*****
"LEO!" Rahma berteriak membahana di ambang pintu kantin. Tidak dipedulikannya tatapan orang-orang yang kesal karena merasa terganggu.
Rahma celingukan mencari sesosok cowok jangkung berwajah tengil. Bola matanya bergerilya menyusuri penjuru kantin. Ah! Yang dicari akhirnya ketemu. Leo duduk di pojok sendirian sambil menutupi wajahnya dengan sebuah buku kecil.
Mata Rahma memicing, walau sebagian wajahnya tertutup buku, gadis belia itu sudah kenal perawakan sang sahabat. Dengan tergesa dia menghampiri cowok remaja yang masih menunduk.
Di belakang Rahma ada Tyas yang baru muncul di ambang pintu, napasnya terengah-engah karena dari tadi mengejar Rahma. Dia pun langsung mengikuti sang sahabat yang berjalan tergesa ke arah sebuah bangku di pojokan.
Rahma langsung menggebrak meja, membuat Leo terlonjak. Lalu dia mendongkak menatap Rahma sambil nyengir.
Gadis itu melotot ke arah Leo. Ke-kesalan-nya bertambah saat melihat cengiran tanpa dosa itu. "Nggak usah pake senyum segala! Gua eneg liat senyum Lo, asal tahu aja, senyuman Lo itu jelek banget, kayak kambing!"
Leo langsung mingkem. Lalu cemberut karena perkataan Rahma. Sedangkan Tyas yang berada di sampingnya mengelus -ngelus bahu sang sahabat untuk menenangkan.
"Kenapa, sih. Kok, marah-marah? Udah, mending duduk, yuk. Kita makan bareng." Leo bersikap selembut mungkin dan bibirnya kembali nyengir.
"Jangan sok polos, Lo. Gua beber-bener marah, nih. Gua kesel sama Lo!" Rahma menjambak rambut Leo tanpa ampun.Tak mempedulikan orang-orang yang dari tadi memperhatikan.
"Aww, aww! Apaan sih, Ma! Sakit tahu!" Leo berusaha melepaskan cengkraman Rahma yang menempel kayak permen karet. Susah sekali lepasnya.
"Sabar, Ma. Sabar." Tyas menasihati, sambil ikutan berusaha melepaskan cengkramannya.
Rahma tak peduli dengan rintihan Leo, dia benar-benar kesal. "Gua tahu! Lo, 'kan yang masukin enam ekor kodok gede ke tas gua!" Dia menjambak sambil menggoyang-goyang kepala Leo. "Lo tahu, 'kan kalau gua takut banget sama yang namanya kodok! Lo jail banget, sih!
Leo masih merintih. Tyas berusaha menenangkan Rahma, tapi tidak berhasil. Orang-orang yang memperhatikan geleng-geleng kepala sambil menahan diri untuk tidak tertawa keras.
Mereka semua sudah hapal dengan tabiat sepasang sahabat itu, pertengkaran selalu menjadi bumbu hubungan mereka, jadi, para manusia yang menyaksikan kejadian itu cukup menonton saja, tak ada niatan untuk merelai. Toh nanti juga dua orang itu bakalan akur lagi.
"Maaf, maaf! Gua hanya bercanda!" Leo berujar disela rintihannya. "Tolong lepasin! Gua kesakitan, nih!"
"Rahma! Udah lepasin," ucap Tyas, merasa iba dengan keadaan Leo.
Karena merasa capek, akhirnya Rahma melepaskan cengkramannya pada Leo. Dia menatap sengit cowok remaja yang kini tengah mengusap-ngusap kepala sambil meringis.
"Jahat banget, sih Lo!" Leo menggerutu. Bibirnya manyun beberapa centi.
Rahma mendengkus, tak peduli Omelan Leo. Dia menghempaskan bokongnya ke kursi. Tyas pun melakukan hal yang sama.
"Udah Jang ngambek melulu, gua, 'kan hanya bercanda.
Rahma mendelik sengit. Membuat Leo ciut. "Ok! Gua minta maaf, dan sebagai permintaan maaf, gua bakalan traktir Lo makan sepuasnya," ujar Leo, di barengi senyuman manis.
"Beneran?" tanya Rahma. Merasa sangsi.
"Suerr! Udah cepet mau makan apa? Gua pesanin."
"Gua juga di traktir, 'kan?" Tyas tak mau ketinggalan.
Leo mendelik ke arah Tyas. "Ogah! Lo bayar sendiri kalau mau makan."
Tyas cemberut. "Ya Lo kok gitu." Dia cemberut ekspresinya seperti anak kucing minta dikasih ikan.
