"Kok,kamu aneh sekarang?" "Kamu udah nggak asyik lagi" "Ini di sekolah bukan di pesantren, kenapa kamu pakai seragam panjang begitu?" "Dandananmu seperti ibu-ibu " "Kita mahu ke mall bukan ke tempat pengajian " "Kita masih muda, nanti saja kalau sudah tua insyafnya. Kita nikmati saja masa muda dahulu" Pertanyaan-pertanyaan dan komentar yang hinggap di telingaKu akhir-akhir ini.
NamaKu Eliza, Aku terlahir bukan dari keluarga yang anggota keluarganya ada yang mengemban pendidikan pesantren atau pemilik pondok pesantren. Aku anak kedua dari keluarga yang pendidikan agamanya biasa-biasa saja, yang sekedar tahu mana yang benar dan salah, mana yang wajib dan sunnah. Sesuai ilmu agama yang kami peroleh dari kajian dan orangtua terdahulu.
"Eliza, tunggu!", panggil Tiara kepadaKu yang baru saja bersiap meninggalkan kelas.
Tiara duduk tepat di baris ketiga, dua baris di belakangKu.
"Kenapa?," Aku menghampirinya berdiri di samping mejanya.
"Ada yang ingin ku tanyakan padamu. Tapi, ini sebenarnya pertanyaan dari teman-teman lainnya juga" Tiara menjawabKu dengan ragu-ragu.
"Katakan saja," desakKu.
"Begini,... Apakah kamu dijodohkan dengan anak ustadz atau cucu pemilik pondok pesantren sehingga kamu diminta memakai itu?," Tiara bertanya sambil menunjuk kerudungKu.
"Astaghfirullah, Ti. Mana mahu aku dijodohkan. Aku kan, masih kelas 11. Tapi, jika itu benar, siapa sih, yang menolak diambil mantu oleh ustadz ha..ha...ha..."
"Terus, kenapa kamu seperti sekarang?. Kami ingin mengajakmu jalan-jalan seperti dulu tapi, kami takut jika kami mengajakmu, kamu akan menceramahi kami karena kami akan mengajak pacar kami juga"
"Memangnya aku ustadzah?. Katakan kepada mereka, aku akan ikut tapi, tolong, jangan kalian ajak pacar-pacar kalian, please. Aku tidak mahu jadi obat nyamuk"
"Kalau itu alasanmu, nanti ku kabari. Aku beri tahu mereka dahulu "
"Ok, see you," Aku berbalik badan dan pergi.
"Oh, ya," sekali lagi Tiara mencegatKu
"Ada apa lagi?" TanyaKu mencoba sabar.
"Jika mereka menyetujui alasanmu, ceritakan kepada kami alasanmu berhijrah"
"Ok, aku akan memberi tahu. Aku sudah boleh pulang sekarang?, aku sudah lapar," ngeluhKu.
"Ku kira kamu lagi puasa"
"Aku lagi DATANG BULAN!!. Jadi, jangan mancing emosiku!"
"Sabar Sholehah, godanya seraya berlari menjnggalkanKu. Aku hanya bisa tersenyum melihat kejahilannya.
...
Cafe ceria.
Aku telah tiba di cafe tempat biasa kami nongkrong. Aku melihat jam di layar ponsel pintarKu. Ternyata sudah 10 menit aku duduk sendiri menunggu mereka yang belum kunjung tiba.
📩 Kenapa kalian belum datang?
Aku mengirim chat kepada Tiara dan langsung tercentang dua berwarna biru.
📩 Mereka nggak mahu datang ke cafe. Mereka lebih memilih pergi bersama pacar mereka. Tapi, aku sudah dekat, tunggulah kurang dari 5 menit aku tiba
Benar seperti ceramah yang pernah Ku dengar. Kalau kita ingin berubah menjadi lebih baik, Allah akan menjauhkan kita dari teman-teman yang tidak baik dan akan mendekatkan kita dengan teman-teman yang sama-sama ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Begitulah kurang lebih yang Ku fahami.
"Maaf, aku terlambat." Tiara langsung duduk di depanKu dan membuyarkan lamunanKu.
"Nggak apa-apa. Pesanlah, aku traktir" ucapKu.
"Itu gampang, nanti saja aku pesan. Aku penasaran bagaimana ceritamu bisa terpikiran hijrah?"
"Hmmm, liburan semester kemarin, aku liburan ke rumah pamanku. Sepupuku yang seusiaku mengajakku pergi bersamanya ke pengajian di masjid raya. Ustadz yang diundang itu membawakan tausiah tentang hijab. Beliau bilang, jika kita tidak menutup aurat kita dari ujung rambut ke ujung kaki sesuai yang Allah firmankan, bapak kita selaku kepala keluarga, akan ikut mempertanggung jawabkan di hadapan Allah nanti"
"Bukannya, kalau sudah baligh seperti kita, kita yang akan menanggung dosa kita sendiri?, kenapa juga ayah kita
ikut-ikutan ?" Tiara masih belum paham juga maksudKu.
"Yang kamu bilang itu benar. Tapi, bapak kan, pemimpin kita, dan pemimpin harus ikut bertanggung jawab atas siapa saja yang dipimpinnya. Ti, aku nggak mahu papaku terhalang masuk ke surga karenaku"
"Aku terima alasanmu. Tapi, aku masih belum siap menjadi sepertimu. Aku masih ingin menikmati masa mudaku"
"Kamu kira aku nggak menikmati masa mudaku?. Aku merasa lebih tenang sekarang dan kemanapun sekarang aku pergi, aku nggak digodain oleh cowok-cowok iseng yang nongkrong di pinggir jalan lagi. Aku merasa tenang sekarang. Hijrah sudah menjadi pilihanku dan keluargaku mendukungku, Alhamdulillah "
"Mulai sekarang, aku janji akan membelamu jika mereka bertanya yang macam-macam lagi padamu "
"Terima kasih, Ti. Kamu memang sahabat sejatiku. Pesanlah "
"Dengan senang hati"
Kamipun tersenyum, mengobrol, bercanda dan tertawa bersama.
...