Di sebuah kerajaan yang jauh dari keramaian, hiduplah seorang raja yang sangat mencintai putrinya, Putri Isabella. Isabella adalah gadis yang cantik jelita dan penuh dengan kebaikan hati. Namun, kebahagiaan mereka terusik ketika sang ratu, ibu Isabella, meninggal dunia akibat penyakit yang tidak dapat disembuhkan.
Raja Ferdinand sangat terpukul oleh kepergian sang ratu. Ia menjadi semakin protektif terhadap Putri Isabella, takut kehilangan lagi orang yang dicintainya. Akibatnya, Isabella tumbuh menjadi gadis yang ceria namun terkekang oleh kekhawatiran sang ayah.
Suatu hari, kabar tentang seorang penyihir sakti yang bisa menyembuhkan segala penyakit dan mengembalikan kehidupan tersebar ke seluruh penjuru kerajaan. Raja Ferdinand yang putus asa mendengar kabar tersebut dan langsung mengirim utusan ke tempat tinggal penyihir itu.
Utusan kerajaan berhasil menemukan penyihir, seorang wanita tua berkepala botak dengan mata tajam seperti elang. "Apa yang kau inginkan, Raja Ferdinand?" tanya penyihir itu dengan suara serak.
Raja Ferdinand menjelaskan tentang kepergian sang ratu dan betapa ia tidak ingin kehilangan Putri Isabella juga. "Aku ingin Putri Isabella tetap sehat dan bahagia selamanya," ucap Raja Ferdinand dengan tulus.
Penyihir itu tersenyum, namun senyumnya tidak menjamin kebaikan. "Aku bisa membantumu, tetapi dengan imbalan yang pantas," ucapnya tajam.
Raja Ferdinand segera menyanggupi apa pun imbalan yang diminta, dan penyihir itu pun mengeluarkan sebuah keris kecil berkilauan. "Ini adalah keris ajaib. Tancapkan ke dalam tanah di samping istanamu, dan keinginanmu akan terwujud," kata penyihir itu sambil menyerahkan keris itu kepada Raja Ferdinand.
Raja Ferdinand pulang dengan gembira, tetapi tidak lupa dengan perintah penyihir itu. Setibanya di istana, ia segera menancapkan keris ke tanah di samping gerbang istana. Keesokan paginya, ia terkejut melihat pohon mungil berbunga indah tumbuh di tempat itu. Bunga-bunga itu terlihat seperti bintang bercahaya di malam hari.
Isabella yang melihat keindahan pohon itu langsung jatuh cinta padanya. Ia mendekati pohon itu setiap hari, memberi makan, dan berbicara dengannya. "Aku akan memanggilmu Bintang," ucap Isabella sambil tersenyum.
Pohon itu tumbuh semakin besar seiring waktu, dan dengan ajaibnya, kebahagiaan Isabella terpancar dari kebersamaannya dengan pohon tersebut. Setiap kali Isabella merasa sedih atau khawatir, ia akan duduk di bawah pohon itu dan merasa seperti ada energi yang menenangkan hatinya.
Namun, kebahagiaan mereka terancam ketika seorang bangsawan tampan, Lord Adrian, datang ke kerajaan untuk mencari calon istri. Lord Adrian yang sombong dan angkuh segera jatuh hati pada kecantikan Isabella. Ia meminta izin kepada Raja Ferdinand untuk meminang Putri Isabella.
Raja Ferdinand merasa senang dengan kedatangan Lord Adrian. Namun, Isabella merasa tidak nyaman dengan sikap Adrian yang sombong dan tidak peduli dengan perasaannya. Ia merasa bahwa hanya pohon Bintang yang benar-benar mengerti dan mendengarkan dirinya.
Suatu malam, Isabella bermimpi bertemu dengan penyihir itu lagi. "Pohon Bintang adalah hasil dari keris ajaibku. Dia adalah perlambang cinta sejati antara kalian berdua," kata penyihir itu.
Isabella tersentuh. Ia tahu sekarang bahwa cintanya sejati ada pada pohon itu, bukan pada Lord Adrian yang mencoba memaksakan kehendaknya. Keesokan paginya, ia memberanikan diri menghadap Raja Ferdinand.
"Ayah, aku menghargai kasih sayangmu, tetapi hatiku sudah memilih. Pohon Bintang adalah yang mengerti aku sepenuhnya," ucap Isabella dengan lembut.
Raja Ferdinand awalnya terkejut, tetapi melihat kebahagiaan yang mengalir dari putrinya, ia pun mengerti. "Jika itu yang kau inginkan, maka itu yang akan kudukung," ucap Raja Ferdinand sambil tersenyum.
Lord Adrian marah besar dan meninggalkan kerajaan dengan malu. Isabella dan Raja Ferdinand hidup bahagia bersama pohon Bintang yang terus tumbuh subur di istana mereka. Cinta sejati Isabella kepada pohon itu menjadi legenda di seluruh kerajaan, mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati dapat ditemukan di mana pun hati membawanya.