Karena ini aku tulis tengah malam dan aku bahkam belum menghafal tugas, jadi sebisa mungkin aku buat narasi kali ini dengan singkat namun lengkap menjelaskan isi pikiranku saat ini.
Melepas idealisme iti memang bukan hal yang mudah. Aku jadi sedikit mengerti mengapa salah satu tokoh terdahulu pernah berkata kalau itu—idealisme—merupakan senjata terakhir generasi muda. Itu jadi terdengar masuk akal setelah aku memahami sedikit perihal idealistis yang sedang aku alami saat ini.
Idealistis ini membuatku sulit dalam memahami materi-materi formal yang seharusnya aku pelajari untuk memasuki jenjang pendidikan selanjutnya. Keinginanku untuk terus menulis dan mengembangkan kemampuan mengarang melampaui bahkan hasratku untuk memasuki perguruan tinggi yang aku mau. Aku lebih berhasrat, terdorong, dan termotivasi untuk menulis ide-ide absurd dalam kepala alih-alih mempelajari semua materi ujian masuk yang menyesakkan kepala. Meskipun aku tahu sepenuhnya bahwa itu merupakan titik penting jika aku ingin menjalani hidup sebagaimana yang yang aku idealkan, tetapi idealistis ini lebih membawaku pada penemuan atas jati diri sesungguhnya.
Jati diri yang aku maksud adalah penemuan atas apa yang ingin aku lakukan selama ini, apa yang ingin aku cari-cari selama ini, dan apa yang ingin aku capai selama ini. Idealisme ini sungguh membuatku lebih "hidup" alih-alih memaksakan diri memakan materi-materi berat yang justru membebankan kepala. Ah, ini jadi terdengar seperti aku menyepelekan semua itu. Maksudku adalah, bahwa mengejar idealisme membuat kehidupanku menjadi lebih "hidup" dan terasa kalau aku memang "hidup".
Oleh karena itu, melepas apa yang baru saja aku temukan sebagai jati diri setelah pencarian selama bertahun-tahun, ini seperti handphone yang pada akhirnya bisa kau beli setelah sekian tahun menabung tiba-tiba harus kau buang demi mengejar realitas. Rasanya sungguh menyesakkan dan tidak nyaman.
Aku tahu ini terdengar seperti terlanjur berada dalam zona nyaman sehingga enggan 'tuk keluar dan menghadapi kerasnya realitas.
Yah, aku tidak akan menolak anggapan seperti itu, karena pada dasarnya aku memang masih mau menikmati zona nyaman idealisme ini.
Akan tetapi, yah, sisa waktuku untuk "menikmati" kehidupan sekolah sudah berkurang drastis hingga kini tersisa kurang dari setahun lagi. Begitu semester ini selesai, hidup akan dipenuhi oleh realitas yang belum mau aku jamah.
Karena hal ini pula aku jadi terpikir, mereka-mereka yang rela melepas idealisme demi mengejar realitas, para pekerja yang bekerja tidak sesuai dengan apa yang telah mereka tekuni, para mahasiswa yang mengejar kesempatan karier alih-alih mengejar idealisme, adalah mereka-mereka yang telah dewasa, karena berani dan rela meninggalkan idealisme demi memasuki realitas yang sesungguhnya.
Atau.
Aku saja yang terlalu berlebihan?
Saat selesai ditulis, menurut estimasi platform ini, terdapat sekitar 435 total kata yang dapat aku tulis dalam waktu yang mepet ini, pun belum sempat aku revisi.
Baiklah, then, we'll meet again in other session.
またあした~