Leo mendesah. "Ya deh, gua traktir."
Tyas langsung sumuringah.
Rahma sekarang tampak tenang, amarahnya mulai mereda. Namun, otaknya sibuk mencari cara untuk membalas perbuatan Leo.
*****
Tiba-tiba Rahma meletakkan toples kaleng kecil di meja Leo. Dia yang sedang asyik mendengarkan musik melalui headset langsung mendongkak.
Leo melepaskan headset yang tertempel di telinga. "Apaan, nih?" tanyanya sembari memperhatikan toples di depannya.
"Kue, buatan mama. Cobain aja, enak, lho." ucap Rahma, lalu melengos pergi.
"Eh, Lo mau kemana?" Leo heran melihat Rahma yang main pergi begitu saja.
"Ke tiolet," jawab Rahma singkat, sambil terus melangkah meninggalkan kelas.
Leo menggendigkan bahu cuek. Lalu perhatiannya kembali pada toples kaleng yang diberikan Rahma. Dia tersenyum sumuringah, asyik dapat kue! Soraknya dalam hati. Dengan penuh semangat dia membuka penutup toples, dan ....
"Aaaaa!" Leo menjerit sambil melempar toples itu, pasalnya, bukan kue yang ada di dalamnya, melainkan segerombolan kecoa yang jumlahnya mungkin selusin. Kecoa itu merayap-rayap keluar dari toples.
Leo bergidik ngeri, kecoa adalah hewan yang paling dia takuti, lebih tepatnya merasa jijik dan geli bila Leo melihat makhluk itu. Dia buru-buru berlari keluar kelas, lalu menstabilkan napasnya saat telah berada di depan pintu kelas. Leo menepuk-nepuk baju yang dikenakan, takut kalau-kalau ada seekor kecoa yang nempel.
Setelah pikirannya tenang, dan kembali jernih, Leo teringat pada sahabat 'kesayangan-nya' itu. "RAHMA!!" jeritannya membahana.
*****
Leo menyusuri setiap bilik toilet wanita, tak dipedulikan-nya tatapan sinis dan heran dari para cewek yang ada di sana. Yang terpenting, dia harus menemukan Rahma, tapi setelah menyusuri semua bilik, cewek tengil itu tak ditemukan. Leo semakin emosi dan kesal. Dia pun keluar, meninggalkan toilet khusus wanita.
Kebetulan di ambang pintu, dia berpapasan dengan Tyas. Gadis bertubuh mungil itu melotot kaget saat berpasan dengan Leo. Dia akan berbalik pergi, tapi Leo keburu mencengkram lengannya.
""Lo pasti tahu, kan di mana Rahma?" tanya Leo, sambil menghujani Tyas dengan tatapan sengit.
"D__dia ... di ruang UKS."
Leo mengernyit.
"T__tadi Rahma tiba-tiba pingsan, makanya dibawa ke ruang UKS."
Alis Leo semakin bertaut mendengar perkataan Tyas. Tanpa banyak kata, dia pun melangkah terburu-buru menuju tempat yang di maksud Tyas. Gadis mungil itu mengekor di belakang Leo.
Ruang UKS itu sepi, tak ada siapapun, Leo melangkah ke ranjang pasien, di sanalah Rahma terbaring, kedua matanya terpejam. Sedangkan Tyas memperhatikan dengan ekspresi gusar.
Leo menyilangkan tangannya di dada. "Gua tahu Lo pura-pura pingsan, sekarang bangun!"
Tak ada respon, Rahma tak bergeming.
"Woy bangun! Nggak usah pura-pura!" Kali ini Leo mengguncang-guncang tubuh Rahma.
Tyas semakin gusar.
"Rahma! Ayo buruan bangun!" Tubuh itu semakin keras diguncang.
Yang dipanggil masih diam. Sebenarnya Rahma memang pura-pura pingsan, ini dilakukan agar dia terhindar dari amukan Leo atas ke-jailan-nya. Rahma akan menutup mata sampai kapanpun, sampai Leo kecapean sekalipun.
Alis Leo semakin bertaut, hatinya mulai bertanya-tanya, 'apa cewek rese ini beneran pingsan?' tapi dia tak percaya begitu saja, tadi Rahma baik-baik saja dan segar-bugar, masa tiba-tiba pingsan?
Tyas yang berdiri di samping Leo semakin gusar kedua tangannya saling meremas.
"Lo beneran pingsan, ya?" Leo menunduk, wajahnya dan wajah Rahma berdekatan. "Apa gua harus nyium Lo dulu agar Lo bangun!" ujarnya sambil menyeringai.
