiri tiba-tiba.
Aku terkejut menatapnya.
"Ibu juga akan tinggal di rumah pak Gunawan, jadi ibu tidak perlu repot pulang untuk masak makanan mu, kita sewakan saja rumah ini pada orang lain, lumayan kan duitnya bisa buat tambahan bayar hutang bapak mu"
Aku mendelik, kembali duduk dan memakan sup ku. Aku benar-benar merasa ibu sedang menunjukkan betapa selama ini aku merepotkan dirinya.
Dia terus bicara merencanakan keuangannya. Aku hanya menatapnya sambil menghabiskan sup ku.
***
Malam pertama di rumah Tuan Ali.
Kamar ku cukup luas, kamar mandi di dalam Lemari pakaiannya terlalu besar untuk baju ku yang sedikit. Aku menghela karena di dalamnya sudah tersedia beberapa setelan jas khusus untuk ku, katanya.
Aku menyipitkan mataku, merasa aneh dengan seragam itu.
"Apa cukup? " gumamku bertanya-tanya.
Aku ambil salah satunya, ku tempelkan ke tubuhku, merasa itu terlalu kecil. Tapi akhirnya aku coba.
Aku bercermin, membulatkan mataku, aku terlihat cocok memakainya. Seperti Angelina Jolie, cantik. Aku tersenyum pada diriku.
Tiba-tiba seseorang membuka pintu kamar ku. Mataku membelalak menatap ke arah Tuan Ali yang berdiri menatap ku juga.
"Maaf, aku lupa mengetuk, turun sebentar! "
Dia berbalik sebelum bicara seperti itu.
Aku terheran, ya, ini karena dia tak mengetuk, bagaimana kalau aku sedang membuka bajuku? Huuft.
Aku berjalan menyusulnya, sambil mengikat rambutku.
Semua orang menatap ke arah Tuan Ali yang turun dari tangga. Beberapa menatap ku, pria tinggi yang waktu itu ku tendang pun ada di sana, menatap ku sinis.
Bu Sumi melambaikan tangannya, meminta ku ikut berdiri di ujung dekat dengannya dan dekat dengan Tuan Ali.
"Maaf mengganggu kalian, mulai malam ini ada pegawai baru, namanya Melati" ucap Tuan Ali.
Semua orang menunduk.
Aku tak sangka akan diperkenalkan seperti ini, secara langsung oleh Tuan Ali. Untung aku sudah pakai seragamnya.
"Jadi, selama aku ke Rusia, aku dan Melati akan pergi dengan Mark dan Hans" ucapnya lagi.
Hah, Rusia?
Untuk apa?
Aku terus bertanya-tanya dalam hati.
Mark dan Hans
salah satu dari mereka adalah pria itu. Yang sinis, mungkin karena kesal ku tendang.
"Ini adalah perjalanan bisnis yang cukup lama, aku harap kalian bisa menjaga rumah dari orang-orang yang jahil, kalian mengerti kan?"
"MENGERTI BOS!" seru semua orang kecuali Bu Sumi dan aku.
Aku hanya bisa celingak celinguk, tak tahu harus bicara apa.
"Melati, aduuuhhh, manggil kamu berasa melow banget. Gimana cara manggil kamu yang agak gagah gitu ya? " ucap Tuan Ali.
Semua orang menyembunyikan tawanya, aku merengut.
"Mel saja Bos, tidak usah lengkap" jawabku.
"Ok, Mel, ikut aku ke kamar" titahnya.
Tuan Ali kembali naik, aku jelas langsung menyusulnya dan berjalan tepat di belakangnya.
Tuan Ali membuka pintu kamarnya, kemudian menunjuk agar aku berdiri di tempat yang dia mau.
Dia membiarkan pintu terbuka, tak ada siapapun di sana. Tak ada satu foto pun juga. Hanya ranjang besar, polos berwarna abu tua.
Satu tempat yang membuatku terkagum, merasa Tuan Ali istimewa.
Tepat di pojok kamar dekat jendela, tergelar sajadah dan lemari kecil berisi kitab suci yang berjejer dengan berbagai ukuran dan warna. Seolah dipilih karena telah dibacanya.
Tuan Ali membuka sebuah lemari dan cukup lama diam di depannya. Kemudian berbalik dan menatapku tanpa menutupnya.
Aku menelan saliva melihat apa yang dia pegang. Sebuah pistol.
"Ini sudah ada izinnya, tapi... "
Tuan Ali mendekat.
"Jika kau menggunakannya sembarangan, aku tidak mau bertanggungjawab atas itu" lanjutnya memberikannya padaku.
"Untuk ku? " aku menelan saliva lebih banyak sepertinya.
"Ya, kau kan asisten ku sekarang. Kita akan ke Rusia untuk satu bulan, kau perlu karena harus terus menjaga ku bukan? " jelasnya.
"Tapi... "
Dia meraih tanganku untuk menerima pistol itu.
"Simpan, besok kita pergi beli koper untuk mu" ucap Tuan Ali.
Aku menatap pistol itu dengan mengambil nafas panjang.
Tuan Ali menutup pintu lemarinya, kali ini perhatian ku teralih pada sebuah gaun yang tergantung di dalamnya. Gaun putih polos dengan sedikit renda di tangan.
Tuan Ali berbalik, aku mengalihkan pandangan ku.
"Dan ingat, sebenarnya itu seragam untuk di sini saja, bukan untuk ke Rusia" ucap Tuan Ali.
Aku mengerutkan dahi ku, tak ada jenis pakaian lain di lemari ku.
"Besok kita beli sekalian" lanjut Tuan Ali.
Aku masih diam dengan semua pertanyaan di benak ku.
"Kau ini bisa jawab tidak sih? " tanya Tuan Alis dengan nada yang sedikit lebih tinggi.
"Ya, siap Bos! " jelas aku terperanjat.
"Sudah sana, kembali, tidak usah jadi asisten di kamar ku juga" ucap Tuan Ali hendak membuka kausnya.
Aku berlari keluar dengan menyelipkan pistol di pinggang ku.
Hela nafas ku terus berhembus sampai ke kamar ku. Terkejut dia akan membuka bajunya di hadapan ku.
Kemudian aku memegang pistolnya, menatap dengan dalam mengingat bagaimana aku bisa pandai menggunakannya dulu.
======>>
saya rasa ini berlanjut, tunggu ya!
Terimakasih!