Siang itu, Dinda lagi asik scroll Instagram sambil minum kopi di sebuah kafe hits di pusat kota. Dia lagi nunggu pacarnya, Raka, yang janji mau ketemu setelah meeting penting di kantor. Dinda mulai bosan karena Raka telat hampir setengah jam. Saat dia lagi asik nge-scroll, tiba-tiba ada pesan masuk di DM Instagram-nya dari seorang cowok yang nggak terlalu dia kenal, namanya Fajar.
“Hey Din, lama nggak ketemu. Apa kabar?” tulis Fajar.
Dinda tersenyum kecil. Fajar ini temen SMA-nya dulu, dan mereka dulu lumayan deket, tapi ya cuma sebatas temen. Dinda bales pesan itu, dan mereka mulai ngobrol ngalor-ngidul tentang kehidupan masing-masing. Tanpa disadari, mereka jadi sering ngobrol lewat DM, dan bahkan mulai tuker-tukeran nomor WhatsApp.
Sementara itu, hubungan Dinda dan Raka mulai ada masalah. Raka sering sibuk sama kerjaannya dan sering banget telat atau malah batalin janji ketemuan. Dinda mulai merasa diabaikan dan kesepian. Dan di saat-saat kayak gini, Fajar selalu ada buat dia, meskipun cuma lewat chat atau telepon.
Suatu hari, Dinda dan Fajar memutuskan buat ketemuan. Mereka pilih tempat yang jauh dari keramaian biar nggak ketahuan siapa-siapa. Di sana, mereka ngobrol panjang lebar, ketawa bareng, dan nostalgia masa-masa SMA. Dinda ngerasa nyaman banget sama Fajar, dan tanpa sadar perasaannya mulai tumbuh lebih dari sekedar temen.
Malam itu, sepulang dari ketemuan sama Fajar, Dinda nggak bisa berhenti mikirin dia. Hatinya berdebar-debar dan dia bingung sama perasaannya sendiri. Di satu sisi, dia sayang sama Raka, tapi di sisi lain, Fajar bikin dia ngerasa hidup lagi.
Hubungan Dinda dan Fajar makin intens. Mereka sering ketemuan di tempat-tempat rahasia, ngabisin waktu bareng tanpa ada yang tahu. Dinda ngerasa bersalah sama Raka, tapi dia nggak bisa berhenti. Perasaan itu terlalu kuat dan dia terjebak di antara dua cinta.
Suatu malam, Dinda dan Fajar ketemuan di apartemen Fajar. Mereka duduk di balkon, ngobrol tentang banyak hal sambil menikmati pemandangan kota di malam hari. Tanpa sadar, Fajar meraih tangan Dinda dan menatap matanya dalam-dalam.
“Din, gue sayang sama lo. Gue tahu ini salah, tapi gue nggak bisa bohongin perasaan gue,” kata Fajar pelan.
Dinda terdiam. Air mata mulai menggenang di matanya. “Gue juga sayang sama lo, Jar. Tapi gue nggak tahu harus gimana. Gue nggak mau nyakitin Raka.”
Fajar menarik Dinda ke pelukannya. “Gue ngerti, Din. Tapi gue juga nggak bisa nahan perasaan ini. Gue pengen kita bareng.”
Malam itu, Dinda pulang dengan perasaan campur aduk. Dia tahu dia harus membuat keputusan, tapi itu nggak mudah. Dia mencoba berbicara dengan Raka, tapi setiap kali mereka ketemu, Raka selalu sibuk dan nggak punya waktu buat ngobrol serius.
Akhirnya, Dinda memutuskan buat jujur sama Raka. Dia mengajak Raka ketemuan di kafe tempat mereka sering nongkrong dulu. Dengan hati-hati, Dinda menceritakan semuanya. Tentang perasaannya yang berubah, tentang Fajar, dan tentang kesepiannya selama ini.
Raka terdiam sejenak. Wajahnya menunjukkan rasa kecewa dan sakit hati. “Kenapa lo nggak bilang dari awal, Din? Kenapa harus kayak gini?”
Dinda menangis. “Gue nggak tahu harus gimana, Ka. Gue sayang sama lo, tapi gue juga sayang sama Fajar. Gue nggak mau nyakitin lo.”
Raka menghela napas panjang. “Gue butuh waktu buat mikir, Din. Ini terlalu berat buat gue.”
Mereka berpisah dengan hati yang terluka. Dinda tahu dia sudah membuat keputusan yang sulit, tapi dia harus jujur pada dirinya sendiri dan pada Raka. Hari-hari berikutnya, Dinda dan Fajar semakin dekat. Mereka berusaha menjalani hubungan dengan lebih hati-hati dan penuh perhatian.
Namun, bayangan Raka masih sering menghantui pikiran Dinda. Dia merasa bersalah dan sedih karena harus menyakiti orang yang pernah sangat dia cintai. Tapi di sisi lain, dia merasa bahagia karena bisa bersama Fajar, seseorang yang membuatnya merasa hidup dan dicintai.
Waktu berlalu, dan Dinda mulai belajar menerima kenyataan. Dia tahu bahwa hidup nggak selalu berjalan sesuai rencana, tapi yang terpenting adalah jujur pada diri sendiri dan pada orang lain. Dinda dan Fajar berusaha membangun hubungan yang lebih baik, dengan harapan bisa saling mendukung dan mencintai tanpa ada kebohongan lagi.
Meski perjalanan mereka nggak mudah, Dinda yakin bahwa cinta sejati akan selalu menemukan jalannya, meskipun harus melalui jalan yang berliku dan penuh tantangan.