Mendengar kata 'cium' membuat Rahma panik. Spontan dia membuka kedua matanya, dan mata bulat itu semakin membola karena terkejut mendapati wajahnya dan Leo sangat dekat.
"Apaan, sih! Minggir sana!" Rahma mendorong tubuh Leo agar menjauh. Lalu dia bangkit dan duduk.
Leo menyeringai, dia langsung menjewer telinga Rahma.
"Aaw, aww! Sakit!" Rahma merintih dan meringis.
"Gua gak peduli Lo kesakitan! Ini balasan karena Lo udah berani ngerjain gua pake bawa-bawa kecoa." Leo memelintir telinga Rahma, membuat gadis itu semakin merintih.
Membuat Tyas yang dari tadi hanya meonton ikut meringis sambil memegangi telinga kanannya.
"Salah Lo sendiri! Aw! Karena kemarin Lo ngerjain gua pake kodok. Aw! Sekarang gua bales Lo pake kecoa! Kita impas! Aw! Lepasin! Sakit, nih~" Rahma mulai merengek.
Leo membuang napas kasar. Dengan tidak rela dia melepaskan telinga Rahma. Gadis itu langsung mengelus-ngelus telinganya yang memerah dan masih nyut-nyutan.
"Ok. Kita impas, awas kalo Lo ngelakuin hal kayak gitu lagi!" Leo memperingatkan.
Rahma manyun. "Lo juga! Awas kalo Lo ngerjain gua lagi, gua bakalan bales!" Rahma mendelik.
"Iya, iya."
Tyas geleng-geleng sambil bersedekap melihat tingkah dua temannya itu.
*****
"Nyebelin banget, si Leo. Dia itu sering banget jailin gua, giliran gua bales, eh dianya ngamuk." Rahma mencak-mencak. Lalu menyeruput sirop yang tadi dipesannya. Saat ini dia dan Tyas tengah berada di kantin sekolah.
"Dia jatuh cinta kali, sama Lo," celetuk Tyas.
Rahma mengernyit. "Ngomong apaan, sih Lo?"
"Leo itu, kan sering banget ngerjain Lo, bisa jadi dia itu caper sama Lo."
"Hah! Nggak mungkin banget," ujar Rahma.
Tyas menggendigkan bahu. "Itu, sih hanya persepsi gua."
Rahma tercenung, tangannya sibuk mengaduk-ngaduk sirop. Dalam hati bertanya-tanya apa mungkin Leo jatuh cinta padanya. Memikirkan kemungkinan itu, entah kenapa hatinya jadi ser-seran.
*****
Rahma mematut dirinya di depan cermin, dia sudah siap dengan seragam sekolahnya, tinggal menguncir rambutnya ala ekor kuda.
Dia kembali memperhatikan penampilannya melalui cermin, 'kira-kira Leo bakalan suka gak ya dengan penampilannya seperti ini' Rahma bergumam dalam hati. Samar-samar dia teringat perkataan Leo dulu, kalau dia suka dengan cewek yang selalu menggerai rambutnya.
Rahma kembali melepas ikatan rambutnya, lalu menyisir kembali rambut panjang itu. Setelah dirasa rapih, dia tersenyum pada cermin. 'Eh, ngapain juga gua mikirin penampilan hanya untuk si Leo' Rahma menggeleng cepat, seolah-olah ingin mengenyahkan sang sahabat dari kepalanya. Dia buru-buru mengambil tas, dan pergi keluar dari kamar.
*****
Kalau dipikir-pikir, Leo itu ganteng juga. Rahma memperhatikan Leo sambil bertopang dagu, sang sahabat sedang serius bermain basket di lapangan indoor sekolah. Rahma duduk sendirian di bangku penonton. Sepasang matanya tak lepas dari sosok Leo yang dengan lincah bergerak kesana-kemari.
Bentuk tubuhnya yang proposional, dengan kulit sawo matang yang di banjiri keringat, membuat sosok itu seperti bercahaya. Rambut hitam pendeknya lepek karena keringat.
Rahma merasa sosok Leo saat ini, berkali lipat lebih mempesona dari biasanya. Entah kenapa tiba-tiba jantungnya dag-dig-dug tak karuan. Tubuhnya serasa ser-seran. Ada apa dengan dirinya? Apa ini karena perkataan Tyas kemarin?
Di saat sedang asyik memperhatikan, tiba-tiba sosok Leo mendongkak dan melihat ke arah Rahma, lalu dia nyengir dan mengedipkan sebelah matanya nakal.
Rahma salah tingkah dia buru-buru memalingkan muka. Wajahnya saat ini terasa memanas. Beberapa saat kemudian dia kembali melihat ke arah lapangan, Leo sudah kembali bermain, dan sedang menggiring bola.
*****
"Lo kenapa gak makan, malah bengong?" tanya Leo.
Pertanyaan itu sukses membuat Rahma tersadar dari acara bengong, dia baru sadar kalau dari tadi dia malah asyik memperhatikan cowok di depannya melahap mie rebus campur telur.
Tyas melirik ke arah Rahma. "Kalau Lo gak lapar, mie ayamnya buat gua aja," ucapnya, sambil nyengir.
"Enak aja!" Rahma mencebik, lalu melahap mie ayamnya. Sesekali dia melirik ke arah Leo yang kembali asyik dengan mie rebusnya.
Saat ini mereka bertiga sedang berada di kantin sekolah.
*****
Semakin hari pandangan Rahma terhadap Leo mulai berubah. Dulu dia merasa biasa aja saat melihat wajah Leo, tapi kini, melihat wajah itu, dari hari ke hari Rahma merasa kalau Leo bertambah ganteng. Belum lagi jantungnya yang selalu dag-dig-dug ribut bila berdekatan dengan Leo.
Rahma merasa ingin menghindar bila melihat Leo dan menjauh. Di lain sisi dia selalu ingin berdekatan dengan cowok itu, duh, jadi serba salah.
"Hei Tyas, Lo yakin kalau Leo jatuh cinta sama gua?" Tiba-tiba Rahma nyeletuk.
Tyas yang sedang asyik membaca, mengalihkan perhatiannya pada Rahma, alisnya bertaut. "Ya, gak tahu, lah," timpalnya.
"Waktu itu, kan Lo pernah bilang, kalau Leo jatuh cinta sama gua."
"Ah, gua gak pernah bilang kayak gitu, gua cuma bilang kali aja dia jatuh cinta sama Lo."
Rahma merenung. "Kira-kira dia beneran jatuh cinta gak ya sama gua?"
"Mana gua tahu, tanya aja sendiri."
"Ya elah, gak mungkin-lah gua nanya sama Leo. Malu, dong."
Tyas menutup buku yang di bacanya dan menatap Rahma lekat-lekat. "Lo, tiba-tiba penasaran dengan perasaan Leo sama Lo, ada apa, sih?"
"Ya gua cuma penasaran aja," jawab Rahma, dia menghindari tatapan intens dari temannya itu.
"Jujur aja sama gua, gua kan temen Lo."
Rahma tetap diam, dia menundukkan wajahnya.
"Jangan-jangan, Lo yang jatuh cinta sama Leo," ujar Rahma sembil melotot.
Rahma jadi salah tingkah, dia menunduk malu. "Entahlah, gua juga gak tahu, apakah gua jatuh cinta sama Leo, gua masih bingung dan belum yakin."
"Masa, sih Lo gak tahu perasaan sendiri? Yakinlah sama perasaan Lo sendiri."
Rahma terdiam, pikirannya bertanya-tanya apakah dia sudah jatuh cinta pada Leo?
*****
Setelah beberapa Minggu merenung dan bersemedi tiap malam sambil rebahan, Rahma akhirnya punya keberanian untuk mengakui kalau dia telah jatuh cinta pada Leo. Setelah curhat dan minta saran pada Tyas, Rahma memutuskan untuk mengatakan perasaannya pada Leo.
Tyas memberi saran kalau dia harus jujur pada Leo, gak perlu malu, katakan saja yang sebenarnya, siapa tahu Leo juga punya perasaan yang sama. Maka, setelah pulang sekolah nanti Rahma akan mengajak Leo ke taman kota dan mengakui perasannya di sana.
Sungguh suatu kebetulan yang tak terduga, belum juga Rahma mengajak Leo untuk pergi ke taman kota, cowok itu sudah mengajaknya duluan, katanya ada hal yang mau diomongin. Hati Rahma deg-degan tak karuan, jangan-jangan Leo mau ngungkapin perasaannya sama dia. Diam-diam Rahma tersenyum.
"Lo mau ngomong apaan?" tanya Rahma saat mereka sudah sampai di taman kota.
Leo tersenyum, lalu memegang kedua bahu Rahma, membuat gadis itu semakin deg-degan. Dia sudah memantapkan dalam hati kalau dia akan menjawab 'ya' saat Leo menyatakan perasaannya dan mengajaknya pacaran.
"Gua ... baru saja jadian sama Miranda, cewek terpintar di sekolah kita," ucap Leo sumuringah, dihiasi senyum lebar nan ceria.
"Hah?"
Selesai.